Teh campur lemon.

Jam di laptop aku menunjukkan pukul 3.11 dini hari. Hari ini hari Kamis tertanggal 8 Agustus 2019. Aku masih di tengah-tengah self-development project berjangka 3 bulan, aku gak tahu sih gimana hasilnya, aku mau lihat aja.

Detik ini aku gak bisa tidur. Banyak yang memenuhi hatiku. Sedikit yang bisa kupastikan. Ketidakpastian memang tidak menyenangkan, tapi seru. Entah.

Teh campur lemon, asal kau tahu saja, aku menulis ini bukan karena ada manfaat yang bisa kubagikan. Blog ini hanya semacam medium tempat kutumpahkan segala emosi yang begitu mengokupasi hati. Hatiku tak kuat menampung segala nano-nano tak jelas nan abstrak yang menguar. Mending kalau yang aku rasakan adalah perkara yang terang hulu-hilirnya, masalahnya, yang sering mengacaukan hati, adalah hal yang sebenarnya sudah khatam luar dalam, tapi masih kukejar dengan harapan lahir itu keajaiban. Silly!

Ada banyak hal yang aku cemaskan. Banyak yang aku rasakan. Aku sering mengatakan untuk cinta sama diri sendiri, nyatanya, omong kosong! Aku masih tak benar-benar mencintai aku yang sekarang. Aku masih sering membandingkan, masih merasa kurang. Ini bukan aku yang tidak menerima keadaan, memahami alur Tuhan, menyayangi diri sendiri. Bukan, sungguh bukan seperti itu. Aku hanya merasa belum mencapai versi maksimalku. Belum banyak berusaha. Belum sampai pada titik yang seharusnya. Ada banyak ukuran dan standar yang aku gariskan. Belasan kualitas yang harus kumiliki, hal yang harus aku raih. Aku yakin aku bisa mencapai finisku, hanya belum. Aku merasa tidak puas, masih banyak, banyak yang seharusnya bisa aku lakukan.

Kata orang, kita gak bisa membandingkan. Ada orang yang sudah paham di umur 16, sudah mencapai posisi tertentu di umur 22, punya ini punya itu di umur seperempat abad, bisa menikah di umur segini, punya anak di umur segitu, dewasa di umur 30, jadi pribadi yang bisa ini bisa itu di umur 35, banyak! Tenang katanya, kalem katanya!

Paham aku paham. Aku paham kalau kita haram membandingkan. Tapi bukankah sudah jamaknya manusia selalu merasa kurang? Bukankah normal buat mengeluh? Salah gak sih punya standar hidup sendiri. Salah gak sih aku punya hal-hal yang aku kejar. Ngapain sih aku harus jadi seperti yang kamu mau? Jokes receh itu, candaan yang samasekali gak lucu itu, caramu memperlakukan orang, I mean, aku gak peduli. Yakin, aku gak peduli. Aku gak peduli dengan segala tawa-tawamu itu. Gak lucu, gak mengena. Ampas.

Bisa gak sih kamu diem? Aku capek dengerin kamu. Bisa gak sih kita ngurusin hidup masing-masing. Bisa gak kamu peka: air mukaku yang 3 detik sebelumnya ketawa lalu tiba-tiba diam saat kau melempar candaan? Bisa gak kamu paham kalau aku gak suka dengan kalimat dan semua bait-bait norakmu itu. Sungguh, menyebalkan. Kau tahu, kadang, saat hatiku begitu keruh dan sumpek melihat sikapmu, sisi baikku selalu bermonolog, “Sabar ayak, mungkin, hanya itu usaha yang bisa mereka lakukan. Cuma itu yang bisa dia lakukan. Gak semua orang bisa memahamimu. Gak semua orang punya keharusan untuk mengerti mau dan ketidaksukaanmu.” Akhirnya, untuk hari itu, amarahku berhasil kuredam. Lalu suatu ketika, aku mendengarmu melempar lelucon itu (lagi), dan rasa-rasanya aku ingin keluar ruangan dan melukai diriku sendiri dengan menyumpalkan asap rokok ke paru-paru. Aku begitu tak suka hingga ingin melukai diriku sendiri. Kau yang menyebalkan tapi aku sendiri yang menghancurkan aku. Goblok.

