I prepare for the worst, always.

//Audio Blog//

I prepare for the worst, always.

Kadang, manusia itu terlalu take it for granted. Terlalu nyaman dengan keadaan. Terlalu gak sadar diri.

Aku, contohnya. 

Kadang kita baru bener-bener bisa mikir kalau udah kejepit aja. Saat dunia lagi remuk. Saat gak ada yang bisa diandalkan. Saat “Ya Allah, aku harus bagaimana?” terucap. Saat semua temen tetiba jadi orang yang paling jahat. Saat semua yang bisa lo percaya, mendadak lenyap. Saat template hidup baik-baik saja ternyata tak sebaik itu. Saat itu. Udah deh, bubar!

Maka ya, pada akhir hari, semuanya akan kembali lagi ke diri sendiri.  Ke semua yang dipunyai diri. Ke aku sendiri. Bukan dukungan teman. Bukan senyum-senyum formalitas. Bukan mereka yang bilang “Sabar, ya.” Bukan orang yang lo sayang yang lo harap bakal kasih manis manis gula Jawa. Bukan. Bukan. Bukan.

Ini bukan tentang aku yang gak menghargai semua orang yang berani invest ke hidup aku. Ini bukan perihal aku yang gak bersykur punya temen yang perhatian. Aku hanya menyadari. Gak peduli semua sapa santun default dan glitter itu, pun semua akan tetap hilang saat kita udah bilang “Gue pulang dulu, ya.” lalu kita masuk ke kamar, terlentang menatap atap kamar, nanar.

Kecuali pihak-pihak yang entah setia atau terlalu goblok, yang masih mau sama aku, yang tetap menghubungi, atau datang ke rumah, yang gak bisa aku usir, hanya buat tanya “Ada apa, sih, yak?” Aku pernah punya orang-orang kayak gitu. Gue gak tau lagi sih, mereka itu temen macam apa. 

Karena ya, gitu. Capek aku njelasinnya. Yang jelas aku lagi males ngomong. Hancur hati. Pengen nangis. Dan mau tenggelam, saja!
Karena ya, gitu. Saat elu sadar elu goblok, dan elu malu, merasa jadi manusia yang gak bisa take control, goblok, anjing, dan sial karena kepecundanganmu, maka hasilnya udah bisa ditebak, aku hanya bisa menyalahkan aku, mana bisa aku taklif menyalahkan orang lain? Shit!

Saat semuanya hiruk hancur lantah tak beraturan. Saat elu sadar elu yang jadi pusaran dari semua penyesalan, saat mau ngomel pun terlanjur sia-sia, saat itu lah elu sadar, kita sadar, oh, mungkin, in this case, aku sadar, kalau hanya aku dan aku sendiri saja yang bisa aku ajak ngomong. Gue ajak nyari penyelesaian atas semua shitty things yang terjadi. Aku yang harus ngurusin, get a hold of my myself, sadar diri.

Pada akhirnya, toh kita akan kembali bertahan dengan segala resources dan kemampuan apa-adanya-kita. Kembali dengan apa yang kita punya aja. Mikir ke depannya mau ngapain. Mikir ke depannya bisa makan apa enggak. Mikir ke depannya mau tinggal di mana. Lalu start the whole brand new world. Emang kayak gitu. Gue terlalu mudah menyerah dan terlalu optimis dengan brand new thing shit!

I prepare for the worst, always.
Saat jatuh, dalam. Saat itulah kadang kita baru nggeh. Baru sadar kalau kita bego. Goblok. Terlalu oke in aja ajakan orang. Terlalu kuy lah. Terlalu manut enaknya gimana. Gak ada pegangan. Gak ada keyakinan. Sebenci-bencinya aku sama karakter manusia. Aku paling benci sama manusia yang gak bisa menentukan sikap. Yang gak tahu mau kanan apa kiri. Mau santai atau ngebut. Mau hitam atau putih. Aku benci aku.

Aku benci aku yang gak bisa menentukan sifat, sikap. Aku benci aku yang gak punya pendirian. Aku benci aku yang bilang “Iya.” hanya demi menjaga hati mereka dari luka. And it ended up me being hurt, again, fool!

Aku benci aku yang menyesali sikapku. Aku benci segala ketidakpastian yang tidak aku pastikan. Arsiran yang tidak aku tegaskan. Hal benar yang tidak aku perjuangkan. Penyesalan yang tidak bisa aku tolak. Aku pengen pulang!

Advertisements

I Give it to God, and Go to Sleep.

Tertekan/

Kata orang, aku sedang jatuh hati.

Kata bunda, aku harus hati-hati.

Kata koran, aku bisa diperkosa.

Entah karena asmara, lalu melecehkan norma,

Entah aku yang berbahaya, kurang tegas jadi wanita.

 

Aku merenung lantas berdoa.

Semoga aku dilindungi.

Dari bisikan setan yang mengatakan, “Sudah, kejar.”

Atau kebakaran hati yang meraung-raung ingin dipertemukan.

 

Kata orang, aku sedang tidak stabil.

Aku buta, katanya.

Entah karena tak mengenal tapi mengikat.

Entah karena dungu, memilih begitu.

Serupa khamr yang dosa, menumpulkan logika.

Bagai aku yang sepertinya mencintamu namun diminta waspada.

Entah, apa yang harus diresahkan dari hati yang merasa?

