seleksi alam

serius, kamu tidak akan bisa menahan orang yang memang tidak ingin tinggal.

lepaskan, ada kamu yang harus kamu sayangi.

sehat-sehat

tuhanku yang maha baik, pagi ini jakarta mendung, desember tampaknya gemar begitu. berdasarkan pengalaman, kurasa desember adalah komedi, aku selalu punya alasan untuk bersedih.

tuhanku yang maha baik, kau tahu benar aku tak meminta, kau pun yang memberi, sehingga jika ini percuma, maka tolong bunuh saja: aku tak mau repot dan menderita.

tuhanku yang maha baik, aku sangat ketakutan. beberapa hari ini pikiranku sama sekali kabut. aku ingin menangis, hanya tidak memungkinkan.

 

tuhan, aku yakin aku punya masalah dengan desember, aku banyak berdoa.

 

hujan di bulan desember

Padahal masih November.

 

Jakarta belakangan ini hujan, aku belakangan ini masuk ke tahap asimiliasi: tahapnya orang yang sedang menimbang-nimbang. Memperhitungkan baik-buruk, manfaat, atau potensi malu. 

Secara teknis, tidak mungkin. Tapi jika diperbolehkan menghayal, untung-untung disokong izin Tuhan, maka semuanya bisa berbalik. 

Orang tuaku, kasusnya sama sepertiku, tapi bapak ibuk enak: Tuhan kasih izinNya, kasih acc-Nya, sedangkan aku, hahaha, aku gak tahu prospek masa depanku.

Perihal ini menjelma menjadi isu yang kompleks saat banyak faktor yang disangkutkan: aku, prinsipku, perasaanku, perasaan orang lain, serta that specific hope yang technically gak mungkin kejadian. 

But in case, in case aja nih, beneran bisa kejadian: hm, I am deadly lucky. 

Tapi, tak usah lah berhayal jauh-jauh, aku sendiri saja masih belum bener. Aku masih belum lepas, masih banyak hal yang mengotori hati, banyak kondisi yang membuat aku sama sekali tidak percaya dengan aku. Aku tak pantas berbicara tentang visi yang jauh, yang dekat saja masih belum diurus. 

Sehabis salat, setelah doa selamat dunia-akhirat, doa ibu-bapak, dan keluargaku, aku mendoakan diriku sendiri, dan keinginan-keinginan agak maksa yang semoga saja Tuhan bosan, kasihan, lalu dikabulkan :p. Habis, mau bagaimana lagi, cuma dengan Tuhan aku merasa aman menjadi lemah. Mau baper sama orang tua, gengsi. Sama adek-adek, apalagi. Sama temen, hahahahahaahahaha, gak semua orang semengerti itu. Jadi ya, biar Tuhan saja, cuma Tuhan pun. 

Ibuku selalu bilang: aku ingin mengimbangimu. 

I do hold onto that. Think she is badass and I adore her, in secret. Aku ingin bisa menjadi manusia yang mengimbangi, not striving to please all, but one who really matters. Dan saat aku melihat diriku yang sekarang, ini jelas bukan aku yang ada di mimpiku: aku harus cinta sama diri sendiri dulu, baru bisa ngomongin orang lain. 

 

So, my dear blog, here I write down my current state on November, 18th 2019:

  1. Not feeling content with myself.
  2. Sudah bilang sama ibu kos kalau mau pindah, tapi belum nemu yang baru. 
  3. Engaged in jobs? Hahahahahahahahahaha
  4. Drawing that distance for what seems like a pie in the sky: no hate, no ill-feeling, I’m just attempting to figure out whether this is indeed true or merely momentary attraction. 
  5. Do not invest enough in knowledge and self-development. 
  6. Messy financial investment.
  7. Sweat shit remains delusional.
  8. Big dream in 2020: Borobudur Project. 

 

Hm, ain’t got a clue, i’m fine.

79001da3-bc54-4679-9bd0-e4f579fc65f6
Halte Bis Transjakarta Rawa Barat. 

tuhan, marka, lalu safir.

Aku sampai pada titik di mana hatiku begitu sakit saat merindumu, lalu kucari pertolongan dengan salat. Aku tak tahu bagaimana harus mencintaimu.

Kalau boleh memilih, tak akan sudi aku mencintamu, terlalu merepotkan. Pun jika kupaksakan, aku akan berbuat zalim, dan kita akan sedih masing-masing.

