proyek adb

Kulihat kau cium mesra pipi kirinya. Cewek yang kau cium hanya menunduk sambil cemberut. Mungkin kau gemas lantas nekat dia kau cium. Mungkin ku gemas lantas nekat kau kusayang.

tuhan, marka, lalu safir.

Aku sampai pada titik di mana hatiku begitu sakit saat merindumu, lalu kucari pertolongan dengan salat. Aku tak tahu bagaimana harus mencintaimu.

Kalau boleh memilih, tak akan sudi aku mencintamu, terlalu merepotkan. Pun jika kupaksakan, aku akan berbuat zalim, dan kita akan sedih masing-masing.

Aku sudah menganalisis puluhan kemungkinan, tapi berakhir lancut. Seperti maling, yang salah, walakin Tuhan mengizinkan lantas selamat. 

Terlepas dari kita yang melafalkan Allah dengan bunyi yang berbeda, yang satu, pun tetap satu-satunya, tetaplah Dia yang sama sehingga aku tenang.

 

Sehat-sehat. 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Marka kepada Safir. Bagian sisipan dari cerbum receh: Markaaa, Aku Padamu!

 

 

sunny

20181118_192450

 

Suatu hari nanti, akan ada orang yang jatuh hati padamu, begitu saja.

i used to think kalau cinta sama orang, wajib hukumnya buat diungkapkan. kita gak boleh cuma pasrah nerima keadaan dan berharap doi tbtb cinta sama kamu. hm, bangun, kamu kebanyakan bego

aku percaya cinta harus diusahakan. percaya kalau we have to take that fricking lead. percaya bahwa kalau cinta, ya harus divokalkan, supaya keduanya sama-sama tahu, sama-sama tak ada beban (atau malah bikin beban?) wkwk

kalau suka: ngomong. ngerasa gak pantes, yaudah perbaiki diri, mau ngapain lagi njir? yakale lo ngerasa gak pantes trus diem aja, tak usahlah repot-repot ngomongin cinta kalau memperbaiki diri aja kamu gak mau. halu

gw gak masalah bilang cinta. dahulu pernah suka sama mas-mas lulusan pondok pesantren, calon sarjana ekonomi yang kebetulan magang ppl di smk. dan lord, dengan seluruh kebesaran hati, bisa dengan bangga saya akui: dia adalah cinta pertama!

cintaku sama mas-mas ini begitu radikal. begitu dalam sampai ke akar-akar. semua yang dia lakukan indah. diamnya menyejukkan. kata-kata yang keluar dari mulutnya serupa serial drama maraton, yang sejatinya sungguh tidak penting, tapi candu!

sehingga, sebagai seorang pecinta yang profesional. tentu aku harus jemput bola. kelamaan kalau nunggu dia tbtb saranghae sama aku. yang aku lupa, kesenjangan di antara kita begitu kentara. saat itu aku baru duduk di kelas 3 smk, masa-masa sebelum ujian nasional, yang akunya masih alay, gobs, gak tahu diri, clumsy, dan emo! wkwkwk

sedangkan mas-mas ini. dia sudah di semester 8 pendidikan ekonomi uny, sedang mengerjakan skripsinya, kelahiran 89, dan hamba tuhan yang nampaknya dewasa taat

melihat kondisi ini, tentu saja aku gamang. mau diperjuangkan bagaimanapun, sulit kiranya membayangkan dia bisa cinta sama anak alay kayak aku 😥

tapi dasar benar pujangga berkata: cinta itu buta. maka butalah saya. huahahahaha

you know, i never regret one damn thing. yaelah, hidup cuma sekali. kita gak pernah tahu  rencana tuhan seperti apa. kalau anjing yang konon katanya akan selalu bermusuhan pun bisa temenan, kenapa gw enggak? (bisa jadian sama dia ya, bukan temenan sama anjing) -_-

lantas, berangkatlah saya mengejar cinta

tebak, apa hal pertama kali yang aku lakukan, gais?

minta nomornya!

Hahahahahahahaklisebangetanjinghahahahaha

dan begitulah semua mengalir, basa-basi itu, nanya kabar lagi di mana udah makan apa belum itu, pura-pura gak tahu materi ekonomi lantas sok-sok-an nanya itu.

gw gak tahu apakah anak sma/smk zaman jigeum juga merasakan hal yang sama. tapi fyi, dahulu, bisa sms-an sama anak kuliah yang magang di smk adalah prestasi yang wah. sebuah pencapaian yang seakan mengatakan “gils, keren banget bisa sms-an sama mas ini…mas itu…”

contoh kasusnya, saat aku lagi sepedaan pulang sekolah, satu temen satu sekolah yang beda jurusan tbtb menyamai kayuhan sepedaku, chit-chit sebentar lalu bilang: “eh aya, kamu sms-an sama mas x, ya?”

pengen ilang “yaiyalah, gw!” takut dilabel sombong, sehingga cuma terlontar “iya” penuh ketidakacuhan sambil menahan hati yang jingkrak-jingkrak gak karuan

padahal tahun 2012, kita cuma berhubungan via sms. sms doang! gak main ig, gak kode-kode via status whatsapp, gak manja-manjaan di skype segala macem. segalanya hanya mengandalkan sms. itupun bisa telaten gegara bonusan operator yang kalau pulsamu di bawah 5k, dapet gratisan 50 sms setelah kirim dua sms, dan jika kebetulan agak kaya dan bisa ngisi pulsa 10k, dapet gratis 100 sms pascakirim 2 sms. bisa greget gitu sih. mungkin karena saat itu apa-apa serba susah, itulah sebab segala hal kecil benar-benar diapresiasi.

ngomong-ngomong, itu baru ngomongin nggodain orang via sms, kau mungkin gak bisa membayangkan betapa jantung berhenti berdetak saat hp-mu berbunyi dan ADA NAMANYA NEMPEL DI LAYAAAR! WUUAAAAAAAA BUBAR AJA BUBAR!