 

Hatiku kaku di persimpangan.

Membeku perih, diminta bertahan.

Ingin memeluk tapi dihalang-halang.

Pilu!

 

Katakan, aku bisa apa jadi pecinta?

 

 

Rokok/

Aku suka memandangmu saat kau melamun.

Kau seksi.

Entah, jarang sekali aku menyebut manusia seksi.

Benar kiranya Tuhan meminta, “Jaga itu pandangan.”

Adalah kadar mauku yang tidak sekadarnya.

Adalah musebab otakku penuh hal nakal.

 

Aku suka melihatmu terdiam.

Nampak kesepian namun bukan.

Kau hanya memuja ketenangan.

Dengan aku yang tak apa membunuh waktu.

Membunuh kewarasanku.

Asal bersamamu.

 

Aku suka mengamatimu saat kau berjalan.

Saat kau butuh waktu luang, dan keluar.

Saat kau melangkah lalu tetiba berhenti.

Yang kembali saat kau kelupaan.

Yang bingung saat ada yang hilang.

Yang kau canggung, lalu lucu.

Yang bagaikan paket komplit.

Ditolak gak mungkin.

Dikejar sulit.

Kau menyebalkan.

Begitu menggemaskan!

 

Aku suka menatapmu merokok.

Saat kau menyulutkan api kepada ujung yang penyakitan.

Yang menyala lalu kau hisap.

Yang kepalamu menengadah ke atas.

Lalu asap mengepul tinggi.

Lalu kau kelihatan ranum.

Dadaku sesak melihatmu begitu.

Aku jadi ingin mencium-mu.

 

 

Rencana/

Katamu kau suka sendiri.

Menonton film yang sudah kau kotak-kotakan.

Atau bermain dengan kucing liar yang kau selamatkan.

Aku sedih, aku kesepian.

 

Katamu kau mau menapak Roma bersamaku.

Kala itu aku memaksa, dengan senyum berlebihan.

Harapanku juga berlebih.

Kau mengiyakan walau aku melihat ragu.

 

Belum lepas sebulan, kembali ku konfirmasi.

“Masih niat main ke Roma?”

Kau bilang, “Maaf tidak, aku ada hajatan.”

Ku tempel tawa di bibir, getir di hati.

Matamu tak pernah berbohong.

Dan hatiku tak pernah berdusta.

Maaf, aku cuma cinta, harusnya tak memaksa.

 

 

 Loggia/

Tiap matahari datang dan embun wafat, menguap.

Aku tersenyum, beralasakan harap.

Aku bersyukur.

Hatiku selamat, bebas sekarat.

 

Tiap temanku sibuk, mengantri atensi.

Aku resah, apa kau sudah makan?

Kau terpaku pada pekerjaan.

Dengan sesekali bersosialisasi.

Waktu aku bilang, sesekali, itu adalah ungkapan denotasi.

Karna basa-basimu tak bertahan lama.

Kau memilih berpusar ke cangkangmu.

Dan sibuk mengurusi negara.

Dengan aku yang sibuk mengurusmu, dalam metafora dan sendu-sendu udara.

 

Tiap aku keluar dan menikmati panas yang suam-suam.

Aku lihat kau makan.

Hah. Betapa-ini-merepotkan-Tuhan? 

 

Lalu aku bermain peran. Drama.

Apapun asal tujuanku tercapai.

Jahat, kah? Aku sih bilang ini berjuang.

 

Kita berbincang hingga terang tak kelihatan.

Malam.

Dan kau pamit, pulang.

Katamu, “Badanku tak kuat.”

Kau tak mampu melawan alam.

Aku tak mampu memaksakan niatan.

Lalu aku sok mengusirmu.

Bilang, “Mamamu mencarimu, segera lah pulang.”

Kau lantas bilang.

Baik. “Kau juga, segera lah.”

Aku hanya bilang, tenang.

Lalu kau benar-benar berkemas, hilang.

 

Tentu saja aku jadi sendirian.

Duduk, memandang langit.

Angin di luar melewatiku sambil mencemooh.

“Kau, pecundang.”

 

Aku hanya tertawa.

 

 

Tuhan/

Lalu aku mulai berbincang tentang Tuhan.

Topik yang religius? Jelas.

Tentang kawanku yang terkadang nyeletuk, “Elu yakin?”

Yang aku hanya bilang, “Lihat nanti aja gimana.” 

Tak lupa dipungkasi dengan tawa.

Biar keliahatan tegar.

Bakoh.

Padahal njero ati koyo sapu jiting tanpo tali,

Ambyar!

Wkwk.

 

Bismillahirrahmanirrahim

Kalau di-Indonesia-kan, “Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang.”

Ini kalimat mahaelok.

Sering disebut setiap memulai suatu kebaikan.

Aku pun suka menyebut ini saat berdoa.

Karena mendoakanmu, untukku, adalah bagian dari kebaikan.

Terkadang, semesta seakan mengingatkan, “Mimpimu itu, gak mungkin kejadian.” 

Aku, sebagai manusia seperti kebanyakan, tentu aku baper.

Lalu aku mengadu pada Tuhanku.

Lalu aku berdoa.

Meminta pada Yang Punya.

Meminta pada Yang Kuasa.

Meminta pada Yang Memampukan.

Menulikan diri atas dunia dan semua asumsinya.