Aku tahu aku jahat. Aku tahu aku gak ramah. Aku tahu aku gak suka direpotkan. Aku tahu aku gak suka berurusan dengan orang yang bagiku tak penting. Aku tahu aku menjaga jarak. Aku tahu aku suka berpura-pura tidak mendengar. Aku tahu aku sering menghindar. Aku tahu aku hanya menyapa orang yang aku suka. Aku tahu aku hanya ingin berkenalan dengan orang yang sungguh ingin aku ajak kenalan. Aku tahu aku hanya menanyakan kabar orang yang yang aku pedulikan. Aku tahu aku hanya mau mengirim pesan kepada orang yang aku cinta. Aku tahu aku bukan orang yang perhatian. Aku tahu aku sering senyum hanya demi menjaga perasaan. Aku tahu bahwa mostly, aku tak benar-benar peduli. Aku tahu aku hanya memikirkan orang yang aku sayang. Aku tahu aku hanya memikirkan orang yang menyayang aku. Aku tahu hatiku sungguh tidak baik, egois, dan aku gak bisa mengubahnya.

Aku banyak baca kisah hebat, sungguh mengharukan. Sesaat aku ingin menerapkannya pada kehidupanku. Tapi, setelah kujalani, ternyata capek jadi orang lain. Capek untuk pura-pura peduli. Aku memang egois: aku hanya ingin mengurusi orang yang aku anggap penting.

Aku suka bingung. Bingung dengan perasaanku sendiri. Terkadang, hatiku begitu kesepian hingga air mataku turun. Mandiri turunnya. Tanpa premise apa-apa tiba-tiba nangis elegan. Mungkin air mataku capek? Aku gak tahu.

Kadang, aku juga suka menari di tengah ruangan sendiri, saat hatiku bahagia dan bahagia itu begitu besar hingga rasanya ruang hatiku tak bisa mengakomodasi. Aku suka berangkat pagi dan pulang lebih awal. Orang yang ingin kuajak berkomunikasi dan berbicara hingga malam sedang sibuk, dan aku gak mau repot-repot memaksa. Aku tak ingin merepotkan. Aku juga gak mau membuat gak nyaman. Sama seperti aku yang gak suka ngomong sama orang yang gak aku suka, aku harus dewasa dan menerapkan hal yang sama. Sudahlah, kalau niat, pasti ada usaha. Sudah.

Lagipula, di keadaan yang mungkin membosankan, pun aku juga gak mau berlama-lama, ngapain? Bukan maksudku bersikap kasar, tapi ngapain?

Aku hanya tertarik dengan dua jenis percakapan saja: (1) dengan orang yang aku suka, (2), membahas topik yang aku suka. Kalau tidak, ngapain? Sekali lagi, aku samasekali tak membencimu atau bersikap kasar. Tapi toh kulakukan ini demi kebaikanku, dan kebaikanmu. Aku gak mau capek-capek menanggapi sesuatu yang tidak menarik, pun aku tak ingin kau membuang waktumu dengan aku: orang yang bahkan tak peduli dengan pilihan topikmu. Kau pantas mendapatkan orang yang jauh, jauh lebih pantas mendengarkan ceritamu dengan serius. Mungkin, bukan aku? Hm. Tolong mengerti, kasihan aku, kasihan kamu.

Teh campur lemon di mug putih mengenang wafat 1000 hari orang yang tak kukenal masih sepertiga. Detik ini pukul 4.25 dini hari.

Advertisements

Proyek ADB

Aku lihat kau cium juga itu pipinya. Begitu mesra, dan menggoda, dan tulus. Wanita yang kau cium, cuma menunduk cemberut. Bukan dia tak suka, hanya sebal. Aku mengamatimu sembari gemas menahan senyum. Aku, kapan?

 

Hahaha. Maaf-maaf, silakan dilanjut.

 

Tuhan, Marka, lalu Safir.

Aku sampai pada titik di mana hatiku begitu sakit saat merindumu, lalu kucari pertolongan dengan salat. Aku tak tahu bagaimana harus mencintaimu.

Kalau boleh memilih, tak akan sudi aku mencintamu, terlalu merepotkan. Pun jika kupaksakan, aku akan berbuat zalim, dan kita akan sedih masing-masing.

Aku sudah menganalisis puluhan kemungkinan, tapi berakhir lancut. Seperti maling, yang salah, walakin Tuhan mengizinkan lantas selamat. 

Terlepas dari kita yang melafalkan Allah dengan bunyi yang berbeda, yang satu, pun tetap satu-satunya, tetaplah Dia yang sama sehingga aku tenang.