 

elu juga gitu gak sih? saat lu jatuh sama orang, maka apa pun yang dia lakukan membuat hatimu tbtb terasa kayak ditusuk (njir analogi gw), pokokknya, hatimu macam tersundul tapi kamu bahagia, kadang begitu keras hingga susah nafas? huh, jangan-jangan gw doang. gw jarang jatuh cinta, sekalinya iya, so deep bebi. sedih 😥

 

lalu kita begitu. nelpon malam-malam, masih dengan alasan klasique: nanya materi pelajaran ekonomi. padahal mah cuma pengen ngebacot sama dia, padahal cuma pengen denger suaranya

masih ingat. masih sangat-sangat ingat, satu rayuan monumental kala ikhtiar making him mine:

 

gw: eh mas, lagi sibuk?

him: enggak dek (anjay dipanggil dek, trauma sekarang dipanggil dek). ada apa?

gw: mau tanya, boleh?

him: iya, boleh. nanya apa?

gw: mas kan lulusan pesantren? bisa dong ngubah bahasa indonesia ke arab?

him: insyaallah bisa. kata-katanya apa?

gw: gini:

aku mencintaimu karena kesederhanaanmu. aku tertarik padamu karena kedekatanmu dengan Allah. 🙂

GELI BANGET ANJIR. BERASA PENGEN BUNUH AJA ITU AYAK ALAY!!!

him: oh, gini, dek:

Ana uhibukkaxxxxxx. Xxxxxxxx. Uhibukkaxxxxx. Xxxxxx.( gw lupa Arabnya 🙂 )

gw: oh, makasih, mas.

him: emang buat siapa, dek?

gw: buat mas.

 

ANJAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAY. DI TITIK INI GUE PENGEN LONCAT DARI RUMAH TAPI RUMAH GW CUMA SATU LANTAI! GILS GILS GILS. POKOKNYA YOLO GILS. JANTUNG GUE YA ALLAH, JANTUNG GUE YANG NUNGGU ITU SMS BALESAN. JANTUNG GUE MAU COPOT YA RABB!

 

him: buat aku? kok bisa?

gw: iya.

him: maksud aku kenapa bisa cinta sama aku? sejak kapan? kok bisa sih, dek?

gw: kenapa? emang cinta harus beralasan?

 

 

 

fuuuuuuuuuuuuck.

 

 

 

 

lalu seperti itulah. jadilah gw nembak doi via sms. cupu banget. tapi bodo amat. lagian otak anak kelas 3 smk sejauh mana sih bisa mikir? yang jelas gw udah nembak dia, dan komunikasi kita tereskalasi setelahnya: gw mulai intens nunggu sms-nya, nunggu teleponnya, dia yang nelpon di waktu shubuh buat ngingetin salat saat gue sendiri masih ngiler. asik

hingga suatu ketika, saat gue masih alay dengan sms-telpon cinta-cintaan anjir itu, dia melempar satu pertanyaan yang kemudian menjadi titik balik seluruh perasaanku.

“emang apa yang kamu harapin? pacaran? aku gak kayak gitu, dek. aku lebih milih nikah. ketemu keluarga, dan segala macamnya”

saat itu, saat itu juga gue sadar kalau gue belum siap. gue belum siap menikah. masih mau zina (syit). belum siap berkomitmen. belum siap. takut. gue masih kelas 3 smk. ada banyak ambisi yang harus gw kejar. dan gue gak bisa mengikat diri dengan manusia sedewasa itu. it was such a hard falling!

setelahnya, hubungan kita gak lebih dari adek-kakak. gue juga belum sempet nembak secara langsung sebab di senin pagi saat mau ngomong di depan dia, dia kecelakaan. matanya luka. jadilah gw menjenguk dan tak ngomongin cinta sama-sekali

yang jelas, saat itu gw puas, puas sudah berusaha untuk menunjukkan rasa cintaku, jujur sama perasaanku, dan dari pengalaman itu, gw sadar kalau gw ini cuma kemakan ego dan belum benar-benar siap.

gw sih gak apa. hubungan kita masih baik-baik saja. gw paham kalau dia cuma nganggep gw adek. gw banyak belajar. gw banyak sadar. dan patah-patah itu indah. indah karena left message sehingga aku sadar mana yang memang jodoh mana yang tidak. gw puas karena gw nggak harus merasakan belum pernah mengungkapkan itu perasaan.

tapi tak apa, semuanya tetap indah kalau dikenang (anjay~).

mungkin cinta emang begitu, seperti beramal: dikasih begitu aja. tanpa ada pamrih, tanpa berharap dia akan sama cintanya sama kita

cinta itu harus ikhlas, diberikan begitu saja, tanpa memaksa untuk balik dicintai, tanpa harus membuat orang lain kasian atau terbebani

pun kalau ditolak, doesn’t mean you are less than others. gw malah kagum sama orang-orang yang mau yolo mengutarakan perasaanya: they gamble it all, no regret, no later

gak usahlah mikir malu, beda agama, takut ditolak, gak sederajat, hadeh, ribet! kalau cinta, yaudah cinta aja

di sisi lain, gw juga menolak cinta, bukan karena mereka gak baik, simply karena gw-nya yang gak cinta. usaha mereka keren, tapi gw gak tersentuh. mereka baik, tapi gw gak tertarik. saat itu, gw kemudian mengingat cinta orang yang mencintaku lalu kutolak, dan gw yang mencintai orang tapi bertepuk sebelah tangan

gw sadar, bahwa sekeras apapun usahaku, seheboh apapun basa-basi alay yang gw lakuin. kalau dasarnya dia gak cinta sama aku, ya gak bakal jadi. bukan karena usahaku gak keras. bukan karena gw lekas nyerah. tapi karena DIA YANG EMANG GAK CINTA SAMA AKU. dan itu gak apa. gak apa. gak apa sama-sekali.

karena aku sadar, sama seperti aku yang cinta sama mas-mas UNY ini dengan begitu saja, ada saatnya kita akan bertemu dengan orang yang cinta sama kita, begitu saja

yang dia gak berusaha, yang dia diem aja, yang kata-katanya gak penting, yang dia gak ngapa-ngapain, yang biasa aja tapi kita bisa cinta. se-begitu itu. semudah itu

sama kayak aku yang sebegitu saja cinta sama dia dan mereka yang sebegitu saja cinta sama aku. untung-untung kalau kita beruntung: orang yang kaucinta, ternyata punya rasa yang sama, atau itu cinta tumbuh pelan-pelan sebab usaha-usaha yang kita lakukan, kebetulan yang mahaasik: kita gak pernah tahu.

