sunny

20181118_192450

 

Suatu hari nanti, akan ada orang yang jatuh hati padamu, begitu saja.

i used to think kalau cinta sama orang, wajib hukumnya buat diungkapkan. kita gak boleh cuma pasrah nerima keadaan dan berharap doi tbtb cinta sama kamu. hm, bangun, kamu kebanyakan bego

aku percaya cinta harus diusahakan. percaya kalau we have to take that fricking lead. percaya bahwa kalau cinta, ya harus divokalkan, supaya keduanya sama-sama tahu, sama-sama tak ada beban (atau malah bikin beban?) wkwk

kalau suka: ngomong. ngerasa gak pantes, yaudah perbaiki diri, mau ngapain lagi njir? yakale lo ngerasa gak pantes trus diem aja, tak usahlah repot-repot ngomongin cinta kalau memperbaiki diri aja kamu gak mau. halu

gw gak masalah bilang cinta. dahulu pernah suka sama mas-mas lulusan pondok pesantren, calon sarjana ekonomi yang kebetulan magang ppl di smk. dan lord, dengan seluruh kebesaran hati, bisa dengan bangga saya akui: dia adalah cinta pertama!

cintaku sama mas-mas ini begitu radikal. begitu dalam sampai ke akar-akar. semua yang dia lakukan indah. diamnya menyejukkan. kata-kata yang keluar dari mulutnya serupa serial drama maraton, yang sejatinya sungguh tidak penting, tapi candu!

sehingga, sebagai seorang pecinta yang profesional. tentu aku harus jemput bola. kelamaan kalau nunggu dia tbtb saranghae sama aku. yang aku lupa, kesenjangan di antara kita begitu kentara. saat itu aku baru duduk di kelas 3 smk, masa-masa sebelum ujian nasional, yang akunya masih alay, gobs, gak tahu diri, clumsy, dan emo! wkwkwk

sedangkan mas-mas ini. dia sudah di semester 8 pendidikan ekonomi uny, sedang mengerjakan skripsinya, kelahiran 89, dan hamba tuhan yang nampaknya dewasa taat

melihat kondisi ini, tentu saja aku gamang. mau diperjuangkan bagaimanapun, sulit kiranya membayangkan dia bisa cinta sama anak alay kayak aku 😥

tapi dasar benar pujangga berkata: cinta itu buta. maka butalah saya. huahahahaha

you know, i never regret one damn thing. yaelah, hidup cuma sekali. kita gak pernah tahu  rencana tuhan seperti apa. kalau anjing yang konon katanya akan selalu bermusuhan pun bisa temenan, kenapa gw enggak? (bisa jadian sama dia ya, bukan temenan sama anjing) -_-

lantas, berangkatlah saya mengejar cinta

tebak, apa hal pertama kali yang aku lakukan, gais?

minta nomornya!

Hahahahahahahaklisebangetanjinghahahahaha

dan begitulah semua mengalir, basa-basi itu, nanya kabar lagi di mana udah makan apa belum itu, pura-pura gak tahu materi ekonomi lantas sok-sok-an nanya itu.

gw gak tahu apakah anak sma/smk zaman jigeum juga merasakan hal yang sama. tapi fyi, dahulu, bisa sms-an sama anak kuliah yang magang di smk adalah prestasi yang wah. sebuah pencapaian yang seakan mengatakan “gils, keren banget bisa sms-an sama mas ini…mas itu…”

contoh kasusnya, saat aku lagi sepedaan pulang sekolah, satu temen satu sekolah yang beda jurusan tbtb menyamai kayuhan sepedaku, chit-chit sebentar lalu bilang: “eh aya, kamu sms-an sama mas x, ya?”

pengen ilang “yaiyalah, gw!” takut dilabel sombong, sehingga cuma terlontar “iya” penuh ketidakacuhan sambil menahan hati yang jingkrak-jingkrak gak karuan

padahal tahun 2012, kita cuma berhubungan via sms. sms doang! gak main ig, gak kode-kode via status whatsapp, gak manja-manjaan di skype segala macem. segalanya hanya mengandalkan sms. itupun bisa telaten gegara bonusan operator yang kalau pulsamu di bawah 5k, dapet gratisan 50 sms setelah kirim dua sms, dan jika kebetulan agak kaya dan bisa ngisi pulsa 10k, dapet gratis 100 sms pascakirim 2 sms. bisa greget gitu sih. mungkin karena saat itu apa-apa serba susah, itulah sebab segala hal kecil benar-benar diapresiasi.