Menyerahkan harapku pada Tuhan.

Lalu tidur.

 

 

 

 

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ

“Dan Tuhanmu berfirman, “Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu..” (QS Al-Mu’min: 60).
(لاَ يَرُدُّ الْقَضَاءَ إِلاَّ الدُّعَاءُ، وَلاَ يُزِيْدُ فِى الْعُمْرِ إِلاَّ الْبِرُّ) -الترمذي-

“Tidak ada yang mampu menolak takdir Allah kecuali doa, dan tidaklah menambah usia kecuali kebaikan”. (HR. Tirmidzi)

 

 

 

Pecundang, lagi curhat.

ꦩꦺꦴꦂꦫꦶꦱ꧀ꦱꦺꦪ꧀ – ꦲꦺꦮ꦳ꦾꦸꦮꦺꦮ꦳ꦼꦂꦱꦶꦤ꧀ꦤ꧀ꦢꦺꦫꦺꦲꦶꦤ꧀?

ꦤ꧀ꦢꦼꦩꦺꦴꦂ​ꦪꦸ​ꦲꦶꦒ꧀ꦤꦺꦴꦂꦩꦶ꧈​

ꦤ꧀ꦢꦼ​ꦕ꧀ꦭꦺꦴꦱꦼꦂ​ꦲꦲꦶꦒꦺꦠ꧀꧉

ꦪꦺꦴꦂ​ꦮꦱ꧀ꦠꦶꦁ​ꦪꦺꦴꦂ​ꦠ​ꦲꦶꦩ꧀꧉

ꦤ꧀ꦢꦼꦩꦺꦴꦂ​ꦪꦸ​ꦲꦶꦒ꧀ꦤꦺꦴꦂꦩꦶ​꧈​

ꦤ꧀ꦢꦺ​ꦕ꧀ꦭꦺꦴꦱꦼꦂ​ꦲꦲꦶꦒꦺꦠ꧀꧉

ꦪꦺꦴꦂ​ꦮꦱ꧀ꦠꦶꦁ​ꦪꦺꦴꦂ​ꦠ​ꦲꦶꦩ꧀꧉

ꦲꦲꦶ​ꦮꦶꦭ꧀ꦧꦶ꧉

ꦲꦶꦤ​ꦤ꧀ꦢꦼꦧꦂ꧉​

ꦮꦶꦛ꧀ꦩꦪ꧀ꦲꦺꦢ꧀꧉​

ꦲꦺꦴꦤ꧀ꦤ꧀ꦢꦼꦧꦂ

ꦲꦲꦶꦩ꧀ꦤꦲꦸ꧈​

ꦲꦺ​ꦱꦺꦤ꧀ꦠꦿꦭ꧀ꦥꦂꦠ꧀꧉​

ꦲꦺꦴꦥ꦳ꦾꦂ​ꦩ​ꦲꦶꦤ꧀ꦱ꧀ꦭꦤ꧀ꦱ꧀ꦏꦺꦲꦶꦥ꧀꧉

ꦮꦺꦛꦼꦂ​ꦪꦸꦏꦺꦂ꧈​

ꦲꦺꦴꦂꦢꦸꦤꦺꦴꦠ꧀

ꦪꦺ​ꦲꦃ꧈​ ꦲꦮ꦳꧀ꦩꦺꦲꦶꦢ꧀ꦲꦥꦾꦺꦴꦂꦩꦲꦶꦤ꧀

ꦤ꧀ꦢꦼꦩꦺꦴꦂ​ꦪꦸ​ꦲꦶꦒ꧀ꦤꦺꦴꦂꦩꦶ꧈​

ꦤ꧀ꦢꦼ​ꦕ꧀ꦭꦺꦴꦱꦼꦂ​ꦲꦲꦶꦒꦺꦠ꧀꧉

ꦪꦺꦴꦂ​ꦮꦱ꧀ꦠꦶꦁ​ꦪꦺꦴꦂ​ꦠ​ꦲꦶꦩ꧀꧉

ꦤ꧀ꦢꦼꦩꦺꦴꦂ​ꦪꦸ​ꦲꦶꦒ꧀ꦤꦺꦴꦂꦩꦶ​꧈​

ꦤ꧀ꦢꦺ​ꦕ꧀ꦭꦺꦴꦱꦼꦂ​ꦲꦲꦶꦒꦺꦠ꧀꧉

ꦪꦺꦴꦂ​ꦮꦱ꧀ꦠꦶꦁ​ꦪꦺꦴꦂ​ꦠ​ꦲꦶꦩ꧀꧉

ꦧꦶꦮꦼꦂ꧈​

ꦲꦲꦶꦧꦶꦂꦩꦺꦴꦂꦒꦿꦢ꧀ꦗꦼꦱ꧀꧉

ꦛꦺꦤ꧀ꦭꦺꦴꦤ꧀ꦭꦶꦲꦲꦶꦒ꧀ꦕꦺꦴꦲꦸꦂꦠ꧀ꦗꦢ꧀ꦗꦺꦱ꧀꧉​

ꦮꦺꦤ꧀ꦪꦸꦱ꧀ꦭꦶꦥ꧀꧈​

ꦲꦲꦶꦮꦶꦭ꧀ꦏꦿꦶꦥ꧀꧈​

ꦲꦶꦤ꧀ꦠꦸꦪꦺꦴꦂꦛꦺꦴꦠ꧀ꦱ꧀

ꦭꦲꦶꦏ꧀ꦲꦼꦧꦺꦢ꧀ꦢꦺꦧ꧀ꦠꦱ꧀

ꦛꦺꦢꦾꦸꦏꦺꦤ꧀ꦠꦥꦺꦪ꧀

ꦠꦺꦲꦶꦏ꧀ꦤ꧀ꦢꦼꦲꦶꦱꦶꦮꦺꦪ꧀

ꦲꦺꦤ꧀ꦒꦶꦮ꦳꧀ꦲꦶꦤ꧀

ꦪꦺꦪꦃ꧈​ꦲꦺꦤ꧀ꦭꦠ꧀ꦩꦶꦲꦶꦤ꧀

ꦎꦃ꧈​ꦭꦺꦠ꧀ꦩꦶꦲꦶꦤ꧀

ꦎꦃ꧈ꦭꦺꦠ꧀ꦩꦶꦲꦶꦤ꧀꧉​

ꦭꦺꦠ꧀ꦩꦶꦲꦶꦤ꧀꧉​

ꦲꦶꦠ꧀ꦱ꧀ꦮꦂ꧉​

ꦲꦶꦠ꧀ꦱ꧀ꦮꦂ꧉​

ꦲꦶꦠ꧀ꦱ꧀ꦮꦂ꧉​

ꦲꦶꦠ꧀ꦱ꧀ꦮꦂ꧉​

ꦲꦶꦠ꧀ꦱ꧀ꦮꦂ꧉​

ꦮꦂ

ꦮꦂ

ꦮꦂ

ꦮꦂ

———

Note:

ꦤ꧀ꦤ꧀ꦢꦺ : nnde.

Saat Ratri.

Ratri menuju Fajar. Ratri singgah di tengah-tengah. Ratri lelah Ratri bingung.

 

Hei.

 

Ratri bersuara sambil ruku’. Dia menatap kirjailija sembari sebal. Ratri ngos-ngosan. Nafasnya balapan.

 

Hei bangsat.

 

Ratri sebal, masih sebal, sebalnya lebih besar. Ratri berteriak. Ratri murka. Ratri masih ruku’. Nunduk 90 derajat. Siku-siku. Posisi shalat orang Islam. Begitu Ratri masih ngos-ngosan. Sedari tanggal 10 dipaksa jalan. Tanpa istirahat tanpa makan. Tanpa gizi tanpa anjuran. Keringat mengalir deras. Rambut Ratri jadi lepek. Lepek dikit, rambut Ratri masih bagus. Masih berwarna coklat. Coklat kusut. Rambutnya panjang bergelombang. Rambutnya lemas, jatuh ke