itulah sebab aku masih percaya bahwa kalau cinta: OMONGIN. masalah ditolak paling cuma perkara malu beberapa hari. kalau tengsin sekantor yaudah resign. kalau sekampung yaudah migrasi. kalau bisa dewasa dan move on, yaudah, good!

tapi yang inti adalah, kita harus berani mengakui perasaan sebelum semuanya sulit. omongin aja dulu, siapa tahu doi juga diam-diam mencintamu tapi lo gak pernah tahu, kan lo gak pernah nanya?

pun kalau kau ditolak dan patah hati, mikir gini aja: suatu hari nanti, akan ada orang yang jatuh hati padamu, begitu saja.

 

 

 

 

 

Ditulis saat sedang jengah seharian ngurus terjemahan, dan tbtb tersentuh sama lagunya Simple Plan-Perfectly Perfect yang begitu saja terputarkan.

i prepare for the worst, always

//Audio Blog//

I prepare for the worst, always.

Kadang, manusia itu terlalu take it for granted. Terlalu nyaman dengan keadaan. Terlalu gak sadar diri.

Aku, contohnya. 

Kadang kita baru bener-bener bisa mikir kalau udah kejepit aja. Saat dunia lagi remuk. Saat gak ada yang bisa diandalkan. Saat “Ya Allah, aku harus bagaimana?” terucap. Saat semua temen tetiba jadi orang yang paling jahat. Saat semua yang bisa lo percaya, mendadak lenyap. Saat template hidup baik-baik saja ternyata tak sebaik itu. Saat itu. Udah deh, bubar!

Maka ya, pada akhir hari, semuanya akan kembali lagi ke diri sendiri.  Ke semua yang dipunyai diri. Ke aku sendiri. Bukan dukungan teman. Bukan senyum-senyum formalitas. Bukan mereka yang bilang “Sabar, ya.” Bukan orang yang lo sayang yang lo harap bakal kasih manis manis gula Jawa. Bukan. Bukan. Bukan.

Ini bukan tentang aku yang gak menghargai semua orang yang berani invest ke hidup aku. Ini bukan perihal aku yang gak bersykur punya temen yang perhatian. Aku hanya menyadari. Gak peduli semua sapa santun default dan glitter itu, pun semua akan tetap hilang saat kita udah bilang “Gue pulang dulu, ya.” lalu kita masuk ke kamar, terlentang menatap atap kamar, nanar.

Kecuali pihak-pihak yang entah setia atau terlalu goblok, yang masih mau sama aku, yang tetap menghubungi, atau datang ke rumah, yang gak bisa aku usir, hanya buat tanya “Ada apa, sih, yak?” Aku pernah punya orang-orang kayak gitu. Gue gak tau lagi sih, mereka itu temen macam apa. 

Karena ya, gitu. Capek aku njelasinnya. Yang jelas aku lagi males ngomong. Hancur hati. Pengen nangis. Dan mau tenggelam, saja!
Karena ya, gitu. Saat elu sadar elu goblok, dan elu malu, merasa jadi manusia yang gak bisa take control, goblok, anjing, dan sial karena kepecundanganmu, maka hasilnya udah bisa ditebak, aku hanya bisa menyalahkan aku, mana bisa aku taklif menyalahkan orang lain? Shit!

Saat semuanya hiruk hancur lantah tak beraturan. Saat elu sadar elu yang jadi pusaran dari semua penyesalan, saat mau ngomel pun terlanjur sia-sia, saat itu lah elu sadar, kita sadar, oh, mungkin, in this case, aku sadar, kalau hanya aku dan aku sendiri saja yang bisa aku ajak ngomong. Gue ajak nyari penyelesaian atas semua shitty things yang terjadi. Aku yang harus ngurusin, get a hold of my myself, sadar diri.

Pada akhirnya, toh kita akan kembali bertahan dengan segala resources dan kemampuan apa-adanya-kita. Kembali dengan apa yang kita punya aja. Mikir ke depannya mau ngapain. Mikir ke depannya bisa makan apa enggak. Mikir ke depannya mau tinggal di mana. Lalu start the whole brand new world. Emang kayak gitu. Gue terlalu mudah menyerah dan terlalu optimis dengan brand new thing shit!

I prepare for the worst, always.
Saat jatuh, dalam. Saat itulah kadang kita baru nggeh. Baru sadar kalau kita bego. Goblok. Terlalu oke in aja ajakan orang. Terlalu kuy lah. Terlalu manut enaknya gimana. Gak ada pegangan. Gak ada keyakinan. Sebenci-bencinya aku sama karakter manusia. Aku paling benci sama manusia yang gak bisa menentukan sikap. Yang gak tahu mau kanan apa kiri. Mau santai atau ngebut. Mau hitam atau putih. Aku benci aku.

Aku benci aku yang gak bisa menentukan sifat, sikap. Aku benci aku yang gak punya pendirian. Aku benci aku yang bilang “Iya.” hanya demi menjaga hati mereka dari luka. And it ended up me being hurt, again, fool!

Aku benci aku yang menyesali sikapku. Aku benci segala ketidakpastian yang tidak aku pastikan. Arsiran yang tidak aku tegaskan. Hal benar yang tidak aku perjuangkan. Penyesalan yang tidak bisa aku tolak. Aku pengen pulang!

i give it to god, and go to sleep.

//Audio Blog//

 

Tertekan/

Kata orang, aku sedang jatuh cinta.

Kata bunda, aku harus hati-hati.

Kata koran, aku bisa diperkosa.

Entah karena asmara, lalu melecehkan norma,

Entah aku yang berbahaya, kurang tegas jadi wanita.

 

Aku merenung lantas berdoa.

Semoga aku dilindungi.

Dari bisikan setan yang mengatakan, “Sudah, kejar.”