Aku sudah menganalisis puluhan kemungkinan, tapi berakhir lancut. Seperti maling, yang salah, walakin Tuhan mengizinkan lantas selamat. 

Terlepas dari kita yang melafalkan Allah dengan bunyi yang berbeda, yang satu, pun tetap satu-satunya, tetaplah Dia yang sama sehingga aku tenang.

 

Sehat-sehat. 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Marka kepada Safir. Bagian sisipan dari cerbum receh: Markaaa, Aku Padamu!

 

 

sunny

20181118_192450

 

Suatu hari nanti, akan ada orang yang jatuh hati padamu, begitu saja.

i used to think kalau cinta sama orang, wajib hukumnya buat diungkapkan. kita gak boleh cuma pasrah nerima keadaan dan berharap doi tbtb cinta sama kamu. hm, bangun, kamu kebanyakan bego

aku percaya cinta harus diusahakan. percaya kalau we have to take that fricking lead. percaya bahwa kalau cinta, ya harus divokalkan, supaya keduanya sama-sama tahu, sama-sama tak ada beban (atau malah bikin beban?) wkwk

kalau suka: ngomong. ngerasa gak pantes, yaudah perbaiki diri, mau ngapain lagi njir? yakale lo ngerasa gak pantes trus diem aja, tak usahlah repot-repot ngomongin cinta kalau memperbaiki diri aja kamu gak mau. halu

gw gak masalah bilang cinta. dahulu pernah suka sama mas-mas lulusan pondok pesantren, calon sarjana ekonomi yang kebetulan magang ppl di smk. dan lord, dengan seluruh kebesaran hati, bisa dengan bangga saya akui: dia adalah cinta pertama!

cintaku sama mas-mas ini begitu radikal. begitu dalam sampai ke akar-akar. semua yang dia lakukan indah. diamnya menyejukkan. kata-kata yang keluar dari mulutnya serupa serial drama maraton, yang sejatinya sungguh tidak penting, tapi candu!

sehingga, sebagai seorang pecinta yang profesional. tentu aku harus jemput bola. kelamaan kalau nunggu dia tbtb saranghae sama aku. yang aku lupa, kesenjangan di antara kita begitu kentara. saat itu aku baru duduk di kelas 3 smk, masa-masa sebelum ujian nasional, yang akunya masih alay, gobs, gak tahu diri, clumsy, dan emo! wkwkwk

sedangkan mas-mas ini. dia sudah di semester 8 pendidikan ekonomi uny, sedang mengerjakan skripsinya, kelahiran 89, dan hamba tuhan yang nampaknya dewasa taat

melihat kondisi ini, tentu saja aku gamang. mau diperjuangkan bagaimanapun, sulit kiranya membayangkan dia bisa cinta sama anak alay kayak aku 😥

tapi dasar benar pujangga berkata: cinta itu buta. maka butalah saya. huahahahaha

you know, i never regret one damn thing. yaelah, hidup cuma sekali. kita gak pernah tahu  rencana tuhan seperti apa. kalau anjing yang konon katanya akan selalu bermusuhan pun bisa temenan, kenapa gw enggak? (bisa jadian sama dia ya, bukan temenan sama anjing) -_-

lantas, berangkatlah saya mengejar cinta

tebak, apa hal pertama kali yang aku lakukan, gais?

minta nomornya!

Hahahahahahahaklisebangetanjinghahahahaha

dan begitulah semua mengalir, basa-basi itu, nanya kabar lagi di mana udah makan apa belum itu, pura-pura gak tahu materi ekonomi lantas sok-sok-an nanya itu.

gw gak tahu apakah anak sma/smk zaman jigeum juga merasakan hal yang sama. tapi fyi, dahulu, bisa sms-an sama anak kuliah yang magang di smk adalah prestasi yang wah. sebuah pencapaian yang seakan mengatakan “gils, keren banget bisa sms-an sama mas ini…mas itu…”

contoh kasusnya, saat aku lagi sepedaan pulang sekolah, satu temen satu sekolah yang beda jurusan tbtb menyamai kayuhan sepedaku, chit-chit sebentar lalu bilang: “eh aya, kamu sms-an sama mas x, ya?”

