blue side

Panas dan rutinitas. Membosankan dan palsu.

Amplop putih isi tiga lembar seratus ribuan. Pulang motoran sambil membayangkan. “Mau beli apa hari ini?” “Roti bakar atau bakso.” “Kutabung atau kubelikan buku.” “Ke Jogja buat ke Malioboro.” “Ke Rei buat pinjem alat gunung.”

Banyak masuk tinggal mengalir. Berlipat banyak tiada arti.

Empat tempat sehari, kuurus dengan serius. Kaki-kakiku tak mau setop, bernyanyi dan berlari, bermimpi dan heboh.

Kakiku mengeluh bahkan untuk bangun tidur.

naui ajusshi

minggu lalu, saat libur jumat agung lalu sabtu, dan minggu, aku maraton drama korea naui ajusshi, 16 episode. dramanya bagus, bagus banget. dari situ aku belajar, bahwa sudahlah, gak usah melow-melow banget. gak usah sedih banget, kamu harus tahu bahwa yang sedang berjuang, yang kerja, yang capek mental dan fisik, gak cuma kamu aja. kamu jangan manja. banyak orang struggle hal yang sama, bahkan lebih parah, jadi, semangat, ya. bertahan ya, hwaiting!

i know, ini receh banget, dapet semacam penguatan dari drama korea.

tapi setidaknya, dari sana kamu bisa ambil pelajaran. bahwa masih banyak orang baik. bahwa kamu gak sendiri. bahwa kamu harus sayang sama diri kamu. bahwa gak papa kamu nangis. gak papa ngerasa capek. gak papa jadi manusia.

kamu harus bahagia. let’s be happy. akan ada masa kamu ngelihat ke belakang dan ketawa, it’s like connecting the dots, isn’t it? gak semua harus kamu pahami saat ini juga. so, gwenchana, let’s together be happy!

1 April

1 April.

Pada kenyataanya, dulu, aku tidak berada dalam kondisi yang tepat untuk menjalin hubungan dengan seseorang.

Apa yang akan kau lakukan jika pada umur 20 lalu, kita bertemu?

“Aku pikir kita tidak akan bisa bersama.”

Kenapa? Kau takut tidak bisa mengendalikanku? Bersamaku?

“…”

Kurasa kita punya insecurities masing-masing. Aku sibuk mengurusi duniaku. Kau dengan duniamu.

Pada waktu itu, aku tidak punya kemampuan untuk menjalin hubungan dengan seseorang. Financially, mentally.

Kau pernah merasa kesepian?

“Iya, tentu saja. Aku juga remaja pada umumnya.”

Apa yang kau lakukan? Apa yang kau lakukan waktu temen-temen kamu sibuk pacaran, nongkrong, lihat konser?

“Main game.”

“Belajar.”

“Kau?”

Aku? Hm. Aku sibuk kerja HAHAHA. Aku punya banyak keinginan, tapi gengsi minta sama orang tua. Harga diriku tinggi untuk minta duit. They have things to think. They do their best to raise us three. I do my own, kemana, untuk apa pun, aku sendiri. Aku gak pernah menyesal. Aku bangga bisa hidup seperti ini.

“Good for you.”

Kenapa ya? Hidup ini lucu. Ada hal yang tidak bisa aku dapatkan saat aku sangat menginginkannya. Tetapi datang di saat aku bahkan tidak sedang mengharapkannya.

“Kau tanya kenapa kita tidak bisa mengendalikan hidup?”

Iya. HAHAHAHA. Aku suka mengendalikan hidup. Selama ini aku mengusahakan mimpiku. Hampir semua yang pernah aku bayangkan, jadi kenyataan.

Tapi kadang, ada hal yang entah bagaimana, susah.

“Belum. Klise: a matter of time?”

HAHAHA. Kayaknya ‘klise’ awet jadi bahan jawaban karena masih relevan.

“Iya.”