Atau kebakaran hati yang meraung-raung ingin dipertemukan.

 

Kata orang, aku sedang tidak stabil.

Aku buta, katanya.

Entah karena tak mengenal tapi mengikat.

Entah karena dungu, memilih begitu.

Serupa khamr yang dosa, menumpulkan logika.

Bagai aku yang sepertinya mencintamu namun diminta waspada.

Entah, apa yang harus diresahkan dari hati yang merasa?

 

Hatiku kaku di persimpangan.

Membeku perih, diminta bertahan.

Ingin memeluk tapi dihalang-halang.

Pilu!

 

Katakan, aku bisa apa jadi pecinta?

 

 

Rokok/

Aku suka memandangmu saat kau melamun.

Kau seksi.

Entah, jarang sekali aku menyebut manusia seksi.

Benar kiranya Tuhan meminta, “Jaga itu pandangan.”

Adalah kadar mauku yang tidak sekadarnya.

Adalah musebab otakku penuh hal nakal.

 

Aku suka melihatmu terdiam.

Nampak kesepian namun bukan.

Kau hanya memuja ketenangan.

Dengan aku yang tak apa membunuh waktu.

Membunuh kewarasanku.

Asal bersamamu.

 

Aku suka mengamatimu saat kau berjalan.

Saat kau butuh waktu luang, dan keluar.

Saat kau melangkah lalu tetiba berhenti.

Yang kembali saat kau kelupaan.

Yang bingung saat ada yang hilang.

Yang kau canggung, lalu lucu.

Yang bagaikan paket komplit.

Ditolak gak mungkin.

Dikejar sulit.

Kau menyebalkan.

Begitu menggemaskan!

 

Aku suka menatapmu merokok.

Saat kau menyulutkan api kepada ujung yang penyakitan.

Yang menyala lalu kau hisap.

Yang kepalamu menengadah ke atas.

Lalu asap mengepul tinggi.

Lalu kau kelihatan ranum.

Dadaku sesak melihatmu begitu.

Aku jadi ingin mencium-mu.

 

 

Rencana/

Katamu kau suka sendiri.

Menonton film yang sudah kau kotak-kotakan.

Atau bermain dengan kucing liar yang kau selamatkan.

Aku sedih, aku kesepian.

 

Katamu kau mau menapak Roma bersamaku.

Kala itu aku memaksa, dengan senyum berlebihan.

Harapanku juga berlebih.

Kau mengiyakan walau aku melihat ragu.

 

Belum lepas sebulan, kembali ku konfirmasi.

“Masih niat main ke Roma?”

Kau bilang, “Maaf tidak, aku ada hajatan.”

Ku tempel tawa di bibir, getir di hati.

Matamu tak pernah berbohong.

Dan hatiku tak pernah berdusta.

Maaf, aku cuma cinta, harusnya tak memaksa.

 

 

 Loggia/

Tiap matahari datang dan embun wafat, menguap.

Aku tersenyum, beralasakan harap.

Aku bersyukur.

Hatiku selamat, bebas sekarat.

 

Tiap temanku sibuk, mengantri atensi.

Aku resah, apa kau sudah makan?

Kau terpaku pada pekerjaan.

Dengan sesekali bersosialisasi.

Waktu aku bilang, sesekali, itu adalah ungkapan denotasi.

Karna basa-basimu tak bertahan lama.

Kau memilih berpusar ke cangkangmu.

Dan sibuk mengurusi negara.

Dengan aku yang sibuk mengurusmu, dalam metafora dan sendu-sendu udara.

 

Tiap aku keluar dan menikmati panas yang suam-suam.

Aku lihat kau makan.

Hah. Betapa-ini-merepotkan-Tuhan? 

 

Lalu aku bermain peran. Drama.

Apapun asal tujuanku tercapai.

Jahat, kah? Aku sih bilang ini berjuang.

 

Kita berbincang hingga terang tak kelihatan.

Malam.

Dan kau pamit, pulang.

Katamu, “Badanku tak kuat.”

Kau tak mampu melawan alam.

Aku tak mampu memaksakan niatan.

Lalu aku sok mengusirmu.

Bilang, “Mamamu mencarimu, segera lah pulang.”

Kau lantas bilang.

Baik. “Kau juga, segera lah.”

Aku hanya bilang, tenang.

Lalu kau benar-benar berkemas, hilang.

 

Tentu saja aku jadi sendirian.

Duduk, memandang langit.

Angin di luar melewatiku sambil mencemooh.

“Kau, pecundang.”

 

Aku hanya tertawa.

 

 

Tuhan/

Lalu aku mulai berbincang tentang Tuhan.

Topik yang religius? Jelas.

Tentang kawanku yang terkadang nyeletuk, “Elu yakin?”

Yang aku hanya bilang, “Lihat nanti aja gimana.” 

Tak lupa dipungkasi dengan tawa.

Biar keliahatan tegar.

Bakoh.

Padahal njero ati koyo sapu jiting tanpo tali,

Ambyar!

Wkwk.

 

Bismillahirrahmanirrahim

Kalau di-Indonesia-kan, “Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang.”

Ini kalimat mahaelok.

Sering disebut setiap memulai suatu kebaikan.

Aku pun suka menyebut ini saat berdoa.

Karena mendoakanmu, untukku, adalah bagian dari kebaikan.

Terkadang, semesta seakan mengingatkan, “Mimpimu itu, gak mungkin kejadian.” 

Aku, sebagai manusia seperti kebanyakan, tentu aku baper.

Lalu aku mengadu pada Tuhanku.

Lalu aku berdoa.

Meminta pada Yang Punya.

Meminta pada Yang Kuasa.

Meminta pada Yang Memampukan.

Menulikan diri atas dunia dan semua asumsinya.

Menyerahkan harapku pada Tuhan.

Lalu tidur.