pengen ilang “yaiyalah, gw!” takut dilabel sombong, sehingga cuma terlontar “iya” penuh ketidakacuhan sambil menahan hati yang jingkrak-jingkrak gak karuan

padahal tahun 2012, kita cuma berhubungan via sms. sms doang! gak main ig, gak kode-kode via status whatsapp, gak manja-manjaan di skype segala macem. segalanya hanya mengandalkan sms. itupun bisa telaten gegara bonusan operator yang kalau pulsamu di bawah 5k, dapet gratisan 50 sms setelah kirim dua sms, dan jika kebetulan agak kaya dan bisa ngisi pulsa 10k, dapet gratis 100 sms pascakirim 2 sms. bisa greget gitu sih. mungkin karena saat itu apa-apa serba susah, itulah sebab segala hal kecil benar-benar diapresiasi.

ngomong-ngomong, itu baru ngomongin nggodain orang via sms, kau mungkin gak bisa membayangkan betapa jantung berhenti berdetak saat hp-mu berbunyi dan ADA NAMANYA NEMPEL DI LAYAAAR! WUUAAAAAAAA BUBAR AJA BUBAR!

 

elu juga gitu gak sih? saat lu jatuh sama orang, maka apa pun yang dia lakukan membuat hatimu tbtb terasa kayak ditusuk (njir analogi gw), pokokknya, hatimu macam tersundul tapi kamu bahagia, kadang begitu keras hingga susah nafas? huh, jangan-jangan gw doang. gw jarang jatuh cinta, sekalinya iya, so deep bebi. sedih 😥

 

lalu kita begitu. nelpon malam-malam, masih dengan alasan klasique: nanya materi pelajaran ekonomi. padahal mah cuma pengen ngebacot sama dia, padahal cuma pengen denger suaranya

masih ingat. masih sangat-sangat ingat, satu rayuan monumental kala ikhtiar making him mine:

 

gw: eh mas, lagi sibuk?

him: enggak dek (anjay dipanggil dek, trauma sekarang dipanggil dek). ada apa?

gw: mau tanya, boleh?

him: iya, boleh. nanya apa?

gw: mas kan lulusan pesantren? bisa dong ngubah bahasa indonesia ke arab?

him: insyaallah bisa. kata-katanya apa?

gw: gini:

aku mencintaimu karena kesederhanaanmu. aku tertarik padamu karena kedekatanmu dengan Allah. 🙂

GELI BANGET ANJIR. BERASA PENGEN BUNUH AJA ITU AYAK ALAY!!!

him: oh, gini, dek:

Ana uhibukkaxxxxxx. Xxxxxxxx. Uhibukkaxxxxx. Xxxxxx.( gw lupa Arabnya 🙂 )

gw: oh, makasih, mas.

him: emang buat siapa, dek?

gw: buat mas.

 

ANJAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAY. DI TITIK INI GUE PENGEN LONCAT DARI RUMAH TAPI RUMAH GW CUMA SATU LANTAI! GILS GILS GILS. POKOKNYA YOLO GILS. JANTUNG GUE YA ALLAH, JANTUNG GUE YANG NUNGGU ITU SMS BALESAN. JANTUNG GUE MAU COPOT YA RABB!

 

him: buat aku? kok bisa?

gw: iya.

him: maksud aku kenapa bisa cinta sama aku? sejak kapan? kok bisa sih, dek?

gw: kenapa? emang cinta harus beralasan?

 

 

 

fuuuuuuuuuuuuck.

 

 

 

 

lalu seperti itulah. jadilah gw nembak doi via sms. cupu banget. tapi bodo amat. lagian otak anak kelas 3 smk sejauh mana sih bisa mikir? yang jelas gw udah nembak dia, dan komunikasi kita tereskalasi setelahnya: gw mulai intens nunggu sms-nya, nunggu teleponnya, dia yang nelpon di waktu shubuh buat ngingetin salat saat gue sendiri masih ngiler. asik

hingga suatu ketika, saat gue masih alay dengan sms-telpon cinta-cintaan anjir itu, dia melempar satu pertanyaan yang kemudian menjadi titik balik seluruh perasaanku.