bawah. Rambutnya diikat sebagian. Diikat ke atas dengan tali Jepang. Diikat kencang ber-butterfly knot. Saat ruku’, saat istirahat dari jalan yang terus-terusan, sebagian rambut Ratri jatuh. Jatuh di kiri wajah. Jatuh di kanan wajah. Kanan kiri kompak jatuh. Ratri pakai blouse. Blouse-nya panjang. Hitam kebiru-biruan. Di bagian kerah warna putih. Di dua pergelangan warna putih. Blousenya Ratri halus. Seperti sulaman. Seperti sulaman nenek. Seperti disulam tapi tidak besar-besar. Seperti disulam tapi kecil-kecil. Jadinya halus. Jadinya tipis. Nempel ikhlas di badan Ratri.

 

Gak usah sok serius bangsat!

 

Masih teriak. Masih keras. Blouse Ratri dimasukkan ke rok. Ratri memakai rok. Roknya polos. Tak ada pola. Tak ada corak. Ratri sukanya begitu. Warnanya coklat tua kemerahan. Seperti warna musim gugur. Ratri belum pernah menghidup musim gugur. Ratri hanya baca buku, jadinya tahu. Rok Ratri tebal. Roknya panjang. Begitu panjang, menghubung perut hingga pergelangan. Pergelangan mata kaki. Sampai di sana ketemu sepatu. Ratri suka pakai sepatu. Sepatunya berwarna hitam. Hitam pekat. Seperti Ratri kalau mendung. Seperti arang kalau diam. Semuanya dingin kecuali bibirnya. Bibir Ratri yang bergincu. Ratri suka pakai gincu. Yang merah. Yang marun. Yang warnanya merah marun. Ratri suka warna itu. Warna daun jati yang ditumbuk. Warna merah marun. Ratri suka bangga. Ratri suka berkaca. Dengan marun di bibirnya. Dengan marun yang membingkai senyumnya. Kulit Ratri kuning langsat. Namun belakangan agak gelap. Ratri lagi hobi main layangan. Kulit Ratri jadi belang. Ratri—

 

Bentar lagi ketemu fajar. Jangan bego, bangsat!

Goblokgasm.

CINTA, KATANYA? Wkwk. 

Pernah sadar gak sih, saat kita sedang jatuh cinta, kita benar-benar jadi orang lain.

Suka sama orang, dan semua indra kita tetiba bisa bekerja dengan lebih baik. Saat lagi mendamba, maka semua kegiatan dan hal kecil yang dia lakukan berubah menjadi semacam candu. Rasanya seperti diperbudak perasaan. Pengen cuek tapi gak bisa. Pengen diperhatikan tapi takut ngeganggu.