 

 

 

 

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ

“Dan Tuhanmu berfirman, “Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu..” (QS Al-Mu’min: 60).
(لاَ يَرُدُّ الْقَضَاءَ إِلاَّ الدُّعَاءُ، وَلاَ يُزِيْدُ فِى الْعُمْرِ إِلاَّ الْبِرُّ) -الترمذي-

“Tidak ada yang mampu menolak takdir Allah kecuali doa, dan tidaklah menambah usia kecuali kebaikan”. (HR. Tirmidzi)

 

 

 

pecundang, lagi curhat

ꦩꦺꦴꦂꦫꦶꦱ꧀ꦱꦺꦪ꧀ – ꦲꦺꦮ꦳ꦾꦸꦮꦺꦮ꦳ꦼꦂꦱꦶꦤ꧀ꦤ꧀ꦢꦺꦫꦺꦲꦶꦤ꧀?

ꦤ꧀ꦢꦼꦩꦺꦴꦂ​ꦪꦸ​ꦲꦶꦒ꧀ꦤꦺꦴꦂꦩꦶ꧈​

ꦤ꧀ꦢꦼ​ꦕ꧀ꦭꦺꦴꦱꦼꦂ​ꦲꦲꦶꦒꦺꦠ꧀꧉

ꦪꦺꦴꦂ​ꦮꦱ꧀ꦠꦶꦁ​ꦪꦺꦴꦂ​ꦠ​ꦲꦶꦩ꧀꧉

ꦤ꧀ꦢꦼꦩꦺꦴꦂ​ꦪꦸ​ꦲꦶꦒ꧀ꦤꦺꦴꦂꦩꦶ​꧈​

ꦤ꧀ꦢꦺ​ꦕ꧀ꦭꦺꦴꦱꦼꦂ​ꦲꦲꦶꦒꦺꦠ꧀꧉

ꦪꦺꦴꦂ​ꦮꦱ꧀ꦠꦶꦁ​ꦪꦺꦴꦂ​ꦠ​ꦲꦶꦩ꧀꧉

ꦲꦲꦶ​ꦮꦶꦭ꧀ꦧꦶ꧉

ꦲꦶꦤ​ꦤ꧀ꦢꦼꦧꦂ꧉​

ꦮꦶꦛ꧀ꦩꦪ꧀ꦲꦺꦢ꧀꧉​

ꦲꦺꦴꦤ꧀ꦤ꧀ꦢꦼꦧꦂ

ꦲꦲꦶꦩ꧀ꦤꦲꦸ꧈​

ꦲꦺ​ꦱꦺꦤ꧀ꦠꦿꦭ꧀ꦥꦂꦠ꧀꧉​

ꦲꦺꦴꦥ꦳ꦾꦂ​ꦩ​ꦲꦶꦤ꧀ꦱ꧀ꦭꦤ꧀ꦱ꧀ꦏꦺꦲꦶꦥ꧀꧉

ꦮꦺꦛꦼꦂ​ꦪꦸꦏꦺꦂ꧈​

ꦲꦺꦴꦂꦢꦸꦤꦺꦴꦠ꧀

ꦪꦺ​ꦲꦃ꧈​ ꦲꦮ꦳꧀ꦩꦺꦲꦶꦢ꧀ꦲꦥꦾꦺꦴꦂꦩꦲꦶꦤ꧀

ꦤ꧀ꦢꦼꦩꦺꦴꦂ​ꦪꦸ​ꦲꦶꦒ꧀ꦤꦺꦴꦂꦩꦶ꧈​

ꦤ꧀ꦢꦼ​ꦕ꧀ꦭꦺꦴꦱꦼꦂ​ꦲꦲꦶꦒꦺꦠ꧀꧉

ꦪꦺꦴꦂ​ꦮꦱ꧀ꦠꦶꦁ​ꦪꦺꦴꦂ​ꦠ​ꦲꦶꦩ꧀꧉

ꦤ꧀ꦢꦼꦩꦺꦴꦂ​ꦪꦸ​ꦲꦶꦒ꧀ꦤꦺꦴꦂꦩꦶ​꧈​

ꦤ꧀ꦢꦺ​ꦕ꧀ꦭꦺꦴꦱꦼꦂ​ꦲꦲꦶꦒꦺꦠ꧀꧉

ꦪꦺꦴꦂ​ꦮꦱ꧀ꦠꦶꦁ​ꦪꦺꦴꦂ​ꦠ​ꦲꦶꦩ꧀꧉

ꦧꦶꦮꦼꦂ꧈​

ꦲꦲꦶꦧꦶꦂꦩꦺꦴꦂꦒꦿꦢ꧀ꦗꦼꦱ꧀꧉

ꦛꦺꦤ꧀ꦭꦺꦴꦤ꧀ꦭꦶꦲꦲꦶꦒ꧀ꦕꦺꦴꦲꦸꦂꦠ꧀ꦗꦢ꧀ꦗꦺꦱ꧀꧉​

ꦮꦺꦤ꧀ꦪꦸꦱ꧀ꦭꦶꦥ꧀꧈​

ꦲꦲꦶꦮꦶꦭ꧀ꦏꦿꦶꦥ꧀꧈​

ꦲꦶꦤ꧀ꦠꦸꦪꦺꦴꦂꦛꦺꦴꦠ꧀ꦱ꧀

ꦭꦲꦶꦏ꧀ꦲꦼꦧꦺꦢ꧀ꦢꦺꦧ꧀ꦠꦱ꧀

ꦛꦺꦢꦾꦸꦏꦺꦤ꧀ꦠꦥꦺꦪ꧀

ꦠꦺꦲꦶꦏ꧀ꦤ꧀ꦢꦼꦲꦶꦱꦶꦮꦺꦪ꧀

ꦲꦺꦤ꧀ꦒꦶꦮ꦳꧀ꦲꦶꦤ꧀

ꦪꦺꦪꦃ꧈​ꦲꦺꦤ꧀ꦭꦠ꧀ꦩꦶꦲꦶꦤ꧀

ꦎꦃ꧈​ꦭꦺꦠ꧀ꦩꦶꦲꦶꦤ꧀

ꦎꦃ꧈ꦭꦺꦠ꧀ꦩꦶꦲꦶꦤ꧀꧉​

ꦭꦺꦠ꧀ꦩꦶꦲꦶꦤ꧀꧉​

ꦲꦶꦠ꧀ꦱ꧀ꦮꦂ꧉​

ꦲꦶꦠ꧀ꦱ꧀ꦮꦂ꧉​

ꦲꦶꦠ꧀ꦱ꧀ꦮꦂ꧉​

ꦲꦶꦠ꧀ꦱ꧀ꦮꦂ꧉​

ꦲꦶꦠ꧀ꦱ꧀ꦮꦂ꧉​

ꦮꦂ

ꦮꦂ

ꦮꦂ

ꦮꦂ

———

Note:

ꦤ꧀ꦤ꧀ꦢꦺ : nnde.

saat ratri

Ratri menuju Fajar. Ratri singgah di tengah-tengah. Ratri lelah Ratri bingung.