 

Sehat-sehat. 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Marka kepada Safir. Bagian sisipan dari cerbum receh: Markaaa, Aku Padamu!

 

 

Sunny.

Suatu hari nanti, akan ada orang yang jatuh hati padamu, begitu saja.

 

Dulu, Im used to thinking kalau lau cinta sama orang, wajib hukumnya lau buat ngomong, harus dikejar, dan gak boleh asal nerima keadaan begitu saja. Kita gak bisa puas pasrah menyerahkan diri, leyeh-leyeh ngopi sambil berharap dia yang lau cinta bisa cinta sama lau. Creepy anjir.

Dulu, aku percaya bahwa cinta itu harus diusahakan. Pokoknya aku firm believer untuk hal-hal agresif kayak begitu! Percaya emansipasi garis keras! Percaya kalau cewek gak harus melulu nunggu. Percaya kalau cewek sometimes harus takes the lead. Percaya kalau cewek gak bisa lah puas diri nunggu ditembak orang atau pura-pura malu sambil kedip-kedip ngode. Kelamaan!

Kalau suka sama orang, ya ngomong. Merasa gak pantes, ya belajar, usaha ini itu, memperbaiki diri biar bisa sebanding. Kala kau sudah siap dan yakin, barulah kau ngomong kalau kau suka sama dia.

Aku gak masalah tuh nembak cowok duluan. Dulu, aku pernah suka sama lulusan pesantren, calon sarjana Ekonomi yang kebetulan sedang magang PPL di SMK-ku. Dan yakin, doi adalah cinta pertama yang goes way to the top. Gue yakin itu cinta pertama. Yakin. Ini bukan cinta abal-abal. Cinta monyet babi anjing naga semua shio aja lau sebut, gue tetep yakin! Cintaku sama ini mas-mas begitu radikal. Begitu dalam sampai ke akar-akar.  Semua yang dia lakukan indah. Diamnya menyejukkan. Kata-kata yang keluar dari mulutnya serupa serial drama marathon, yang hakikatnya gak penting, tapi candu!

Sehingga, sebagai seorang pecinta yang aduhai profesional. Tentu aku harus jemput bola. Kelamaan kalau nunggu dia tbtb saranghae sama aku. Yang aku lupa, kesenjangan di antara kita ternyata begitu kentara. Aku, tahun 2012, masih duduk di kelas 3 SMK, masa-masa sebelum ujian nasional, masih alay, gobs paten, gak tahu diri, clumsy, dan emo! Wkwkwk

Sedangkan mas-mas ini. Dia sudah di semester 8 pendidikan ekonomi UNY, sedang mengerjakan skripsinya, kelahiran 89, hamba Tuhan yang kayaknya taat, dan dewasa. Uhuk.

Melihat kondisi ini, tentu saja aku gamang. Mau diperjuangkan sampai planet pluto yang dulu pernah ada di buku IPA SMP kelas 2, hingga sekarang entah kemana tiada kabarnya, dia gak akan lah cinta sama anak SMK alay kayak gw!

Tapi dasar benar pujangga berkata, cinta itu buta. Maka butalah saya. Wkwk

But I didn’t regret it, tho. Yaelah, hidup cuma sekali. Kita gak pernah tahu juga rencana Tuhan seperti apa. Kalau anjing yang dikabarkan sampai kiamat musuhan sama kucing pun bisa temenan, kenapa aku enggak? Bisa jadian sama dia ya, bukan temenan sama anjing -_-

Jadi, berangkatlah saya mengejar cinta.

Tebak, apa hal pertama kali yang aku lakukan, gais?

Minta nomornya!

Hahahahahahahaklisebangetanjinghahahahaha

Dan begitulah semua mengalir, basa-basi itu, nanya kabar lagi di mana udah makan apa belum itu, pura-pura gak tahu materi ekonomi lantas sok-sok-an nanya itu. Semuanya lah udah gue lakuin.

Aku gak tahu sih, apakah anak SMA/SMK jaman jigeum juga merasakan hal yang sama. Tapi FYI aja, dahulu, di masa itu, bisa SMS-an sama anak-anak kuliah yang magang di SMK adalah prestasi yang WAH. Sebuah pencapaian yang seakan-akan mengatakan “Gils, keren banget bisa SMS-an sama Mas in…Mas itu….” Pokoknya mantul lah reputasi lau kalau udah bisa begitu.