“emang apa yang kamu harapin? pacaran? aku gak kayak gitu, dek. aku lebih milih nikah. ketemu keluarga, dan segala macamnya”

saat itu, saat itu juga gue sadar kalau gue belum siap. gue belum siap menikah. masih mau zina (syit). belum siap berkomitmen. belum siap. takut. gue masih kelas 3 smk. ada banyak ambisi yang harus gw kejar. dan gue gak bisa mengikat diri dengan manusia sedewasa itu. it was such a hard falling!

setelahnya, hubungan kita gak lebih dari adek-kakak. gue juga belum sempet nembak secara langsung sebab di senin pagi saat mau ngomong di depan dia, dia kecelakaan. matanya luka. jadilah gw menjenguk dan tak ngomongin cinta sama-sekali

yang jelas, saat itu gw puas, puas sudah berusaha untuk menunjukkan rasa cintaku, jujur sama perasaanku, dan dari pengalaman itu, gw sadar kalau gw ini cuma kemakan ego dan belum benar-benar siap.

gw sih gak apa. hubungan kita masih baik-baik saja. gw paham kalau dia cuma nganggep gw adek. gw banyak belajar. gw banyak sadar. dan patah-patah itu indah. indah karena left message sehingga aku sadar mana yang memang jodoh mana yang tidak. gw puas karena gw nggak harus merasakan belum pernah mengungkapkan itu perasaan.

tapi tak apa, semuanya tetap indah kalau dikenang (anjay~).

mungkin cinta emang begitu, seperti beramal: dikasih begitu aja. tanpa ada pamrih, tanpa berharap dia akan sama cintanya sama kita

cinta itu harus ikhlas, diberikan begitu saja, tanpa memaksa untuk balik dicintai, tanpa harus membuat orang lain kasian atau terbebani

pun kalau ditolak, doesn’t mean you are less than others. gw malah kagum sama orang-orang yang mau yolo mengutarakan perasaanya: they gamble it all, no regret, no later

gak usahlah mikir malu, beda agama, takut ditolak, gak sederajat, hadeh, ribet! kalau cinta, yaudah cinta aja

di sisi lain, gw juga menolak cinta, bukan karena mereka gak baik, simply karena gw-nya yang gak cinta. usaha mereka keren, tapi gw gak tersentuh. mereka baik, tapi gw gak tertarik. saat itu, gw kemudian mengingat cinta orang yang mencintaku lalu kutolak, dan gw yang mencintai orang tapi bertepuk sebelah tangan

gw sadar, bahwa sekeras apapun usahaku, seheboh apapun basa-basi alay yang gw lakuin. kalau dasarnya dia gak cinta sama aku, ya gak bakal jadi. bukan karena usahaku gak keras. bukan karena gw lekas nyerah. tapi karena DIA YANG EMANG GAK CINTA SAMA AKU. dan itu gak apa. gak apa. gak apa sama-sekali.

karena aku sadar, sama seperti aku yang cinta sama mas-mas UNY ini dengan begitu saja, ada saatnya kita akan bertemu dengan orang yang cinta sama kita, begitu saja

yang dia gak berusaha, yang dia diem aja, yang kata-katanya gak penting, yang dia gak ngapa-ngapain, yang biasa aja tapi kita bisa cinta. se-begitu itu. semudah itu

sama kayak aku yang sebegitu saja cinta sama dia dan mereka yang sebegitu saja cinta sama aku. untung-untung kalau kita beruntung: orang yang kaucinta, ternyata punya rasa yang sama, atau itu cinta tumbuh pelan-pelan sebab usaha-usaha yang kita lakukan, kebetulan yang mahaasik: kita gak pernah tahu.

itulah sebab aku masih percaya bahwa kalau cinta: OMONGIN. masalah ditolak paling cuma perkara malu beberapa hari. kalau tengsin sekantor yaudah resign. kalau sekampung yaudah migrasi. kalau bisa dewasa dan move on, yaudah, good!

tapi yang inti adalah, kita harus berani mengakui perasaan sebelum semuanya sulit. omongin aja dulu, siapa tahu doi juga diam-diam mencintamu tapi lo gak pernah tahu, kan lo gak pernah nanya?

pun kalau kau ditolak dan patah hati, mikir gini aja: suatu hari nanti, akan ada orang yang jatuh hati padamu, begitu saja.

 

 

 

 

 

Ditulis saat sedang jengah seharian ngurus terjemahan, dan tbtb tersentuh sama lagunya Simple Plan-Perfectly Perfect yang begitu saja terputarkan.

i prepare for the worst, always

//Audio Blog//

I prepare for the worst, always.

