i give it to god, and go to sleep.

//Audio Blog//

 

Tertekan/

Kata orang, aku sedang jatuh cinta.

Kata bunda, aku harus hati-hati.

Kata koran, aku bisa diperkosa.

Entah karena asmara, lalu melecehkan norma,

Entah aku yang berbahaya, kurang tegas jadi wanita.

 

Aku merenung lantas berdoa.

Semoga aku dilindungi.

Dari bisikan setan yang mengatakan, “Sudah, kejar.”

Atau kebakaran hati yang meraung-raung ingin dipertemukan.

 

Kata orang, aku sedang tidak stabil.

Aku buta, katanya.

Entah karena tak mengenal tapi mengikat.

Entah karena dungu, memilih begitu.

Serupa khamr yang dosa, menumpulkan logika.

Bagai aku yang sepertinya mencintamu namun diminta waspada.

Entah, apa yang harus diresahkan dari hati yang merasa?

 

Hatiku kaku di persimpangan.

Membeku perih, diminta bertahan.

Ingin memeluk tapi dihalang-halang.

Pilu!

 

Katakan, aku bisa apa jadi pecinta?

 

 

Rokok/

Aku suka memandangmu saat kau melamun.

Kau seksi.

Entah, jarang sekali aku menyebut manusia seksi.

Benar kiranya Tuhan meminta, “Jaga itu pandangan.”

Adalah kadar mauku yang tidak sekadarnya.

Adalah musebab otakku penuh hal nakal.

 

Aku suka melihatmu terdiam.

Nampak kesepian namun bukan.

Kau hanya memuja ketenangan.

Dengan aku yang tak apa membunuh waktu.

Membunuh kewarasanku.

Asal bersamamu.

 

Aku suka mengamatimu saat kau berjalan.

Saat kau butuh waktu luang, dan keluar.

Saat kau melangkah lalu tetiba berhenti.

Yang kembali saat kau kelupaan.

Yang bingung saat ada yang hilang.

Yang kau canggung, lalu lucu.

Yang bagaikan paket komplit.

Ditolak gak mungkin.

Dikejar sulit.

Kau menyebalkan.

Begitu menggemaskan!

 

Aku suka menatapmu merokok.

Saat kau menyulutkan api kepada ujung yang penyakitan.

Yang menyala lalu kau hisap.

Yang kepalamu menengadah ke atas.

Lalu asap mengepul tinggi.

Lalu kau kelihatan ranum.

Dadaku sesak melihatmu begitu.

Aku jadi ingin mencium-mu.

 

 

Rencana/

Katamu kau suka sendiri.

Menonton film yang sudah kau kotak-kotakan.

Atau bermain dengan kucing liar yang kau selamatkan.

Aku sedih, aku kesepian.

 

Katamu kau mau menapak Roma bersamaku.

Kala itu aku memaksa, dengan senyum berlebihan.

Harapanku juga berlebih.

Kau mengiyakan walau aku melihat ragu.

 

Belum lepas sebulan, kembali ku konfirmasi.

“Masih niat main ke Roma?”

Kau bilang, “Maaf tidak, aku ada hajatan.”

Ku tempel tawa di bibir, getir di hati.

Matamu tak pernah berbohong.

Dan hatiku tak pernah berdusta.

Maaf, aku cuma cinta, harusnya tak memaksa.

 

 

 Loggia/

Tiap matahari datang dan embun wafat, menguap.

Aku tersenyum, beralasakan harap.

Aku bersyukur.

Hatiku selamat, bebas sekarat.

 

Tiap temanku sibuk, mengantri atensi.

Aku resah, apa kau sudah makan?

Kau terpaku pada pekerjaan.

Dengan sesekali bersosialisasi.

Waktu aku bilang, sesekali, itu adalah ungkapan denotasi.

Karna basa-basimu tak bertahan lama.

Kau memilih berpusar ke cangkangmu.

Dan sibuk mengurusi negara.

Dengan aku yang sibuk mengurusmu, dalam metafora dan sendu-sendu udara.

 

Tiap aku keluar dan menikmati panas yang suam-suam.

Aku lihat kau makan.

Hah. Betapa-ini-merepotkan-Tuhan? 

 

Lalu aku bermain peran. Drama.