Contoh kasusnya, suatu ketika, pernah, saat aku lagi sepedaan pulang sekolah, satu temen se-sekolah yang beda jurusan, menyamai kayuhan sepedaku sambil chat-chit dikit lantas bertanya “Eh Aya, kamu SMS-an ya sama Mas X?” Mau bilang “Yaiyalah, Aya!” takut dikira congkak. Jadilah aku hanya berucap “Iya.” sambil menahan hati yang ber-flower-flower overdosis pupuk kandang. Pokoknya heboh sih kalau temen lau tahu, lau bisa SMS-an sama anak magang. Heboh lagi karena GUE EMANG SUKA BANGET SAMA ITU MAS-MAS!

Padahal tahun 2012, kita cuma berhubungan via SMS. SMS doang! Gak main IG, gak kode-kode-an status WA, gak manja-manjaan di Skype segala macem. Enggak! Dulu aku gak main begituan, cuma SMS doang. Itupun bisa lama karena aku mengandalkan bonusan operator yang kalau pulsamu di bawah 5k, maka lau bakal dapet bonus 50 SMS setelah kirim dua SMS, dan kalau kau kebetulan agak kaya dan bisa ngisi pulsa 10k, kau bisa dapet gratis 100 SMS pascakirim 2 SMS. Bisa greget gitu zaman dahulu. Serba susah, itulah sebab semua hal-hal kecil diapresiasi.

Ngomong-ngomong, itu baru ngomongin nggodain orang via SMS, lau mungkin gak bisa bayangin betapa jantungku berhenti berdetak saat HP ku berbunyi DAN ADA NAMANYA NEMPEL DI LAYAAAR! WAAAAAAAAAAAAA BUBAR AJA BUBAR !

Aku gak tahu sih apakah zaman dahulu, saat kau jatuh cinta dan dapet telepon dari orang yang kau kasihi, jantungmu akan begitu keras tersundul atau enggak. Kalau gue sih iya. Mau mati aja rasanya. Anjir deg-deg-an anjir.

Lalu kita begitu. Nelponan-nelponan malam-malam, masih dengan alasan klasikku, nanya materi mapel ekonomi. Padahal mah cuma pengen bacot sama dia, pengen denger suaranya, sambil berharap tumbuh itu lahan pertanian berbuah cinta di hatinya. Bodo amat anjir gue gak peduli segala rayuan-rayuan receh dan isi otak gue, gue aduk olah sedemikian rupa agar dia bisa tergoyahkan imannya lalu pacaran sama gue!

Aku masih ingat. Masih sangat-sangat ingat, satu rayuan monumental yang keluar begitu saja saat SMS-an sama dia.

 

Gw: Eh Mas, lagi sibuk?

Him: Enggak dek (anjay dipanggil dek, trauma sekarang dipanggil dek). Ada apa?

Gw: Mau tanya, boleh?

Him: Iya, boleh. Nanya apa?

Gw: Mas kan lulusan pesantren, ya? Bisa dong ngubah bahasa Indonesia ke Arab?

Him: Insyaallah bisa dek. Kata-katanya apa?

Gw: Gini:

Aku mencintaimu karena kesederhanaanmu. Aku tertarik padamu karena kedekatanmu dengan Allah. 🙂

ANJIR GELI BANGET ANJIR. BERASA PENGEN BUNUH AJA ITU AYAK GOBS ALAY!!!

Him: Oh, gini, dek:

Ana uhibukkaxxxxxx. Xxxxxxxx. Uhibukkaxxxxx. Xxxxxx.(lupa kan gw bahasa Arabnya apa)

Gw: Oh, makasih ya, Mas. 🙂

Him: Emang buat siapa, dek?

Gw: Buat Mas.

ANJAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAY. DI TITIK INI GUE PENGEN LONCAT DARI RUMAH TAPI RUMAH GUE CUMA SATU LANTAI! GILS GILS GILS. POKOKNYA YOLO GILS. JANTUNG GUE YA ALLAH, JANTUNG GUE YANG NUNGGU ITU SMS BALESAN. JANTUNG GUE MAU COPOT YA RABB! KALIAAAN GAK TAHU. KALIAAAN MUNGKIN GAK TAHU GIMANA GREGETANNYA NUNGGU SMS DARI ORANG YANG BARU AJA LO TEMBAK! ALLAHU AKBAR! YA ALLAAH HATI HAMBAAAAAAAA.