You know, aku beruntung bertemu denganmu.

“Aku juga.”

Mungkin kalau dulu kita ketemu. Kita tidak akan bisa seperti sekarang.

“Think so.”

Kita berantakan. Kiat belum siap.

“Kurasa itu benar, don’t rush time.”

Itu apa?

“Kopi, dicampur jahe, sereh, sama kunir.”

“Mau?”

Pahit?

“Iya.”

“Cobalah, you get used to it once you dip it down.”

Enggak. Aku pusing minum kopi. Tapi aku suka baunya. Seksi gimana gitu.

“…”

WFH

Kosan Annuriah belakang halte TransJakarta Imigrasi, Jakarta Selatan.

I am 24 years old and my life now is so dull. It’s too much that it becomes upsetting. I get mad easily. I get irked surprisingly fast. And this, this is not the kind of life I wanted.

I woke every very morning at 5 just to follow my 6-3 work routine. I sometimes go on foot, hop on GrabBike, or take a bus to get to work. Sit in front of my computer THE WHOLE DAY until it’s over and I can thankgodly rush home. The clock ticked so slow it irritated me. Funny still, I get home feeling drained that even reading books, writing a diary, or watching a one-hour movie become so impracticable.

I feel so exhausted that I don’t even dare to have this conclusion: Running my fingers only for 8 hours and I am completely worn out at the end of the day (?)

I mean, when I was in college, I worked two jobs, physically and mentally engaged, in a day. I broadcast at one radio station and taught children in their houses. I repeat, “in their houses”, there is a -s in there. I raced off from one address to another in full mode, trying to get each on time since the schedule is tight and I resent being late in one session as it would screw up the next. I got home really late, but managed to watch movies, had some late-night chat with my parents (lol), listened to my preferred radio broadcasting, did other things, yet, not a single time in that period, I felt exhausted.

I wish I could make some meaningful judgments. Throw data barehanded into a bell curve and draw the line. It might result in disappointing, but at least numbers don’t lie. At least I don’t have to suffer feeling jaded.

Aside from my ‘trade time with money’ thing, I accomplished to (not to brag) maintain my GPA over 3, got flattered easily, and hung out all the way around with my friends. It is LOL that I occurred to have friends in several circles. When I write ‘circles’, it refers to a bunch of people having totally distinct characters to the otherwise. It’s like me being so religious-proper person in circle A and a let’s-get-crazy person in circle C. It was weird but I had a lot of fun. I yet had time to hike mountains, go down low inside a cave, or wake up ‘feeling good like I should’ at beaches: watching that waves splashing, dashing white sand, the sounds of wind, laying so loosely in a small tent with people who truly care and I care for, the assumption that it is unlikely to reoccur makes me painfully miss them now :((

Life was so busy, my body ached, but I am mentally happy and satisfied.

Oh yeah, satisfaction. Been a while, I don’t have that tingly feeling running over my chest anymore. Gosh, this is scary.

I thought life would be so challenging when I am growing up. Turns out it’s not.

I have to admit my job is fine.
My life is fine.
I eat just fine.
Hardly exercise, fine.
My love life sucks, fine.
People being bitch, fine.

Drat! It is not fine being fine! ‘Fine’ is a lame word. It is a lazy word. It has no traction, no passion, zero energy. I don’t like my life being JUST fine.

It is not right that I get bored quickly with my job, I eat crap, I care neither for my body nor my mental state, some people are toxic, and I longed for affection. It is not fine to be in this kind of ‘fine’.