Apapun asal tujuanku tercapai.

Jahat, kah? Aku sih bilang ini berjuang.

 

Kita berbincang hingga terang tak kelihatan.

Malam.

Dan kau pamit, pulang.

Katamu, “Badanku tak kuat.”

Kau tak mampu melawan alam.

Aku tak mampu memaksakan niatan.

Lalu aku sok mengusirmu.

Bilang, “Mamamu mencarimu, segera lah pulang.”

Kau lantas bilang.

Baik. “Kau juga, segera lah.”

Aku hanya bilang, tenang.

Lalu kau benar-benar berkemas, hilang.

 

Tentu saja aku jadi sendirian.

Duduk, memandang langit.

Angin di luar melewatiku sambil mencemooh.

“Kau, pecundang.”

 

Aku hanya tertawa.

 

 

Tuhan/

Lalu aku mulai berbincang tentang Tuhan.

Topik yang religius? Jelas.

Tentang kawanku yang terkadang nyeletuk, “Elu yakin?”

Yang aku hanya bilang, “Lihat nanti aja gimana.” 

Tak lupa dipungkasi dengan tawa.

Biar keliahatan tegar.

Bakoh.

Padahal njero ati koyo sapu jiting tanpo tali,

Ambyar!

Wkwk.

 

Bismillahirrahmanirrahim

Kalau di-Indonesia-kan, “Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang.”

Ini kalimat mahaelok.

Sering disebut setiap memulai suatu kebaikan.

Aku pun suka menyebut ini saat berdoa.

Karena mendoakanmu, untukku, adalah bagian dari kebaikan.

Terkadang, semesta seakan mengingatkan, “Mimpimu itu, gak mungkin kejadian.” 

Aku, sebagai manusia seperti kebanyakan, tentu aku baper.

Lalu aku mengadu pada Tuhanku.

Lalu aku berdoa.

Meminta pada Yang Punya.

Meminta pada Yang Kuasa.

Meminta pada Yang Memampukan.

Menulikan diri atas dunia dan semua asumsinya.

Menyerahkan harapku pada Tuhan.

Lalu tidur.

 

 

 

 

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ

“Dan Tuhanmu berfirman, “Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu..” (QS Al-Mu’min: 60).
(لاَ يَرُدُّ الْقَضَاءَ إِلاَّ الدُّعَاءُ، وَلاَ يُزِيْدُ فِى الْعُمْرِ إِلاَّ الْبِرُّ) -الترمذي-

“Tidak ada yang mampu menolak takdir Allah kecuali doa, dan tidaklah menambah usia kecuali kebaikan”. (HR. Tirmidzi)

 

 

 

pecundang, lagi curhat

ꦩꦺꦴꦂꦫꦶꦱ꧀ꦱꦺꦪ꧀ – ꦲꦺꦮ꦳ꦾꦸꦮꦺꦮ꦳ꦼꦂꦱꦶꦤ꧀ꦤ꧀ꦢꦺꦫꦺꦲꦶꦤ꧀?