Kadang, manusia itu terlalu take it for granted. Terlalu nyaman dengan keadaan. Terlalu gak sadar diri.

Aku, contohnya. 

Kadang kita baru bener-bener bisa mikir kalau udah kejepit aja. Saat dunia lagi remuk. Saat gak ada yang bisa diandalkan. Saat “Ya Allah, aku harus bagaimana?” terucap. Saat semua temen tetiba jadi orang yang paling jahat. Saat semua yang bisa lo percaya, mendadak lenyap. Saat template hidup baik-baik saja ternyata tak sebaik itu. Saat itu. Udah deh, bubar!

Maka ya, pada akhir hari, semuanya akan kembali lagi ke diri sendiri.  Ke semua yang dipunyai diri. Ke aku sendiri. Bukan dukungan teman. Bukan senyum-senyum formalitas. Bukan mereka yang bilang “Sabar, ya.” Bukan orang yang lo sayang yang lo harap bakal kasih manis manis gula Jawa. Bukan. Bukan. Bukan.

Ini bukan tentang aku yang gak menghargai semua orang yang berani invest ke hidup aku. Ini bukan perihal aku yang gak bersykur punya temen yang perhatian. Aku hanya menyadari. Gak peduli semua sapa santun default dan glitter itu, pun semua akan tetap hilang saat kita udah bilang “Gue pulang dulu, ya.” lalu kita masuk ke kamar, terlentang menatap atap kamar, nanar.

Kecuali pihak-pihak yang entah setia atau terlalu goblok, yang masih mau sama aku, yang tetap menghubungi, atau datang ke rumah, yang gak bisa aku usir, hanya buat tanya “Ada apa, sih, yak?” Aku pernah punya orang-orang kayak gitu. Gue gak tau lagi sih, mereka itu temen macam apa. 

Karena ya, gitu. Capek aku njelasinnya. Yang jelas aku lagi males ngomong. Hancur hati. Pengen nangis. Dan mau tenggelam, saja!
Karena ya, gitu. Saat elu sadar elu goblok, dan elu malu, merasa jadi manusia yang gak bisa take control, goblok, anjing, dan sial karena kepecundanganmu, maka hasilnya udah bisa ditebak, aku hanya bisa menyalahkan aku, mana bisa aku taklif menyalahkan orang lain? Shit!

Saat semuanya hiruk hancur lantah tak beraturan. Saat elu sadar elu yang jadi pusaran dari semua penyesalan, saat mau ngomel pun terlanjur sia-sia, saat itu lah elu sadar, kita sadar, oh, mungkin, in this case, aku sadar, kalau hanya aku dan aku sendiri saja yang bisa aku ajak ngomong. Gue ajak nyari penyelesaian atas semua shitty things yang terjadi. Aku yang harus ngurusin, get a hold of my myself, sadar diri.

Pada akhirnya, toh kita akan kembali bertahan dengan segala resources dan kemampuan apa-adanya-kita. Kembali dengan apa yang kita punya aja. Mikir ke depannya mau ngapain. Mikir ke depannya bisa makan apa enggak. Mikir ke depannya mau tinggal di mana. Lalu start the whole brand new world. Emang kayak gitu. Gue terlalu mudah menyerah dan terlalu optimis dengan brand new thing shit!

I prepare for the worst, always.
Saat jatuh, dalam. Saat itulah kadang kita baru nggeh. Baru sadar kalau kita bego. Goblok. Terlalu oke in aja ajakan orang. Terlalu kuy lah. Terlalu manut enaknya gimana. Gak ada pegangan. Gak ada keyakinan. Sebenci-bencinya aku sama karakter manusia. Aku paling benci sama manusia yang gak bisa menentukan sikap. Yang gak tahu mau kanan apa kiri. Mau santai atau ngebut. Mau hitam atau putih. Aku benci aku.

Aku benci aku yang gak bisa menentukan sifat, sikap. Aku benci aku yang gak punya pendirian. Aku benci aku yang bilang “Iya.” hanya demi menjaga hati mereka dari luka. And it ended up me being hurt, again, fool!

Aku benci aku yang menyesali sikapku. Aku benci segala ketidakpastian yang tidak aku pastikan. Arsiran yang tidak aku tegaskan. Hal benar yang tidak aku perjuangkan. Penyesalan yang tidak bisa aku tolak. Aku pengen pulang!