ngomong-ngomong, itu baru ngomongin nggodain orang via sms, kau mungkin gak bisa membayangkan betapa jantung berhenti berdetak saat hp-mu berbunyi dan ADA NAMANYA NEMPEL DI LAYAAAR! WUUAAAAAAAA BUBAR AJA BUBAR!

 

elu juga gitu gak sih? saat lu jatuh sama orang, maka apa pun yang dia lakukan membuat hatimu tbtb terasa kayak ditusuk (njir analogi gw), pokokknya, hatimu macam tersundul tapi kamu bahagia, kadang begitu keras hingga susah nafas? huh, jangan-jangan gw doang. gw jarang jatuh cinta, sekalinya iya, so deep bebi. sedih 😥

 

lalu kita begitu. nelpon malam-malam, masih dengan alasan klasique: nanya materi pelajaran ekonomi. padahal mah cuma pengen ngebacot sama dia, padahal cuma pengen denger suaranya

masih ingat. masih sangat-sangat ingat, satu rayuan monumental kala ikhtiar making him mine:

 

gw: eh mas, lagi sibuk?

him: enggak dek (anjay dipanggil dek, trauma sekarang dipanggil dek). ada apa?

gw: mau tanya, boleh?

him: iya, boleh. nanya apa?

gw: mas kan lulusan pesantren? bisa dong ngubah bahasa indonesia ke arab?

him: insyaallah bisa. kata-katanya apa?

gw: gini:

aku mencintaimu karena kesederhanaanmu. aku tertarik padamu karena kedekatanmu dengan Allah. 🙂

GELI BANGET ANJIR. BERASA PENGEN BUNUH AJA ITU AYAK ALAY!!!

him: oh, gini, dek:

Ana uhibukkaxxxxxx. Xxxxxxxx. Uhibukkaxxxxx. Xxxxxx.( gw lupa Arabnya 🙂 )

gw: oh, makasih, mas.

him: emang buat siapa, dek?

gw: buat mas.

 

ANJAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAY. DI TITIK INI GUE PENGEN LONCAT DARI RUMAH TAPI RUMAH GW CUMA SATU LANTAI! GILS GILS GILS. POKOKNYA YOLO GILS. JANTUNG GUE YA ALLAH, JANTUNG GUE YANG NUNGGU ITU SMS BALESAN. JANTUNG GUE MAU COPOT YA RABB!

 

him: buat aku? kok bisa?

gw: iya.

him: maksud aku kenapa bisa cinta sama aku? sejak kapan? kok bisa sih, dek?

gw: kenapa? emang cinta harus beralasan?

 

 

 

fuuuuuuuuuuuuck.

 

 

 

 

lalu seperti itulah. jadilah gw nembak doi via sms. cupu banget. tapi bodo amat. lagian otak anak kelas 3 smk sejauh mana sih bisa mikir? yang jelas gw udah nembak dia, dan komunikasi kita tereskalasi setelahnya: gw mulai intens nunggu sms-nya, nunggu teleponnya, dia yang nelpon di waktu shubuh buat ngingetin salat saat gue sendiri masih ngiler. asik

hingga suatu ketika, saat gue masih alay dengan sms-telpon cinta-cintaan anjir itu, dia melempar satu pertanyaan yang kemudian menjadi titik balik seluruh perasaanku.