ꦤ꧀ꦢꦼꦩꦺꦴꦂ​ꦪꦸ​ꦲꦶꦒ꧀ꦤꦺꦴꦂꦩꦶ꧈​

ꦤ꧀ꦢꦼ​ꦕ꧀ꦭꦺꦴꦱꦼꦂ​ꦲꦲꦶꦒꦺꦠ꧀꧉

ꦪꦺꦴꦂ​ꦮꦱ꧀ꦠꦶꦁ​ꦪꦺꦴꦂ​ꦠ​ꦲꦶꦩ꧀꧉

ꦤ꧀ꦢꦼꦩꦺꦴꦂ​ꦪꦸ​ꦲꦶꦒ꧀ꦤꦺꦴꦂꦩꦶ​꧈​

ꦤ꧀ꦢꦺ​ꦕ꧀ꦭꦺꦴꦱꦼꦂ​ꦲꦲꦶꦒꦺꦠ꧀꧉

ꦪꦺꦴꦂ​ꦮꦱ꧀ꦠꦶꦁ​ꦪꦺꦴꦂ​ꦠ​ꦲꦶꦩ꧀꧉

ꦲꦲꦶ​ꦮꦶꦭ꧀ꦧꦶ꧉

ꦲꦶꦤ​ꦤ꧀ꦢꦼꦧꦂ꧉​

ꦮꦶꦛ꧀ꦩꦪ꧀ꦲꦺꦢ꧀꧉​

ꦲꦺꦴꦤ꧀ꦤ꧀ꦢꦼꦧꦂ

ꦲꦲꦶꦩ꧀ꦤꦲꦸ꧈​

ꦲꦺ​ꦱꦺꦤ꧀ꦠꦿꦭ꧀ꦥꦂꦠ꧀꧉​

ꦲꦺꦴꦥ꦳ꦾꦂ​ꦩ​ꦲꦶꦤ꧀ꦱ꧀ꦭꦤ꧀ꦱ꧀ꦏꦺꦲꦶꦥ꧀꧉

ꦮꦺꦛꦼꦂ​ꦪꦸꦏꦺꦂ꧈​

ꦲꦺꦴꦂꦢꦸꦤꦺꦴꦠ꧀

ꦪꦺ​ꦲꦃ꧈​ ꦲꦮ꦳꧀ꦩꦺꦲꦶꦢ꧀ꦲꦥꦾꦺꦴꦂꦩꦲꦶꦤ꧀

ꦤ꧀ꦢꦼꦩꦺꦴꦂ​ꦪꦸ​ꦲꦶꦒ꧀ꦤꦺꦴꦂꦩꦶ꧈​

ꦤ꧀ꦢꦼ​ꦕ꧀ꦭꦺꦴꦱꦼꦂ​ꦲꦲꦶꦒꦺꦠ꧀꧉

ꦪꦺꦴꦂ​ꦮꦱ꧀ꦠꦶꦁ​ꦪꦺꦴꦂ​ꦠ​ꦲꦶꦩ꧀꧉

ꦤ꧀ꦢꦼꦩꦺꦴꦂ​ꦪꦸ​ꦲꦶꦒ꧀ꦤꦺꦴꦂꦩꦶ​꧈​

ꦤ꧀ꦢꦺ​ꦕ꧀ꦭꦺꦴꦱꦼꦂ​ꦲꦲꦶꦒꦺꦠ꧀꧉

ꦪꦺꦴꦂ​ꦮꦱ꧀ꦠꦶꦁ​ꦪꦺꦴꦂ​ꦠ​ꦲꦶꦩ꧀꧉

ꦧꦶꦮꦼꦂ꧈​

ꦲꦲꦶꦧꦶꦂꦩꦺꦴꦂꦒꦿꦢ꧀ꦗꦼꦱ꧀꧉

ꦛꦺꦤ꧀ꦭꦺꦴꦤ꧀ꦭꦶꦲꦲꦶꦒ꧀ꦕꦺꦴꦲꦸꦂꦠ꧀ꦗꦢ꧀ꦗꦺꦱ꧀꧉​

ꦮꦺꦤ꧀ꦪꦸꦱ꧀ꦭꦶꦥ꧀꧈​

ꦲꦲꦶꦮꦶꦭ꧀ꦏꦿꦶꦥ꧀꧈​

ꦲꦶꦤ꧀ꦠꦸꦪꦺꦴꦂꦛꦺꦴꦠ꧀ꦱ꧀

ꦭꦲꦶꦏ꧀ꦲꦼꦧꦺꦢ꧀ꦢꦺꦧ꧀ꦠꦱ꧀

ꦛꦺꦢꦾꦸꦏꦺꦤ꧀ꦠꦥꦺꦪ꧀

ꦠꦺꦲꦶꦏ꧀ꦤ꧀ꦢꦼꦲꦶꦱꦶꦮꦺꦪ꧀

ꦲꦺꦤ꧀ꦒꦶꦮ꦳꧀ꦲꦶꦤ꧀

ꦪꦺꦪꦃ꧈​ꦲꦺꦤ꧀ꦭꦠ꧀ꦩꦶꦲꦶꦤ꧀

ꦎꦃ꧈​ꦭꦺꦠ꧀ꦩꦶꦲꦶꦤ꧀

ꦎꦃ꧈ꦭꦺꦠ꧀ꦩꦶꦲꦶꦤ꧀꧉​

ꦭꦺꦠ꧀ꦩꦶꦲꦶꦤ꧀꧉​

ꦲꦶꦠ꧀ꦱ꧀ꦮꦂ꧉​

ꦲꦶꦠ꧀ꦱ꧀ꦮꦂ꧉​

ꦲꦶꦠ꧀ꦱ꧀ꦮꦂ꧉​

ꦲꦶꦠ꧀ꦱ꧀ꦮꦂ꧉​

ꦲꦶꦠ꧀ꦱ꧀ꦮꦂ꧉​

ꦮꦂ

ꦮꦂ

ꦮꦂ

ꦮꦂ

———

Note:

ꦤ꧀ꦤ꧀ꦢꦺ : nnde.

saat ratri

Ratri menuju Fajar. Ratri singgah di tengah-tengah. Ratri lelah Ratri bingung.

 

Hei.

 

Ratri bersuara sambil ruku’. Dia menatap kirjailija sembari sebal. Ratri ngos-ngosan. Nafasnya balapan.

 

Hei bangsat.

 

Ratri sebal, masih sebal, sebalnya lebih besar. Ratri berteriak. Ratri murka. Ratri masih ruku’. Nunduk 90 derajat. Siku-siku. Posisi shalat orang Islam. Begitu Ratri masih ngos-ngosan. Sedari tanggal 10 dipaksa jalan. Tanpa istirahat tanpa makan. Tanpa gizi tanpa anjuran. Keringat mengalir deras. Rambut Ratri jadi lepek. Lepek dikit, rambut Ratri masih bagus. Masih berwarna coklat. Coklat kusut. Rambutnya panjang bergelombang. Rambutnya lemas, jatuh ke bawah. Rambutnya diikat sebagian. Diikat ke atas dengan tali Jepang. Diikat kencang ber-butterfly knot. Saat ruku’, saat istirahat dari jalan yang terus-terusan, sebagian rambut Ratri jatuh. Jatuh di kiri wajah. Jatuh di kanan wajah. Kanan kiri kompak jatuh. Ratri pakai blouse. Blouse-nya panjang. Hitam kebiru-biruan. Di bagian kerah warna putih. Di dua pergelangan warna putih. Blousenya Ratri halus. Seperti sulaman. Seperti sulaman nenek. Seperti disulam tapi tidak besar-besar. Seperti disulam tapi kecil-kecil. Jadinya halus. Jadinya tipis. Nempel ikhlas di badan Ratri.

 

Gak usah sok serius bangsat!

 

Masih teriak. Masih keras. Blouse Ratri dimasukkan ke rok. Ratri memakai rok. Roknya polos. Tak ada pola. Tak ada corak. Ratri sukanya begitu. Warnanya coklat tua kemerahan. Seperti warna musim gugur. Ratri belum pernah menghidup musim gugur. Ratri hanya baca buku, jadinya tahu. Rok Ratri tebal. Roknya panjang. Begitu panjang, menghubung perut hingga pergelangan. Pergelangan mata kaki. Sampai di sana ketemu sepatu. Ratri suka pakai sepatu. Sepatunya berwarna hitam. Hitam pekat. Seperti Ratri kalau mendung. Seperti arang kalau diam. Semuanya dingin kecuali bibirnya. Bibir Ratri yang bergincu. Ratri suka pakai gincu. Yang merah. Yang marun. Yang warnanya merah marun. Ratri suka warna itu. Warna daun jati yang ditumbuk. Warna merah marun. Ratri suka bangga. Ratri suka berkaca. Dengan marun di bibirnya. Dengan marun yang membingkai senyumnya. Kulit Ratri kuning langsat. Namun belakangan agak gelap. Ratri lagi hobi main layangan. Kulit Ratri jadi belang. Ratri—

 

Bentar lagi ketemu fajar. Jangan bego, bangsat!

goblokgasm

CINTA, KATANYA? Wkwk. 

Pernah sadar gak sih, saat kita sedang jatuh cinta, kita benar-benar jadi orang lain.

Suka sama orang, dan semua indra kita tetiba bisa bekerja dengan lebih baik. Saat lagi mendamba, maka semua kegiatan dan hal kecil yang dia lakukan berubah menjadi semacam candu. Rasanya seperti diperbudak perasaan. Pengen cuek tapi gak bisa. Pengen diperhatikan tapi takut ngeganggu.