Him: Buat aku? Kok bisa?

Gw: Iya.

Him: Maksud aku kenapa bisa cinta sama aku? Sejak kapan? Kok bisa sih, dek?

Gw: Kenapa? Emang cinta harus beralasan?

 

fvck.

Lalu seperti itulah. Jadilah gw nembak doi via SMS. Cupu banget. Tapi bodo amat. Lagian otak anak kelas 3 SMK sejauh mana sih bisa berpikir? Yang jelas gw udah nembak dia, dan komunikasi kita berjalan dengan lebih berbau romantis semenjak saat itu. Gw mulai intens nunggu SMS-nya, nunggu telponnya, dia yang nelpon di waktu shubuh buat ngingetin buat shalat saat gue sendiri masih ngiler padahal doi udah ngelepas sendal di depan masjid. Asik.

Hingga suatu ketika, saat gue masih alay dengan SMS-Telpon cinta-cintaan anjir itu, dia nanya satu hal yang kemudian menjadi titik balik seluruh perasaanku. Katanya:

“Emang apa yang kamu harapin? Pacaran? Aku gak kayak gitu, dek. Aku lebih milih nikah. Ketemu keluarga, dan segala macamnya. Taaruf.”

Saat itulah, gue sadar kalau gue belum siap. Gue belum siap menikah. Masih mau zina (syit). Belum siap berkomitmen. Belum siap. Takut. Gue masih kelas 3 SMK. Ada banyak ambisi yang harus gw kejar. Dan gue gak bisa mengikat diri dengan manusia yang sedewasa itu. Dan it was such a hard falling!

Setelah itu, hubungan kita gak lebih dari adek-kakak. Gue juga belum sempet nembak dia langsung, karena di Senin pagi saat gw mau ngomong di depan dia, dia kecelakaan. Matanya luka. Jadilah aku datang menjenguk dan tak ngomongin cinta sama-sekali.

Yang jelas, saat itu aku puas, aku puas sudah berusaha untuk menunjukkan rasa cintaku, jujur sama perasaanku, dan ternyata, dari pengalaman itu, aku sadar kalau aku belum siap. Aku sih gak apa. Hubungan kita masih baik-baik saja. Walau gw paham, dia cuman nganggep aku adek. But it’s Ok. Gue banyak belajar. Gw banyak sadar, kalau gw belum siap. Dan patah-patah itu indah. Indah karena left some message sehingga aku sadar mana yang memang tidak dijodohkan mana yang iya. Aku puas karena aku tak harus menyesal belum pernah terucap itu sayang. Dan gue gak menyesal pernah sayang, pernah alay, pernah bertengkar gegara masalah sepele, semuanya tetep indah kalau dikenang (anjay~).

Mungkin cinta emang begitu, seperti beramal. Dikasih begitu aja. Tanpa ada pamrih, tanpa berharap dia akan sama cintanya sama kita, berharap orang yang kita cinta AKAN MEMBALAS perasaan kita. No.

ENGGAK. Gak bisa seperti itu, gak bisa selalu berakhir seperti itu. Cinta itu harus ikhlas, diberikan begitu saja, tanpa memaksa untuk balik dicintai, tanpa harus membebankan orang lain untuk mencintai. 

Gak usahlah mikir malu, beda agama, takut ditolak, gak sederajat, hadeh, ribet! Kalau cinta mah, cinta aja.

Di sisi lain, suatu masa, aku juga menolak cinta, bukan karena usaha mereka gak keras, bukan karena mereka gak baik, simply hanya karena aku gak cinta sama mereka. Usaha mereka keren, tapi aku gak tersentuh. Mereka baik, tapi aku gak tertarik. Saat itu, aku lantas kembali mengingat, tentang cinta orang yang mencintaku lalu kutolak, dan aku yang mencintai orang tapi bertepuk sebelah tangan. Aku jadi sadar, bahwa sekeras apapun usahaku, seheboh apapun basa-basi alay yang gw lakuin. Kalau dasarnya dia gak cinta sama aku, ya udah, gak akan jadi. Bukan karena usahaku gak keras. Bukan karena aku gak cukup memperlihatkan sisiku yang baik. Bukan karena aku lekas menyerah. Tapi karena DIA YANG EMANG GAK CINTA SAMA AKU. Dan itu gak apa. Gak apa. Gak apa sama-sekali.