“emang apa yang kamu harapin? pacaran? aku gak kayak gitu, dek. aku lebih milih nikah. ketemu keluarga, dan segala macamnya”

saat itu, saat itu juga gue sadar kalau gue belum siap. gue belum siap menikah. masih mau zina (syit). belum siap berkomitmen. belum siap. takut. gue masih kelas 3 smk. ada banyak ambisi yang harus gw kejar. dan gue gak bisa mengikat diri dengan manusia sedewasa itu. it was such a hard falling!

setelahnya, hubungan kita gak lebih dari adek-kakak. gue juga belum sempet nembak secara langsung sebab di senin pagi saat mau ngomong di depan dia, dia kecelakaan. matanya luka. jadilah gw menjenguk dan tak ngomongin cinta sama-sekali

yang jelas, saat itu gw puas, puas sudah berusaha untuk menunjukkan rasa cintaku, jujur sama perasaanku, dan dari pengalaman itu, gw sadar kalau gw ini cuma kemakan ego dan belum benar-benar siap.

gw sih gak apa. hubungan kita masih baik-baik saja. gw paham kalau dia cuma nganggep gw adek. gw banyak belajar. gw banyak sadar. dan patah-patah itu indah. indah karena left message sehingga aku sadar mana yang memang jodoh mana yang tidak. gw puas karena gw nggak harus merasakan belum pernah mengungkapkan itu perasaan.

tapi tak apa, semuanya tetap indah kalau dikenang (anjay~).

mungkin cinta emang begitu, seperti beramal: dikasih begitu aja. tanpa ada pamrih, tanpa berharap dia akan sama cintanya sama kita

cinta itu harus ikhlas, diberikan begitu saja, tanpa memaksa untuk balik dicintai, tanpa harus membuat orang lain kasian atau terbebani

pun kalau ditolak, doesn’t mean you are less than others. gw malah kagum sama orang-orang yang mau yolo mengutarakan perasaanya: they gamble it all, no regret, no later

gak usahlah mikir malu, beda agama, takut ditolak, gak sederajat, hadeh, ribet! kalau cinta, yaudah cinta aja

di sisi lain, gw juga menolak cinta, bukan karena mereka gak baik, simply karena gw-nya yang gak cinta. usaha mereka keren, tapi gw gak tersentuh. mereka baik, tapi gw gak tertarik. saat itu, gw kemudian mengingat cinta orang yang mencintaku lalu kutolak, dan gw yang mencintai orang tapi bertepuk sebelah tangan

gw sadar, bahwa sekeras apapun usahaku, seheboh apapun basa-basi alay yang gw lakuin. kalau dasarnya dia gak cinta sama aku, ya gak bakal jadi. bukan karena usahaku gak keras. bukan karena gw lekas nyerah. tapi karena DIA YANG EMANG GAK CINTA SAMA AKU. dan itu gak apa. gak apa. gak apa sama-sekali.

karena aku sadar, sama seperti aku yang cinta sama mas-mas UNY ini dengan begitu saja, ada saatnya kita akan bertemu dengan orang yang cinta sama kita, begitu saja

yang dia gak berusaha, yang dia diem aja, yang kata-katanya gak penting, yang dia gak ngapa-ngapain, yang biasa aja tapi kita bisa cinta. se-begitu itu. semudah itu

sama kayak aku yang sebegitu saja cinta sama dia dan mereka yang sebegitu saja cinta sama aku. untung-untung kalau kita beruntung: orang yang kaucinta, ternyata punya rasa yang sama, atau itu cinta tumbuh pelan-pelan sebab usaha-usaha yang kita lakukan, kebetulan yang mahaasik: kita gak pernah tahu.

itulah sebab aku masih percaya bahwa kalau cinta: OMONGIN. masalah ditolak paling cuma perkara malu beberapa hari. kalau tengsin sekantor yaudah resign. kalau sekampung yaudah migrasi. kalau bisa dewasa dan move on, yaudah, good!

tapi yang inti adalah, kita harus berani mengakui perasaan sebelum semuanya sulit. omongin aja dulu, siapa tahu doi juga diam-diam mencintamu tapi lo gak pernah tahu, kan lo gak pernah nanya?

pun kalau kau ditolak dan patah hati, mikir gini aja: suatu hari nanti, akan ada orang yang jatuh hati padamu, begitu saja.

 

 

 

 

 

Ditulis saat sedang jengah seharian ngurus terjemahan, dan tbtb tersentuh sama lagunya Simple Plan-Perfectly Perfect yang begitu saja terputarkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s