Benar kata Raisa, serba salah. 

Ya mau gimana lagi, namanya juga urusan hati. Apalagi kalau sudah cinta hingga mulai lancang ingin tahu. Kita jadi manusia yang mengganggu. Serupa lalat madu yang nempel di es dawet. Semuanya jadi ruwet. Semuanya harus serba de e. Kita harus tahu apa yang dia makan, apa yang dia suka, kenapa dia sering berangkat pagi, kenapa dia hidup, kenapa dia suka menyendiri, kenapa dia suka pakai sepatu warna hitam, dia punya berapa saudara, umur berapa saudaranya, sebelum bobo’ dia ngapain ya. Dia meluk guling gak ya. Eh kok dia diem sih?  Dia kenapaaaa?

Repot, bosqu? 

Kita jadi repot, ngrepotin diri dengan kepo. Jadi hollow lalu bego. Begitu hebring hingga lupa sama kerja. Kabeh kegiatanmu isine gur halu. Kita jadi aneh. Suka senyum saat dia bercerita. Ketawa dengan guyonan recehnya. Mendadak sedih saat dia sakit.

Itu belum kalau dia digosipin deket sama cewek lain lalu kamunya baper. Baper meradang lalu sedih. Sedih berlarut namun confused harus gimana. Semakin remuq kalau manusia yang kamu suka ternyata gak peka. Entah gak peka atau pura-pura innocent. Entah innocent atau dianya pemalu. Entah pemalu atau dianya yang gak suka sama kamu. Wkwk

Yang lucu (dan kekanak-kanakan), saat suka sama orang, kita bertendensi untuk menampakkan sikap yang kontradiktif. Sok-sok an cuek padahal peduli. Bertingkah santai padahal tegang. Pura-pura gak tahu, pura-pura butuh bantuan, pura-pura nanya padahal modus! 

Hm. 

Katanya, cinta itu goblok. Yang goblok bukan cintanya. Yang goblok ya manusianya. Makanya banyak sesepuh bijak menyarankan, cinta itu pakai hati, jangan kepala. Sedianya jika patah, yang hancur biar hatinya saja, jangan pola pikirnya. Patah hati lalu ngegalau dengan lagu semacam Adele-Someone Like You nampaknya masih normal. Namanya juga sayang lantas gagal. Kalau hatinya hancur dan butuh waktu lama buat mengheningkan cipta, kan ya gak papa. Toh kita manusia. Yang punya rasa punya hati. Jangan samakan dengaaan pisau belati~ -_-

Di dunia ini, mungkin ada manusia yang belum pernah jatuh cinta secara romansa. Tapi gue hayaqqul yaqin, sedingin-dinginnya hati manusia, pasti ada masanya dia ketemu satu manusia, dan hatinya bergetar seketika. 

Mungkin menurut hemat mereka, jatuh cinta itu serupa mukjizat: gak semua orang dapet. Kayak Nabi Isa yang atas ijin Allah bisa menghidupkan orang mati, atau Nabi Musa yang bisa membelah lautan Teberau lantas nyebrang selaaw macam jalan tol. 

Semacam Momochi Zabuza yang katanya gak punya perasaan lalu membunuh seluruh rekan se-ujian ninja. Zabuza bilang, dia itu sosok makhluk yang gak punya hati. Walaupun begitu, ketika Haku mati, Zabuza yang katanya gak punya perasaan ini nangis. Zabuza bilang, Haku nanti bakal masuk surga. Karena Haku punya hati yang baik. Gak kayak dia yang terkutuk dan siap nyemplung ke neraka. Terlepas dari Zabuza yang sadar bakal pisah dunia sama Haku, toh dalam doa terakhirnya, dia masih berharap dia bisa pergi ke tempat Haku, hidup bareng di tempat yang sama dengan Haku.

Sedih gak sih? Kalau gue sih sedih.

Hm.

Namun kembali lagi, gue hanya bercerita sebatas ilmu rendah saja. Gue gak tau hakikat cinta itu seperti apa. Yang gue tahu, cinta itu seperti Bunda yang tetiba datang ke kamar lantas bilang “Tak gawekke wedang teh ya nduk? Panas lho teh e, kentel, teh jawa lho, senenganmu.” (Ibuk buatin teh ya? Mumpung teh-nya masih panas, kental, teh jawa (merek teh) lho, kesukaanmu, kan?) Respon gue? Gue hanya pura-pura ceria lantas bilang “Iya dong. Mauuu.” Gue bilang begitu sambil menahan air mata yang bergelut sewenang-wenang di ujung netra. Gue gak tau kenapa gue pengen nangis. Mungkin ini bentuk reaksi hati atas cintanya Bunda? Gue gak tau.

Mungkin cinta itu seperti bapak-bapak penjual tisu yang ada di JPO Transjakarta. Terlepas dari berjualan di JPO itu dilarang. Terlepas dari display yang dia gelar itu gak menarik dan mungkin jarang dilirik orang. Gue mencoba mengerti walau gue juga sebel karena okupasi pedagang di JPO ini a little bit ngeganggu pejalan dan penyebrang. Gue terus-terusan mencoba memahami bahwa hidup orang itu beda-beda. Mungkin dia ini kepala keluarga. Mungkin dia gak tahu atau gak ada cara lain untuk make a living selain berdagang di JPO atau trotoar. Mungkin itu bentuk usahanya untuk menghidupi keluarga dan menyekolahkan anaknya? Gue gak tau sih, kan gue gak kenal. Tapi kalau iya, semoga lebih baik hidupnya, dikuatkan perjuangannya.