Karena gue sadar, sama seperti aku yang cinta sama mas-mas UNY ini dengan begitu saja. Ada saatnya, kita akan jatuh kepada seseorang, begitu saja.

Yang dia gak berusaha, yang dia diem aja, yang kata-katanya gak penting, yang dia gak ngapa-ngapain, yang biasa aja tapi kita bisa cinta. Se-begitu saja. Semudah itu.

Sama kayak aku yang sebegitu saja cinta sama dia dan mereka yang sebegitu saja cinta sama aku. Untung-untung kalau kita beruntung: orang yang lau cinta, juga ternyata punya rasa yang sama, atau itu cinta tumbuh pelan-pelan sebab usaha-usaha yang kita lakukan, rayuan, SMS-TELPON, keseriusan, keselalu-adaan, senyum, keikhlasan, ketulusan, kebetulan yang mahaasik, kan kita gak pernah tahu.

Itulah sebab aku masih percaya kalau cinta, OMONGIN aja. Masalah ditolak paling cuma perkara malu beberapa hari. Kalau tengsin sekantor yaudah resign. Kalau sekampung yaudah migrasi. Kalau bisa dewasa dan move on, yaudah, bagus!

Tapi yang inti adalah, kita harus berani mengakui perasaan sebelum semuanya sulit. Omongin aja dulu, siapa tahu dia juga diam-diam sebegitu saja mencintamu tapi lo gak tahu, kan lo gak pernah nanya?

Pun kalau kau ditolak dan patah hati, ingat saja, suatu hari nanti, akan ada orang yang jatuh hati padamu, dengan begitu saja.

 

 

 

 

 

Ditulis saat sedang jengah seharian ngurus terjemahan, dan tbtb tersentuh sama lagunya Simple Plan-Perfectly Perfect yang kebetulan terputarkan, begitu saja.

I prepare for the worst, always.

//Audio Blog//

I prepare for the worst, always.

Kadang, manusia itu terlalu take it for granted. Terlalu nyaman dengan keadaan. Terlalu gak sadar diri.

Aku, contohnya. 

Kadang kita baru bener-bener bisa mikir kalau udah kejepit aja. Saat dunia lagi remuk. Saat gak ada yang bisa diandalkan. Saat “Ya Allah, aku harus bagaimana?” terucap. Saat semua temen tetiba jadi orang yang paling jahat. Saat semua yang bisa lo percaya, mendadak lenyap. Saat template hidup baik-baik saja ternyata tak sebaik itu. Saat itu. Udah deh, bubar!

Maka ya, pada akhir hari, semuanya akan kembali lagi ke diri sendiri.  Ke semua yang dipunyai diri. Ke aku sendiri. Bukan dukungan teman. Bukan senyum-senyum formalitas. Bukan mereka yang bilang “Sabar, ya.” Bukan orang yang lo sayang yang lo harap bakal kasih manis manis gula Jawa. Bukan. Bukan. Bukan.

Ini bukan tentang aku yang gak menghargai semua orang yang berani invest ke hidup aku. Ini bukan perihal aku yang gak bersykur punya temen yang perhatian. Aku hanya menyadari. Gak peduli semua sapa santun default dan glitter itu, pun semua akan tetap hilang saat kita udah bilang “Gue pulang dulu, ya.” lalu kita masuk ke kamar, terlentang menatap atap kamar, nanar.

Kecuali pihak-pihak yang entah setia atau terlalu goblok, yang masih mau sama aku, yang tetap menghubungi, atau datang ke rumah, yang gak bisa aku usir, hanya buat tanya “Ada apa, sih, yak?” Aku pernah punya orang-orang kayak gitu. Gue gak tau lagi sih, mereka itu temen macam apa. 

Karena ya, gitu. Capek aku njelasinnya. Yang jelas aku lagi males ngomong. Hancur hati. Pengen nangis. Dan mau tenggelam, saja!
Karena ya, gitu. Saat elu sadar elu goblok, dan elu malu, merasa jadi manusia yang gak bisa take control, goblok, anjing, dan sial karena kepecundanganmu, maka hasilnya udah bisa ditebak, aku hanya bisa menyalahkan aku, mana bisa aku taklif menyalahkan orang lain? Shit!