 

Hei.

 

Ratri bersuara sambil ruku’. Dia menatap kirjailija sembari sebal. Ratri ngos-ngosan. Nafasnya balapan.

 

Hei bangsat.

 

Ratri sebal, masih sebal, sebalnya lebih besar. Ratri berteriak. Ratri murka. Ratri masih ruku’. Nunduk 90 derajat. Siku-siku. Posisi shalat orang Islam. Begitu Ratri masih ngos-ngosan. Sedari tanggal 10 dipaksa jalan. Tanpa istirahat tanpa makan. Tanpa gizi tanpa anjuran. Keringat mengalir deras. Rambut Ratri jadi lepek. Lepek dikit, rambut Ratri masih bagus. Masih berwarna coklat. Coklat kusut. Rambutnya panjang bergelombang. Rambutnya lemas, jatuh ke bawah. Rambutnya diikat sebagian. Diikat ke atas dengan tali Jepang. Diikat kencang ber-butterfly knot. Saat ruku’, saat istirahat dari jalan yang terus-terusan, sebagian rambut Ratri jatuh. Jatuh di kiri wajah. Jatuh di kanan wajah. Kanan kiri kompak jatuh. Ratri pakai blouse. Blouse-nya panjang. Hitam kebiru-biruan. Di bagian kerah warna putih. Di dua pergelangan warna putih. Blousenya Ratri halus. Seperti sulaman. Seperti sulaman nenek. Seperti disulam tapi tidak besar-besar. Seperti disulam tapi kecil-kecil. Jadinya halus. Jadinya tipis. Nempel ikhlas di badan Ratri.

 

Gak usah sok serius bangsat!

 

Masih teriak. Masih keras. Blouse Ratri dimasukkan ke rok. Ratri memakai rok. Roknya polos. Tak ada pola. Tak ada corak. Ratri sukanya begitu. Warnanya coklat tua kemerahan. Seperti warna musim gugur. Ratri belum pernah menghidup musim gugur. Ratri hanya baca buku, jadinya tahu. Rok Ratri tebal. Roknya panjang. Begitu panjang, menghubung perut hingga pergelangan. Pergelangan mata kaki. Sampai di sana ketemu sepatu. Ratri suka pakai sepatu. Sepatunya berwarna hitam. Hitam pekat. Seperti Ratri kalau mendung. Seperti arang kalau diam. Semuanya dingin kecuali bibirnya. Bibir Ratri yang bergincu. Ratri suka pakai gincu. Yang merah. Yang marun. Yang warnanya merah marun. Ratri suka warna itu. Warna daun jati yang ditumbuk. Warna merah marun. Ratri suka bangga. Ratri suka berkaca. Dengan marun di bibirnya. Dengan marun yang membingkai senyumnya. Kulit Ratri kuning langsat. Namun belakangan agak gelap. Ratri lagi hobi main layangan. Kulit Ratri jadi belang. Ratri—

 

Bentar lagi ketemu fajar. Jangan bego, bangsat!

goblokgasm

CINTA, KATANYA? Wkwk. 

Pernah sadar gak sih, saat kita sedang jatuh cinta, kita benar-benar jadi orang lain.

Suka sama orang, dan semua indra kita tetiba bisa bekerja dengan lebih baik. Saat lagi mendamba, maka semua kegiatan dan hal kecil yang dia lakukan berubah menjadi semacam candu. Rasanya seperti diperbudak perasaan. Pengen cuek tapi gak bisa. Pengen diperhatikan tapi takut ngeganggu.

Benar kata Raisa, serba salah. 

Ya mau gimana lagi, namanya juga urusan hati. Apalagi kalau sudah cinta hingga mulai lancang ingin tahu. Kita jadi manusia yang mengganggu. Serupa lalat madu yang nempel di es dawet. Semuanya jadi ruwet. Semuanya harus serba de e. Kita harus tahu apa yang dia makan, apa yang dia suka, kenapa dia sering berangkat pagi, kenapa dia hidup, kenapa dia suka menyendiri, kenapa dia suka pakai sepatu warna hitam, dia punya berapa saudara, umur berapa saudaranya, sebelum bobo’ dia ngapain ya. Dia meluk guling gak ya. Eh kok dia diem sih?  Dia kenapaaaa?

Repot, bosqu? 

Kita jadi repot, ngrepotin diri dengan kepo. Jadi hollow lalu bego. Begitu hebring hingga lupa sama kerja. Kabeh kegiatanmu isine gur halu. Kita jadi aneh. Suka senyum saat dia bercerita. Ketawa dengan guyonan recehnya. Mendadak sedih saat dia sakit.

Itu belum kalau dia digosipin deket sama cewek lain lalu kamunya baper. Baper meradang lalu sedih. Sedih berlarut namun confused harus gimana. Semakin remuq kalau manusia yang kamu suka ternyata gak peka. Entah gak peka atau pura-pura innocent. Entah innocent atau dianya pemalu. Entah pemalu atau dianya yang gak suka sama kamu. Wkwk

Yang lucu (dan kekanak-kanakan), saat suka sama orang, kita bertendensi untuk menampakkan sikap yang kontradiktif. Sok-sok an cuek padahal peduli. Bertingkah santai padahal tegang. Pura-pura gak tahu, pura-pura butuh bantuan, pura-pura nanya padahal modus! 

Hm. 