Dahulu, waktu gue masih SMK. Temen gue punya pacar. Saat itu adalah masa-masa sebelum ujian nasional. Temen gue ini, gue liat-liat sering gelisah. Dia gak pinter-pinter amat. Tapi dia baik. Hingga, setelah lama menduga di ujung sangka, gue akhirnya tahu kalau temen gue ini lagi hamil.

Hamil, belum lulus, dan belum nikah.

Gue hanya menyimak sambil mencoba ber-open minded. Mungkin dia punya alasan mahabijak semacam “Kita sama-sama sadar kok ya, kita sama-sama cinta, dan kita akan nikah pasca lulusan.” Kalau alasannya semacam ini mungkin gue gak akan sebel-sebel banget. Yang ironi, waktu ditanya kenapa sedih dan kenapa mau berhubungan badan diluar nikah, dia cuma gelisah sambil berucap “Ya gimana lagi, pacar gue bakal mutusin gue kalau gue gak mau.”

Bangsat.

Rasanya pengen menghujat. Entah menghujat lelaki yang menginterpretasikan cinta serendah itu, atau menghujat temen gue yang gak bisa tegas jadi cewek. Gue sedih karena dia buta menilai dirinya. Gue sakit hati karena dia harus merelakan perawannya untuk lelaki rendahan yang taunya cuma konak lalu main ngangkangin anak orang. Gak ada kualitasnya, gak ada yang bisa disombongin selain ngebacotin cinta murahan sebagai passing ticket untuk memuaskan ereksi.

Namun terlepas dari dosa, hamil, nilai UN yang minim serta hal-hal domino yang lainnya. Gue teramat menyesali temen gue yang tidak mampu melihat betapa berharga dirinya.

Dia tidak mengingat bahwa dia adalah anak kedua orang tuanya. Kebanggaan mereka. Anak yang digadang-gadang sebagai penerus keluarga. Seorang wanita. Yang cantik, yang tak kekurangan, yang bisa merasakan pendidikan, yang dipenuhi kebutuhannya, yang bisa makan tiga kali sehari tanpa puasa yang tak semestinya, yang punya mimpi, yang jadi kesayangan.

Gue gak mau mengurusi dosa karena itu urusan dia dan Tuhan. Gue gak akan ngomongin masa depan, karena kita gak pernah tahu skenario apa yang bisa Tuhan catatkan untuk setiap manusia-Nya, yang gue sayangkan, adalah temen gue yang tidak bisa mempertimbangkan bahwa dia adalah pribadi yang ada harganya. Pribadi yang mahal, yang seharusnya kalau dia gak ikhlas, dia gak harus menukar bahagianya hanya dengan beberapa jam kesenangan di atas ranjang.

Cinta?

Gue insyaallah percaya kalau temen gue ini cinta mampus sama pacarnya.

Lantas apakah salah?

Enggak. 

Yang salah adalah dia yang keliru mengambil langkah, yang salah adalah dia yang goblok memilih pacar, yang salah adalah dia yang luput menyadari betapa berharga harga dirinya.

Jika cinta itu indah dan mengindahkan. Seharusnya temen gue ini gak harus nangis dan gelisah kalau dia hamil di luar nikah. Kalau cinta itu tenang dan menenangkan. Seharusnya temen gue ini tidak buta dan melakukan hal yang tidak ingin dilakukannya.

Katanya, cinta adalah pengorbanan. Maka seandainya pacarnya temen gue ini paham konsep cinta. Seharusnya dia bisa menerima kalau hubungan badan bukanlah satu-satunya hal yang dikejar saat pacaran. Lagipula hubungan sex yang dibenci Tuhan paling cuma bertahan beberapa kali orgasme dan sudah. Lebih banyak sedihnya daripada ena-nya. Kalau memang cinta ini pengorbanan, kenapa nggak sadar diri dulu sih. Sadar keadaan pribadi yang belum siap, lalu menyiapkan diri. Sadar kalau kegiatan itu akan dimarah Tuhan lalu bisa tegas menolak untuk tidak.

Takut melukai pacar? Walau kisah cinta gue dulu gak indah-indah amat (syit), namun gue yakin bahwa cinta itu adalah perkara memahami. Kalau pacarmu menolak memahami, mungkin kamu salah milih pacar. 

Cinta itu serupa kata Magnificent. Lebih indah dari kata amazing, beautiful, lebih kuat effectnya hingga penutur aslinya bahkan enggak mampu menjabarkan besarannya. Dalam hidup ini, terkadang ada beberapa hal yang emang dari sananya tidak bisa  dijelaskan dan hanya boleh dirasakan. Mungkin, memang baiknya seperti itu. Lebih privilege.

Gue yakin kalau cinta adalah perkara yang signifikan. Cinta itu gak akan merusak apalagi merendahkan. Dan jika memang cinta yang kita alami itu indah maka seharusnya kita akan bahagia bercerita tentang sumber keindahan itu. Kita harusnya bercerita dengan tone yang ceria, bukan malah gelisah atau merana.