Saat semuanya hiruk hancur lantah tak beraturan. Saat elu sadar elu yang jadi pusaran dari semua penyesalan, saat mau ngomel pun terlanjur sia-sia, saat itu lah elu sadar, kita sadar, oh, mungkin, in this case, aku sadar, kalau hanya aku dan aku sendiri saja yang bisa aku ajak ngomong. Gue ajak nyari penyelesaian atas semua shitty things yang terjadi. Aku yang harus ngurusin, get a hold of my myself, sadar diri.

Pada akhirnya, toh kita akan kembali bertahan dengan segala resources dan kemampuan apa-adanya-kita. Kembali dengan apa yang kita punya aja. Mikir ke depannya mau ngapain. Mikir ke depannya bisa makan apa enggak. Mikir ke depannya mau tinggal di mana. Lalu start the whole brand new world. Emang kayak gitu. Gue terlalu mudah menyerah dan terlalu optimis dengan brand new thing shit!

I prepare for the worst, always.
Saat jatuh, dalam. Saat itulah kadang kita baru nggeh. Baru sadar kalau kita bego. Goblok. Terlalu oke in aja ajakan orang. Terlalu kuy lah. Terlalu manut enaknya gimana. Gak ada pegangan. Gak ada keyakinan. Sebenci-bencinya aku sama karakter manusia. Aku paling benci sama manusia yang gak bisa menentukan sikap. Yang gak tahu mau kanan apa kiri. Mau santai atau ngebut. Mau hitam atau putih. Aku benci aku.

Aku benci aku yang gak bisa menentukan sifat, sikap. Aku benci aku yang gak punya pendirian. Aku benci aku yang bilang “Iya.” hanya demi menjaga hati mereka dari luka. And it ended up me being hurt, again, fool!

Aku benci aku yang menyesali sikapku. Aku benci segala ketidakpastian yang tidak aku pastikan. Arsiran yang tidak aku tegaskan. Hal benar yang tidak aku perjuangkan. Penyesalan yang tidak bisa aku tolak. Aku pengen pulang!

I Give it to God, and Go to Sleep.

//Audio Blog//

 

Tertekan/

Kata orang, aku sedang jatuh cinta.

Kata bunda, aku harus hati-hati.

Kata koran, aku bisa diperkosa.

Entah karena asmara, lalu melecehkan norma,

Entah aku yang berbahaya, kurang tegas jadi wanita.

 

Aku merenung lantas berdoa.

Semoga aku dilindungi.

Dari bisikan setan yang mengatakan, “Sudah, kejar.”

Atau kebakaran hati yang meraung-raung ingin dipertemukan.

 

Kata orang, aku sedang tidak stabil.

Aku buta, katanya.

Entah karena tak mengenal tapi mengikat.

Entah karena dungu, memilih begitu.

Serupa khamr yang dosa, menumpulkan logika.

Bagai aku yang sepertinya mencintamu namun diminta waspada.

Entah, apa yang harus diresahkan dari hati yang merasa?

 

Hatiku kaku di persimpangan.

Membeku perih, diminta bertahan.

Ingin memeluk tapi dihalang-halang.

Pilu!

 

Katakan, aku bisa apa jadi pecinta?

 

 

Rokok/

Aku suka memandangmu saat kau melamun.

Kau seksi.

Entah, jarang sekali aku menyebut manusia seksi.

Benar kiranya Tuhan meminta, “Jaga itu pandangan.”

Adalah kadar mauku yang tidak sekadarnya.

Adalah musebab otakku penuh hal nakal.

 

Aku suka melihatmu terdiam.

Nampak kesepian namun bukan.

Kau hanya memuja ketenangan.

Dengan aku yang tak apa membunuh waktu.

Membunuh kewarasanku.

Asal bersamamu.

 

Aku suka mengamatimu saat kau berjalan.

Saat kau butuh waktu luang, dan keluar.

Saat kau melangkah lalu tetiba berhenti.

Yang kembali saat kau kelupaan.

Yang bingung saat ada yang hilang.

Yang kau canggung, lalu lucu.

Yang bagaikan paket komplit.

Ditolak gak mungkin.

Dikejar sulit.

Kau menyebalkan.

Begitu menggemaskan!

 

Aku suka menatapmu merokok.

Saat kau menyulutkan api kepada ujung yang penyakitan.

Yang menyala lalu kau hisap.

Yang kepalamu menengadah ke atas.

Lalu asap mengepul tinggi.

Lalu kau kelihatan ranum.