I want to be happy. I want to be loved. I want me to be happy and lovable. I want me to believe I am worthy. I want to gambol around like a bunny and be passionate. I want a job that makes me wake up with a smile every and each morning. I want to get home and say “Wow, this is nice!”. I want to read books, kiss the smell and touch of nature. I want me to be challenged. I want to feel nervous. I want to earn good money. I want to make people who are significant to me happy. I want to exercise, run a marathon dying to get to a finish line like a champion whatsoever. I want to eat healthy because my body deserves that. I want to be a good daughter, a great lover and an awesome friend. I want to be excited about small things and serendipity. I want my life to be simple but satisfying. Oh Gosh, I want to be me.

resign

WhatsApp Image 2020-02-02 at 18.33.52 (1)

beberapa menit yang lalu, tiba-tiba kangen sama mantan juri debat kuliah lalu kucari namanya di internet.

aku lihat muka tengilnya lalu pelangi terbalik (istilahnya Ayu Rahayu) terlukis di wajah. dari sana aku tahu kalau dia mengejar passion engineering-nya, mungkin perpaduan antara itu dan design. entahlah, aku nggak tahu detail, yang pasti dia baik dan kian baik, i’m happy for him. i’m always happy when the people who inspired me live to their fullest.

aku buka linkedin-nya lalu ku-follow. setelahnya, aku melihat apa yang belakangan ini terjadi di duniaku, segala rencana itu, dan hatiku, dan aku tiba-tiba aku kepingin ngomong.

aku nulis ini sambil nge-loop-in celengan rindu: lagunya fiersa besari yang di-cover sama feby putri nc. ena suaranya. aku gak tahu apakah suara fiersa besari lebih bagus dari feby. aku gak pernah ng-check. hatiku sudah jatuh untuk feby.

jakarta sumuk kala malam, panas waktu pagi.
pekerjaan masih begitu saja. jam bangun dan tidur tidak berubah.
ada beberapa orang yang membuatku tertawa.
ada beberapa orang yang menjadi alasan aku masih di jakarta
ada hal-hal yang menunggu untuk segera kuubah.
ada rasa nyeri di hati dua hari yang lalu.

tapi tak apa.

i learned not to rush things. let it happen.

i’m so insecure yet not doing shit. guess i deserve it. rasa-rasanya tidak adil meminta lebih tanpa memberi lebih. jadi yaudah, i know my place. :*

pagi datang, diam sebentar, lantas minggat, ada kepentingan yang tengah dijunjung. entah hati entah harga diri, apa pun itu, aku coba mengerti. bapak aku sering mengingatkan, “jangan merepotkan”, sehingga tak perlu kita berdiskusi tentang jarak. aku khatam sejak SMP.

selama 5 hingga 5 yang sebagian besar membosankan, biru adalah alasan aku punya variasi: selain putih, atau hitam, atau abu-abu. selama itu juga kalau bisa, aku tak mau bertatap hayal, apa pun itu, kalau bisa jangan. aku takut menyiksa batin. bahkan biru tak sudi membirukan dirinya. “too painful!” katanya.

lagian, yang jadi alamat tak pernah sadar. kata orang, kalau tak sadar berbuat dosa, tidak terhitung dosa. adududu, ena benar jadi biru :3

|

gambar di atas diambil oleh aku sendiri, hp samsung j2 prime, di sepanjang jalan menuju kos: jalan bungur, bangka, mampang prapatan, jakarta selatan.

aku suka memotret langit. bukan karena sedang mengamalkan label anak senja atau apalah. langit itu, gimana ya ngomongnya, langit itu indah. tenang. gak banyak bicara.

sehat-sehat

tuhanku yang maha baik, pagi ini jakarta mendung, desember tampaknya gemar begitu. berdasarkan pengalaman, kurasa desember adalah komedi, aku selalu punya alasan untuk patah hati.

tuhanku yang maha baik, kau tahu benar aku tak meminta, kau pun yang memberi, sehingga jika ini percuma, maka tolong bunuh saja: aku tak mau repot dan menderita.

tuhanku yang maha baik, aku sangat ketakutan. beberapa hari ini pikiranku sama sekali kabut. aku ingin menangis, tapi tidak bisa.

tuhan, aku yakin aku punya masalah dengan desember, aku banyak berdoa.