Pernah sadar gak sih, saat kita lagi jatuh cinta, maka kita benar-benar jadi orang lain. Kita jadi manusia yang begitu mengagungkan orang yang kita sayang hingga tingkat penggunaan logika kita menurun, jatuhnya goblokgasm.

Setiap orang yang lagi jatuh cinta kayaknya akan menghadapi fase goblokgasm ini. Ada yang bisa bertahan lalu bersama, ada yang tenggelam lalu merana. Pilihan hidup sih. Itu juga alasan Tuhan meminta umatNya buat berdoa. Biar selamat dari kegoblokan hidup ini. Kita kan makluk lemah. Kesandung dikit aja, jatuh. Disindir dikit aja, baper. Ditabrak truk sekali aja, mati. —Maka alangkah bijak saat jatuh cinta, kita berdoa. Merayu Tuhan agar dilancarkan segala rencana, dan kalaupun lagi goblok dipecundangi perasaan, kita masih tetap waras lantas menang. Wkwkwk

“Katakanlah: Aku berlindung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia, Raja manusia, sembahan manusia, dari kejahatan (bisikan) setan yang biasa tersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dada manusia. Dari (golongan) jin dan manusia” —An Naas: 1-6.

 

Cuma lagi bosen. Daripada kosong lalu kerasukan?

Kepada bulan yang bersinar dan langit sama yang mengatapi aku dan hati lemahku, sungguh, aku galau.

Gue yakin, gue kurang sibuk jadi manusia. Gilak gue jadi galau begini. Gue mikirin hal yang gak penting. Ngebaperin ketidakpastian, dan gobloknya masih bertahan. Gue selalu berharap gue kayak pahlawan. Yang kehadirannya memberi arah baru. Yang dikenang. Yang dicari kalau hilang. Yang nempel di uang seribuan. Yang bagus-bagus lah!

Tapi apa daya. Gue hanya manusia alay banyak bacot yang kurang ini itu.

Btw gue lagi galau. Gue galau hingga gue nulis di sini. Gue ke sini cuma waktu galau. Kalau galau, orang jadi produktif. Katanya, keresahan adalah something that moves you. Gue ya begitu. Sedang resah. Gue pengen hidup teratur seperti yang lain. Gue pengen konstan bangun jam 4.30 pagi, tidur jam 11 malam. Gue pengen begitu. Gue pengen maksimal kerja 9 jam setiap harinya. Gue pengen menikmati sosialisasi seperlunya. Belajar saat gue harus belajar, lalu sudah, pulang ke rumah. Gue pengen punya romance yang simple yet so beautiful. Gue memimpikan hal-hal yang teratur, terorganisir, rata, sama, dan tenang. Gue pengen punya dua anak, satu cowok, satu cewek. Rencananya, yang cewek akan gue kasih nama Kinan. Yang cowok akan gue kasih nama Dilan. Hahahaha. Gile aja sih ini. Belum nemu bapaknya, udah muncul nama anaknya. Goblok

Gue pengen tinggal di Jepang, jadi guru sambil ngebuka suatu usaha. Gue pengen ngebuka toko roti sama coffee shop. Gue pengen ngebuka toko roti karena gue suka suasananya. Gue suka dekorasi toko roti yang sarat warna coklat. Gue fancy ngeliat etalase bening penuh rentetan roti dengan berbagai hiasan yang memanjakan netra. Belum lagi kalau gue sudah melangkah masuk dan nostril gue dibuat mabuk oleh wangi roti yang baru keluar dari panggangan. Ahh, indah~ Entah, toko roti ini mengingatkan gue sama musim gugur. Padahal Indonesia gak ada musim gugur. Ajaib emang.

Sedangkan kopi, gue pengen ngebuka kedai kopi karena gue suka ngopi. Gue suka masuk ke coffee shop yang hangat dengan aroma kopi yang menguar kuat. Gue suka ngeliat barista kalem yang lebih banyak diam sambil meracik kopi, membiarkan remahan biji kopi remuk, tergeletak anggun di dasar gelas. Hingga ketika sang banyu menghujani, dianya tetap merebah, pasrah. Dia tahu akan mati, namun tekadnya tak basi. Mungkin dia khatam, dia akan hilang dengan tenang, bercumbu dalam-dalam. Dua elemen itu lantas menyatukan tubuh seakan jodoh. Gue melihatnya sambil terkagum-kagum. Asap penyatuannya itu loh! Enggak nguati.

Menyesap kopi dengan asap yang mengepul itu memberikan efek semacam orgasme.  Merasakan hangat, pahit, serta manis yang membobol asam rongga mulut, turun ke tenggorokan, hingga menerobos masuk ke perut adalah proses yang begitu mega, begitu luar biasa. Rasanya seperti disiksa oleh kenikmatan. Begitu enak hingga bikin gatel. Begitu gatel namun tak sanggup berbuat apa-apa. Heboh lah rasanya!

Hm.

Capek ini ngomongin kopi. 