Benar kata Raisa, serba salah. 

Ya mau gimana lagi, namanya juga urusan hati. Apalagi kalau sudah cinta hingga mulai lancang ingin tahu. Kita jadi manusia yang mengganggu. Serupa lalat madu yang nempel di es dawet. Semuanya jadi ruwet. Semuanya harus serba de e. Kita harus tahu apa yang dia makan, apa yang dia suka, kenapa dia sering berangkat pagi, kenapa dia hidup, kenapa dia suka menyendiri, kenapa dia suka pakai sepatu warna hitam, dia punya berapa saudara, umur berapa saudaranya, sebelum bobo’ dia ngapain ya. Dia meluk guling gak ya. Eh kok dia diem sih?  Dia kenapaaaa?

Repot, bosqu? 

Kita jadi repot, ngrepotin diri dengan kepo. Jadi hollow lalu bego. Begitu hebring hingga lupa sama kerja. Kabeh kegiatanmu isine gur halu. Kita jadi aneh. Suka senyum saat dia bercerita. Ketawa dengan guyonan recehnya. Mendadak sedih saat dia sakit.

Itu belum kalau dia digosipin deket sama cewek lain lalu kamunya baper. Baper meradang lalu sedih. Sedih berlarut namun confused harus gimana. Semakin remuq kalau manusia yang kamu suka ternyata gak peka. Entah gak peka atau pura-pura innocent. Entah innocent atau dianya pemalu. Entah pemalu atau dianya yang gak suka sama kamu. Wkwk

Yang lucu (dan kekanak-kanakan), saat suka sama orang, kita bertendensi untuk menampakkan sikap yang kontradiktif. Sok-sok an cuek padahal peduli. Bertingkah santai padahal tegang. Pura-pura gak tahu, pura-pura butuh bantuan, pura-pura nanya padahal modus! 

Hm. 

Katanya, cinta itu goblok. Yang goblok bukan cintanya. Yang goblok ya manusianya. Makanya banyak sesepuh bijak menyarankan, cinta itu pakai hati, jangan kepala. Sedianya jika patah, yang hancur biar hatinya saja, jangan pola pikirnya. Patah hati lalu ngegalau dengan lagu semacam Adele-Someone Like You nampaknya masih normal. Namanya juga sayang lantas gagal. Kalau hatinya hancur dan butuh waktu lama buat mengheningkan cipta, kan ya gak papa. Toh kita manusia. Yang punya rasa punya hati. Jangan samakan dengaaan pisau belati~ -_-

Di dunia ini, mungkin ada manusia yang belum pernah jatuh cinta secara romansa. Tapi gue hayaqqul yaqin, sedingin-dinginnya hati manusia, pasti ada masanya dia ketemu satu manusia, dan hatinya bergetar seketika. 

Mungkin menurut hemat mereka, jatuh cinta itu serupa mukjizat: gak semua orang dapet. Kayak Nabi Isa yang atas ijin Allah bisa menghidupkan orang mati, atau Nabi Musa yang bisa membelah lautan Teberau lantas nyebrang selaaw macam jalan tol. 

Semacam Momochi Zabuza yang katanya gak punya perasaan lalu membunuh seluruh rekan se-ujian ninja. Zabuza bilang, dia itu sosok makhluk yang gak punya hati. Walaupun begitu, ketika Haku mati, Zabuza yang katanya gak punya perasaan ini nangis. Zabuza bilang, Haku nanti bakal masuk surga. Karena Haku punya hati yang baik. Gak kayak dia yang terkutuk dan siap nyemplung ke neraka. Terlepas dari Zabuza yang sadar bakal pisah dunia sama Haku, toh dalam doa terakhirnya, dia masih berharap dia bisa pergi ke tempat Haku, hidup bareng di tempat yang sama dengan Haku.

Sedih gak sih? Kalau gue sih sedih.

Hm.