Katanya, cinta itu goblok. Yang goblok bukan cintanya. Yang goblok ya manusianya. Makanya banyak sesepuh bijak menyarankan, cinta itu pakai hati, jangan kepala. Sedianya jika patah, yang hancur biar hatinya saja, jangan pola pikirnya. Patah hati lalu ngegalau dengan lagu semacam Adele-Someone Like You nampaknya masih normal. Namanya juga sayang lantas gagal. Kalau hatinya hancur dan butuh waktu lama buat mengheningkan cipta, kan ya gak papa. Toh kita manusia. Yang punya rasa punya hati. Jangan samakan dengaaan pisau belati~ -_-

Di dunia ini, mungkin ada manusia yang belum pernah jatuh cinta secara romansa. Tapi gue hayaqqul yaqin, sedingin-dinginnya hati manusia, pasti ada masanya dia ketemu satu manusia, dan hatinya bergetar seketika. 

Mungkin menurut hemat mereka, jatuh cinta itu serupa mukjizat: gak semua orang dapet. Kayak Nabi Isa yang atas ijin Allah bisa menghidupkan orang mati, atau Nabi Musa yang bisa membelah lautan Teberau lantas nyebrang selaaw macam jalan tol. 

Semacam Momochi Zabuza yang katanya gak punya perasaan lalu membunuh seluruh rekan se-ujian ninja. Zabuza bilang, dia itu sosok makhluk yang gak punya hati. Walaupun begitu, ketika Haku mati, Zabuza yang katanya gak punya perasaan ini nangis. Zabuza bilang, Haku nanti bakal masuk surga. Karena Haku punya hati yang baik. Gak kayak dia yang terkutuk dan siap nyemplung ke neraka. Terlepas dari Zabuza yang sadar bakal pisah dunia sama Haku, toh dalam doa terakhirnya, dia masih berharap dia bisa pergi ke tempat Haku, hidup bareng di tempat yang sama dengan Haku.

Sedih gak sih? Kalau gue sih sedih.

Hm.

Namun kembali lagi, gue hanya bercerita sebatas ilmu rendah saja. Gue gak tau hakikat cinta itu seperti apa. Yang gue tahu, cinta itu seperti Bunda yang tetiba datang ke kamar lantas bilang “Tak gawekke wedang teh ya nduk? Panas lho teh e, kentel, teh jawa lho, senenganmu.” (Ibuk buatin teh ya? Mumpung teh-nya masih panas, kental, teh jawa (merek teh) lho, kesukaanmu, kan?) Respon gue? Gue hanya pura-pura ceria lantas bilang “Iya dong. Mauuu.” Gue bilang begitu sambil menahan air mata yang bergelut sewenang-wenang di ujung netra. Gue gak tau kenapa gue pengen nangis. Mungkin ini bentuk reaksi hati atas cintanya Bunda? Gue gak tau.

Mungkin cinta itu seperti bapak-bapak penjual tisu yang ada di JPO Transjakarta. Terlepas dari berjualan di JPO itu dilarang. Terlepas dari display yang dia gelar itu gak menarik dan mungkin jarang dilirik orang. Gue mencoba mengerti walau gue juga sebel karena okupasi pedagang di JPO ini a little bit ngeganggu pejalan dan penyebrang. Gue terus-terusan mencoba memahami bahwa hidup orang itu beda-beda. Mungkin dia ini kepala keluarga. Mungkin dia gak tahu atau gak ada cara lain untuk make a living selain berdagang di JPO atau trotoar. Mungkin itu bentuk usahanya untuk menghidupi keluarga dan menyekolahkan anaknya? Gue gak tau sih, kan gue gak kenal. Tapi kalau iya, semoga lebih baik hidupnya, dikuatkan perjuangannya.

Dahulu, waktu gue masih SMK. Temen gue punya pacar. Saat itu adalah masa-masa sebelum ujian nasional. Temen gue ini, gue liat-liat sering gelisah. Dia gak pinter-pinter amat. Tapi dia baik. Hingga, setelah lama menduga di ujung sangka, gue akhirnya tahu kalau temen gue ini lagi hamil.

Hamil, belum lulus, dan belum nikah.

Gue hanya menyimak sambil mencoba ber-open minded. Mungkin dia punya alasan mahabijak semacam “Kita sama-sama sadar kok ya, kita sama-sama cinta, dan kita akan nikah pasca lulusan.” Kalau alasannya semacam ini mungkin gue gak akan sebel-sebel banget. Yang ironi, waktu ditanya kenapa sedih dan kenapa mau berhubungan badan diluar nikah, dia cuma gelisah sambil berucap “Ya gimana lagi, pacar gue bakal mutusin gue kalau gue gak mau.”

Bangsat.

Rasanya pengen menghujat. Entah menghujat lelaki yang menginterpretasikan cinta serendah itu, atau menghujat temen gue yang gak bisa tegas jadi cewek. Gue sedih karena dia buta menilai dirinya. Gue sakit hati karena dia harus merelakan perawannya untuk lelaki rendahan yang taunya cuma konak lalu main ngangkangin anak orang. Gak ada kualitasnya, gak ada yang bisa disombongin selain ngebacotin cinta murahan sebagai passing ticket untuk memuaskan ereksi.

Namun terlepas dari dosa, hamil, nilai UN yang minim serta hal-hal domino yang lainnya. Gue teramat menyesali temen gue yang tidak mampu melihat betapa berharga dirinya.

Dia tidak mengingat bahwa dia adalah anak kedua orang tuanya. Kebanggaan mereka. Anak yang digadang-gadang sebagai penerus keluarga. Seorang wanita. Yang cantik, yang tak kekurangan, yang bisa merasakan pendidikan, yang dipenuhi kebutuhannya, yang bisa makan tiga kali sehari tanpa puasa yang tak semestinya, yang punya mimpi, yang jadi kesayangan.

Gue gak mau mengurusi dosa karena itu urusan dia dan Tuhan. Gue gak akan ngomongin masa depan, karena kita gak pernah tahu skenario apa yang bisa Tuhan catatkan untuk setiap manusia-Nya, yang gue sayangkan, adalah temen gue yang tidak bisa mempertimbangkan bahwa dia adalah pribadi yang ada harganya. Pribadi yang mahal, yang seharusnya kalau dia gak ikhlas, dia gak harus menukar bahagianya hanya dengan beberapa jam kesenangan di atas ranjang.