Speaking-speaking, gue di sini bukan untuk mengisahkan mimpi gue. Gue juga tak berniat menceritakan kopi. Karna kopi adalah milik penikmatnya. Susah kalau harus ditafsirin. Kopi adalah kenikmatan surgawi bagi yang mengerti. Gue juga masih jauh dari paham. Jadi alangkah bijak jika kita tak berlebihan mengobral kopi jadi omongan. Daripada ngobrolin kopi, gimana kalau kita ngomongin orang? ( ͡° ͜ʖ ͡°)

Gue ingin bercerita tentang temen gue. Gue suka mengamati orang. Gue suka melihat orang. Gue suka menilai orang. Tapi gue enggak suka ng-judge. Gue bukan Tuhan. Gue  nulis dengan keyakinan bahwa setiap orang adalah sejarah. Dan gue gak keberatan jika harus menulis mereka dari sudut pandang gue. Gue sih percaya setiap orang adalah kesatuan masa lalu. Setiap keputusan yang mereka buat, terbias dari gabungan pengalaman terdahulu. Semua tingkah mereka ada alasannya, dasar logikanya. Itulah sebab gue menulis untuk mencerita, karena menghakimi manusia tanpa mengenal adalah bentuk pemusnahan karakter, dan itu gak baik.

Baiklah.

Temen gue ini cowok. Lelaki. Berbatang! *apasihayak~

Gue gak mau nulis namanya di sini. Pengennya sih nulis namanya. Tapi nanti doi baca trus nembak langsung ke gue. Enggak, gue gak siap di bully. Hahaha

Kalau gue bisa bisa mengandaikan. Temen gue ini serupa kucing berbulu alus yang malu-malu sombong. Malu-malu, tapi doi sombong. Gak pengen disentuh tetapi niat mendekat. Semacam kucing yang kalau dikejar marah. Kalau gak dikejar asal muncul, mamerin bulu alus, tubuh gemuk peluk-able, dengan dia yang berjalan didepan gue sembari ngode, “kejar aku ayak, kejar aku~” Kan sebel -_-

Sifat temen gue ini mirip ekonomi global, penuh ketidakpastian. Eaaa~ Kadang dia anget kek gorengan. Kadang dingin kek es teh plastikan. Sok-sok-an nganu. Sok-sok-an gak mau tau, tapi meredar melulu. Sungguh, lelaki macam begini nih yang bikin banyak kaum hawa jadi agresif. Gue beneran ngeliat dia serupa seekor kucing. Dia begitu alus, innocent, dan rasanya pengen gue lindungin dari kekotoran dunia. Wagelas bahasa gue bacit banget! :)))

Kata temennya, dia ini single. Waktu dibilang dia jomblo, dia cuma tersenyum sambil nunduk ke bawah. Mungkin dia malu.

Ih, bunda kamu ngidam apa, sih? Kamu yang malu, kok aku yang gemes? 🙂

Gue yakin, saat itu, kalau dia tak punya watak terlampau malu, mungkin dia akan misuh sambil bilang, “Anjay lu mas, gitu banget bikin gw malu!”. Dia sendiri bilang kalau dia gak punya pacar. Lantas gue bingung. Gue bingung kenapa dia belum punya pacar. Dia kan awesome yak. Gue yakin sih, doi banyak yang suka. Andai aja dia mau sedikit ngebuka hati. Mungkin sekarang doi udah nyiapain souvenir buat nikahan atau lagi janjiaan sama WO buat mesen gedung. Yakin, dia worthly banget buat dicinta. Selain karena dia lucu. Dia juga pinter. Gue sering belajar sama dia. Tapi belakangan gue jarang. Gue ngerasa udah terlalu banyak ngebacot. Jadi gue mau belajar mandiri. Gue berulang kali bilang kalau gue mau belajar. Tapi gue sibuk nonton Naruto. Gue sibuk nongkrong. Gue sibuk ngelakuin hal yang gak penting. Gue sanksi nanya mulu. Gue ragu bertanya atas perkara yang terlampau minor. Gue malu minta tolong disaat dia juga sibuk ngurus kehidupannya. Pun jika emang gue gak tau banget apa yang gue lagi kerjain. Gue mau, paling enggak, gue usaha dulu.

Gilak aja. Udah 4 bulan dan masih begitu bakal bikin gue mati kutu. Gue gengsi. Gue takut aja gitu. Takut kalau gue ternyata nanya hal yang super gampang dan dia mikir “Anjay, bisa mikir gak sih ini cewek, gini aja gak tau!” Huhu, kan pen nangis ya gue. Gimana coba kalau doi mikir gitu? Kan gengsi mampus. Lagian gue juga pernah bilang kalau gue mau belajar. Masak iya gue ngingkarin bacotan gue sendiri. Kan lol.

Dia ini taksa. Kadang kalau tetiba berpapasan di suatu perjalanan, dia hanya akan ngeliat gue sambil menampakkan gesture tubuh yang seakan bilang “Aya, get the fuck away from me. Gue sibuk. Gue mau kerja dan jangan ganggu gue! Inget ya Aya, jangan-ganggu-gue!” Namun tetiba juga suatu saat, dia akan datang ke kehidupan gue sambil bilang “Hai. Lagi apa?” Kan anjay!

 

 

 

Nyambung.

Diketik di komputer kantor nomor 9 dan selesai di pukul 23.32, hari ini Senin tertanggal 3 di penghujung tahun, tahun 2018. Didepan gue ada si Al, nama lengkapnya Muhammad Alvian Cahya. Dia lagi bosen keknya nunggu gue. Jadi gue sudahin dulu ya ngomongin orang begini. Mau pulang kos, shalat, lantas marathon ngeliat Naruto eps. 76.