Namun kembali lagi, gue hanya bercerita sebatas ilmu rendah saja. Gue gak tau hakikat cinta itu seperti apa. Yang gue tahu, cinta itu seperti Bunda yang tetiba datang ke kamar lantas bilang “Tak gawekke wedang teh ya nduk? Panas lho teh e, kentel, teh jawa lho, senenganmu.” (Ibuk buatin teh ya? Mumpung teh-nya masih panas, kental, teh jawa (merek teh) lho, kesukaanmu, kan?) Respon gue? Gue hanya pura-pura ceria lantas bilang “Iya dong. Mauuu.” Gue bilang begitu sambil menahan air mata yang bergelut sewenang-wenang di ujung netra. Gue gak tau kenapa gue pengen nangis. Mungkin ini bentuk reaksi hati atas cintanya Bunda? Gue gak tau.

Mungkin cinta itu seperti bapak-bapak penjual tisu yang ada di JPO Transjakarta. Terlepas dari berjualan di JPO itu dilarang. Terlepas dari display yang dia gelar itu gak menarik dan mungkin jarang dilirik orang. Gue mencoba mengerti walau gue juga sebel karena okupasi pedagang di JPO ini a little bit ngeganggu pejalan dan penyebrang. Gue terus-terusan mencoba memahami bahwa hidup orang itu beda-beda. Mungkin dia ini kepala keluarga. Mungkin dia gak tahu atau gak ada cara lain untuk make a living selain berdagang di JPO atau trotoar. Mungkin itu bentuk usahanya untuk menghidupi keluarga dan menyekolahkan anaknya? Gue gak tau sih, kan gue gak kenal. Tapi kalau iya, semoga lebih baik hidupnya, dikuatkan perjuangannya.

Dahulu, waktu gue masih SMK. Temen gue punya pacar. Saat itu adalah masa-masa sebelum ujian nasional. Temen gue ini, gue liat-liat sering gelisah. Dia gak pinter-pinter amat. Tapi dia baik. Hingga, setelah lama menduga di ujung sangka, gue akhirnya tahu kalau temen gue ini lagi hamil.

Hamil, belum lulus, dan belum nikah.

Gue hanya menyimak sambil mencoba ber-open minded. Mungkin dia punya alasan mahabijak semacam “Kita sama-sama sadar kok ya, kita sama-sama cinta, dan kita akan nikah pasca lulusan.” Kalau alasannya semacam ini mungkin gue gak akan sebel-sebel banget. Yang ironi, waktu ditanya kenapa sedih dan kenapa mau berhubungan badan diluar nikah, dia cuma gelisah sambil berucap “Ya gimana lagi, pacar gue bakal mutusin gue kalau gue gak mau.”

Bangsat.

Rasanya pengen menghujat. Entah menghujat lelaki yang menginterpretasikan cinta serendah itu, atau menghujat temen gue yang gak bisa tegas jadi cewek. Gue sedih karena dia buta menilai dirinya. Gue sakit hati karena dia harus merelakan perawannya untuk lelaki rendahan yang taunya cuma konak lalu main ngangkangin anak orang. Gak ada kualitasnya, gak ada yang bisa disombongin selain ngebacotin cinta murahan sebagai passing ticket untuk memuaskan ereksi.

Namun terlepas dari dosa, hamil, nilai UN yang minim serta hal-hal domino yang lainnya. Gue teramat menyesali temen gue yang tidak mampu melihat betapa berharga dirinya.

Dia tidak mengingat bahwa dia adalah anak kedua orang tuanya. Kebanggaan mereka. Anak yang digadang-gadang sebagai penerus keluarga. Seorang wanita. Yang cantik, yang tak kekurangan, yang bisa merasakan pendidikan, yang dipenuhi kebutuhannya, yang bisa makan tiga kali sehari tanpa puasa yang tak semestinya, yang punya mimpi, yang jadi kesayangan.

Gue gak mau mengurusi dosa karena itu urusan dia dan Tuhan. Gue gak akan ngomongin masa depan, karena kita gak pernah tahu skenario apa yang bisa Tuhan catatkan untuk setiap manusia-Nya, yang gue sayangkan, adalah temen gue yang tidak bisa mempertimbangkan bahwa dia adalah pribadi yang ada harganya. Pribadi yang mahal, yang seharusnya kalau dia gak ikhlas, dia gak harus menukar bahagianya hanya dengan beberapa jam kesenangan di atas ranjang.

Cinta?