Cinta?

Gue insyaallah percaya kalau temen gue ini cinta mampus sama pacarnya.

Lantas apakah salah?

Enggak. 

Yang salah adalah dia yang keliru mengambil langkah, yang salah adalah dia yang goblok memilih pacar, yang salah adalah dia yang luput menyadari betapa berharga harga dirinya.

Jika cinta itu indah dan mengindahkan. Seharusnya temen gue ini gak harus nangis dan gelisah kalau dia hamil di luar nikah. Kalau cinta itu tenang dan menenangkan. Seharusnya temen gue ini tidak buta dan melakukan hal yang tidak ingin dilakukannya.

Katanya, cinta adalah pengorbanan. Maka seandainya pacarnya temen gue ini paham konsep cinta. Seharusnya dia bisa menerima kalau hubungan badan bukanlah satu-satunya hal yang dikejar saat pacaran. Lagipula hubungan sex yang dibenci Tuhan paling cuma bertahan beberapa kali orgasme dan sudah. Lebih banyak sedihnya daripada ena-nya. Kalau memang cinta ini pengorbanan, kenapa nggak sadar diri dulu sih. Sadar keadaan pribadi yang belum siap, lalu menyiapkan diri. Sadar kalau kegiatan itu akan dimarah Tuhan lalu bisa tegas menolak untuk tidak.

Takut melukai pacar? Walau kisah cinta gue dulu gak indah-indah amat (syit), namun gue yakin bahwa cinta itu adalah perkara memahami. Kalau pacarmu menolak memahami, mungkin kamu salah milih pacar. 

Cinta itu serupa kata Magnificent. Lebih indah dari kata amazing, beautiful, lebih kuat effectnya hingga penutur aslinya bahkan enggak mampu menjabarkan besarannya. Dalam hidup ini, terkadang ada beberapa hal yang emang dari sananya tidak bisa  dijelaskan dan hanya boleh dirasakan. Mungkin, memang baiknya seperti itu. Lebih privilege.

Gue yakin kalau cinta adalah perkara yang signifikan. Cinta itu gak akan merusak apalagi merendahkan. Dan jika memang cinta yang kita alami itu indah maka seharusnya kita akan bahagia bercerita tentang sumber keindahan itu. Kita harusnya bercerita dengan tone yang ceria, bukan malah gelisah atau merana.

Pernah sadar gak sih, saat kita lagi jatuh cinta, maka kita benar-benar jadi orang lain. Kita jadi manusia yang begitu mengagungkan orang yang kita sayang hingga tingkat penggunaan logika kita menurun, jatuhnya goblokgasm.

Setiap orang yang lagi jatuh cinta kayaknya akan menghadapi fase goblokgasm ini. Ada yang bisa bertahan lalu bersama, ada yang tenggelam lalu merana. Pilihan hidup sih. Itu juga alasan Tuhan meminta umatNya buat berdoa. Biar selamat dari kegoblokan hidup ini. Kita kan makluk lemah. Kesandung dikit aja, jatuh. Disindir dikit aja, baper. Ditabrak truk sekali aja, mati. —Maka alangkah bijak saat jatuh cinta, kita berdoa. Merayu Tuhan agar dilancarkan segala rencana, dan kalaupun lagi goblok dipecundangi perasaan, kita masih tetap waras lantas menang. Wkwkwk

“Katakanlah: Aku berlindung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia, Raja manusia, sembahan manusia, dari kejahatan (bisikan) setan yang biasa tersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dada manusia. Dari (golongan) jin dan manusia” —An Naas: 1-6.

 

setelah habis empat sachet kopi nescafe classic

Kami terkadang bersua pada suatu kesempatan. Dia gak ngomong saya harus ini harus itu. Namun dari eksistensi dan kalimat yang keluar dari mulutnya, saya tetiba belajar. Saya mendadak mengalami eureka. Suatu penyadaran atas Allah yang sebenarnya sudah lama meng-kode saya. Sering dalam doa, saya menyebut, “Ya Allah, paringono ridhaMu supaya aku bisa menggapai semua mauku. Dan jadi apapun yang aku mau.”

Yang luput, saya hanya berdoa namun tidak berusaha. Kan gokil.

Kurang dari 24 jam percakapan saya dengan temen saya. Saya sadar bahwa semua resources untuk menjadi pribadi yang lebih baik sebenarnya sudah cemepak. Adalah saya yang kurang sadar, ditambah saya yang berlebih mengonsumsi glokusa sehingga membentuk diri menjadi pemalas. Gila sahaja. Saya dikelilingi oleh begitu banyak O2 namun memilih terlena dalam pengapnya ke-goblok-an hidup.

Temen saya ini sombong. Yang lucu, dia hanya sombong saat dia tak mampu menenangkan murkanya. Tapi tak apa. Toh, walau dia sombong, sombongnya beralasan. Bagi saya lebih baik sombong asal punya bahan yang disombongin. Temen saya ini agak aneh. Sikapnya taksa. Namun saya tetap respect. Karena dia pantas di respect. Lalu saya merasa ada bara yang berkobar di dada saya. Ini metaphor yang lebay, sih. Namun cukup worthly untuk mengapresiasi hidayah yang datang se-random ini.

Semakin ke sini, saya semakin sadar kalau saya, initially, adalah manusia yang kurang bersyukur. Saya melulu bermunajat begini begitu namun gerak aja raga tak mau. Lantas di sini lah saya, sendiri sambil bersyukur sadar. Melihat genangan kopi hitam sambil berusaha tetep waras. Saya tidak bisa memastikan akan sampai kapan ini bara berkobar. Namun melihat kesombongan teman saya dan teman-teman lain yang ndelalah ada, saya merasa sedang dituntun oleh Sang-Empunya-Hidup untuk sadar diri.

Tuhan mungkin bosen ngasih kode lalu membuka telinga saya untuk mendengar aliran argumen sarat kesombongan ini.

Dan iya Gusti, sekarang saya paham.