Dadaku sesak melihatmu begitu.

Aku jadi ingin mencium-mu.

 

 

Rencana/

Katamu kau suka sendiri.

Menonton film yang sudah kau kotak-kotakan.

Atau bermain dengan kucing liar yang kau selamatkan.

Aku sedih, aku kesepian.

 

Katamu kau mau menapak Roma bersamaku.

Kala itu aku memaksa, dengan senyum berlebihan.

Harapanku juga berlebih.

Kau mengiyakan walau aku melihat ragu.

 

Belum lepas sebulan, kembali ku konfirmasi.

“Masih niat main ke Roma?”

Kau bilang, “Maaf tidak, aku ada hajatan.”

Ku tempel tawa di bibir, getir di hati.

Matamu tak pernah berbohong.

Dan hatiku tak pernah berdusta.

Maaf, aku cuma cinta, harusnya tak memaksa.

 

 

 Loggia/

Tiap matahari datang dan embun wafat, menguap.

Aku tersenyum, beralasakan harap.

Aku bersyukur.

Hatiku selamat, bebas sekarat.

 

Tiap temanku sibuk, mengantri atensi.

Aku resah, apa kau sudah makan?

Kau terpaku pada pekerjaan.

Dengan sesekali bersosialisasi.

Waktu aku bilang, sesekali, itu adalah ungkapan denotasi.

Karna basa-basimu tak bertahan lama.

Kau memilih berpusar ke cangkangmu.

Dan sibuk mengurusi negara.

Dengan aku yang sibuk mengurusmu, dalam metafora dan sendu-sendu udara.

 

Tiap aku keluar dan menikmati panas yang suam-suam.

Aku lihat kau makan.

Hah. Betapa-ini-merepotkan-Tuhan? 

 

Lalu aku bermain peran. Drama.

Apapun asal tujuanku tercapai.

Jahat, kah? Aku sih bilang ini berjuang.

 

Kita berbincang hingga terang tak kelihatan.

Malam.

Dan kau pamit, pulang.

Katamu, “Badanku tak kuat.”

Kau tak mampu melawan alam.

Aku tak mampu memaksakan niatan.

Lalu aku sok mengusirmu.

Bilang, “Mamamu mencarimu, segera lah pulang.”

Kau lantas bilang.

Baik. “Kau juga, segera lah.”

Aku hanya bilang, tenang.

Lalu kau benar-benar berkemas, hilang.

 

Tentu saja aku jadi sendirian.

Duduk, memandang langit.

Angin di luar melewatiku sambil mencemooh.

“Kau, pecundang.”

 

Aku hanya tertawa.

 

 

Tuhan/

Lalu aku mulai berbincang tentang Tuhan.

Topik yang religius? Jelas.

Tentang kawanku yang terkadang nyeletuk, “Elu yakin?”

Yang aku hanya bilang, “Lihat nanti aja gimana.” 

Tak lupa dipungkasi dengan tawa.

Biar keliahatan tegar.

Bakoh.

Padahal njero ati koyo sapu jiting tanpo tali,

Ambyar!

Wkwk.

 

Bismillahirrahmanirrahim

Kalau di-Indonesia-kan, “Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang.”

Ini kalimat mahaelok.

Sering disebut setiap memulai suatu kebaikan.

Aku pun suka menyebut ini saat berdoa.

Karena mendoakanmu, untukku, adalah bagian dari kebaikan.

Terkadang, semesta seakan mengingatkan, “Mimpimu itu, gak mungkin kejadian.” 

Aku, sebagai manusia seperti kebanyakan, tentu aku baper.

Lalu aku mengadu pada Tuhanku.

Lalu aku berdoa.

Meminta pada Yang Punya.

Meminta pada Yang Kuasa.

Meminta pada Yang Memampukan.

Menulikan diri atas dunia dan semua asumsinya.

Menyerahkan harapku pada Tuhan.

Lalu tidur.

 

 

 

 

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ

“Dan Tuhanmu berfirman, “Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu..” (QS Al-Mu’min: 60).
(لاَ يَرُدُّ الْقَضَاءَ إِلاَّ الدُّعَاءُ، وَلاَ يُزِيْدُ فِى الْعُمْرِ إِلاَّ الْبِرُّ) -الترمذي-

“Tidak ada yang mampu menolak takdir Allah kecuali doa, dan tidaklah menambah usia kecuali kebaikan”. (HR. Tirmidzi)