Gue insyaallah percaya kalau temen gue ini cinta mampus sama pacarnya.

Lantas apakah salah?

Enggak. 

Yang salah adalah dia yang keliru mengambil langkah, yang salah adalah dia yang goblok memilih pacar, yang salah adalah dia yang luput menyadari betapa berharga harga dirinya.

Jika cinta itu indah dan mengindahkan. Seharusnya temen gue ini gak harus nangis dan gelisah kalau dia hamil di luar nikah. Kalau cinta itu tenang dan menenangkan. Seharusnya temen gue ini tidak buta dan melakukan hal yang tidak ingin dilakukannya.

Katanya, cinta adalah pengorbanan. Maka seandainya pacarnya temen gue ini paham konsep cinta. Seharusnya dia bisa menerima kalau hubungan badan bukanlah satu-satunya hal yang dikejar saat pacaran. Lagipula hubungan sex yang dibenci Tuhan paling cuma bertahan beberapa kali orgasme dan sudah. Lebih banyak sedihnya daripada ena-nya. Kalau memang cinta ini pengorbanan, kenapa nggak sadar diri dulu sih. Sadar keadaan pribadi yang belum siap, lalu menyiapkan diri. Sadar kalau kegiatan itu akan dimarah Tuhan lalu bisa tegas menolak untuk tidak.

Takut melukai pacar? Walau kisah cinta gue dulu gak indah-indah amat (syit), namun gue yakin bahwa cinta itu adalah perkara memahami. Kalau pacarmu menolak memahami, mungkin kamu salah milih pacar. 

Cinta itu serupa kata Magnificent. Lebih indah dari kata amazing, beautiful, lebih kuat effectnya hingga penutur aslinya bahkan enggak mampu menjabarkan besarannya. Dalam hidup ini, terkadang ada beberapa hal yang emang dari sananya tidak bisa  dijelaskan dan hanya boleh dirasakan. Mungkin, memang baiknya seperti itu. Lebih privilege.

Gue yakin kalau cinta adalah perkara yang signifikan. Cinta itu gak akan merusak apalagi merendahkan. Dan jika memang cinta yang kita alami itu indah maka seharusnya kita akan bahagia bercerita tentang sumber keindahan itu. Kita harusnya bercerita dengan tone yang ceria, bukan malah gelisah atau merana.

Pernah sadar gak sih, saat kita lagi jatuh cinta, maka kita benar-benar jadi orang lain. Kita jadi manusia yang begitu mengagungkan orang yang kita sayang hingga tingkat penggunaan logika kita menurun, jatuhnya goblokgasm.

Setiap orang yang lagi jatuh cinta kayaknya akan menghadapi fase goblokgasm ini. Ada yang bisa bertahan lalu bersama, ada yang tenggelam lalu merana. Pilihan hidup sih. Itu juga alasan Tuhan meminta umatNya buat berdoa. Biar selamat dari kegoblokan hidup ini. Kita kan makluk lemah. Kesandung dikit aja, jatuh. Disindir dikit aja, baper. Ditabrak truk sekali aja, mati. —Maka alangkah bijak saat jatuh cinta, kita berdoa. Merayu Tuhan agar dilancarkan segala rencana, dan kalaupun lagi goblok dipecundangi perasaan, kita masih tetap waras lantas menang. Wkwkwk

“Katakanlah: Aku berlindung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia, Raja manusia, sembahan manusia, dari kejahatan (bisikan) setan yang biasa tersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dada manusia. Dari (golongan) jin dan manusia” —An Naas: 1-6.

 

setelah habis empat sachet kopi nescafe classic

Kami terkadang bersua pada suatu kesempatan. Dia gak ngomong saya harus ini harus itu. Namun dari eksistensi dan kalimat yang keluar dari mulutnya, saya tetiba belajar. Saya mendadak mengalami eureka. Suatu penyadaran atas Allah yang sebenarnya sudah lama meng-kode saya. Sering dalam doa, saya menyebut, “Ya Allah, paringono ridhaMu supaya aku bisa menggapai semua mauku. Dan jadi apapun yang aku mau.”

Yang luput, saya hanya berdoa namun tidak berusaha. Kan gokil.

Kurang dari 24 jam percakapan saya dengan temen saya. Saya sadar bahwa semua resources untuk menjadi pribadi yang lebih baik sebenarnya sudah cemepak. Adalah saya yang kurang sadar, ditambah saya yang berlebih mengonsumsi glokusa sehingga membentuk diri menjadi pemalas. Gila sahaja. Saya dikelilingi oleh begitu banyak O2 namun memilih terlena dalam pengapnya ke-goblok-an hidup.

Temen saya ini sombong. Yang lucu, dia hanya sombong saat dia tak mampu menenangkan murkanya. Tapi tak apa. Toh, walau dia sombong, sombongnya beralasan. Bagi saya lebih baik sombong asal punya bahan yang disombongin. Temen saya ini agak aneh. Sikapnya taksa. Namun saya tetap respect. Karena dia pantas di respect. Lalu saya merasa ada bara yang berkobar di dada saya. Ini metaphor yang lebay, sih. Namun cukup worthly untuk mengapresiasi hidayah yang datang se-random ini.

Semakin ke sini, saya semakin sadar kalau saya, initially, adalah manusia yang kurang bersyukur. Saya melulu bermunajat begini begitu namun gerak aja raga tak mau. Lantas di sini lah saya, sendiri sambil bersyukur sadar. Melihat genangan kopi hitam sambil berusaha tetep waras. Saya tidak bisa memastikan akan sampai kapan ini bara berkobar. Namun melihat kesombongan teman saya dan teman-teman lain yang ndelalah ada, saya merasa sedang dituntun oleh Sang-Empunya-Hidup untuk sadar diri.

Tuhan mungkin bosen ngasih kode lalu membuka telinga saya untuk mendengar aliran argumen sarat kesombongan ini.

Dan iya Gusti, sekarang saya paham. 

apa sih

Hari ini hari Jumat dan gue lagi di kantor. Gue lagi gak ngerasa apa-apa dan gue merasa tersiksa. Emosi adalah hal yang penting. Mending punya sedikit rasa daripada tidak sama sekali. Hati yang containing sejumput rasa, katakanlah, marah, sedih, seneng, terlalu seneng, motivated, atau apapun itu akan lebih baik daripada tidak sama sekali.

Hm.

Jam di komputer gue menampakkan waktu 11.59 dan gue enggak kerja. Sebelah gue ada Munthe yang lagi kerja. Gue harusnya juga kerja. Namun gue memilih enggak kerja. Santai, ini bukan karena Aya yang sedang lepas tanggung jawab. Gue akan tanggung jawab, tapi enggak sekarang. Gue bukan manusia tipe begitu. Emangnya mereka, para bajingan belum dewasa yang main ‘ahh-ahnnn-nggh’ lalu pergi meninggalkan?

G. Gue gak se-anjing itu.

Anyway. Gue kabur ke sini karena gue gak ngerasa ingin kerja. Jahad sih. Tapi ya gimana. Setulusnya, gue juga merasa berdosa. Secara gue nulis ini pake komputer kantor, LAN milik kantor, nyawa yang dititipin serta sehat yang digratisin Tuhan. Gue harusnya profesional kan ya. Gue harusnya sadar diri. Tapi gue engga. Kalau kata Kevin, “di kantor itu kerja, yang serius, jangan maen-maen gini. Punya otak gak, sih?”. Kalau kata Munthe, “elu itu kothor, ya”. Lantas sekilas mikir. Jangan-jangan gue emang kotor. Kotor hati. Kotor nalar. Kotor kesadaran.

Munthe ini, hahahaha. Maap gue ketawa dulu.

Oke, Munthe ini. Dia sepertinya adalah orang yang pertama kali gue salamin hari pertama gue masuk ke kantor ini. Gue masih inget jika gue masuk tertanggal 1 Agustus 2018. Satu hari setelah mantan bos gue di lantai atas mengabulkan permohonan resign gue. Permohonan resign gegara gue mau kerja di tempat yang sehat, tempat yang baiq tanpa ada manusia bangsat kurang sentuhan yang satu itu. Hm. Maap, jadi ngomong kothor, kan. Bangsat emang!

Oke, balik ke Munthe lagi. Nama lengkap Munthe adalah Apryanti Madah Munthe. Jujur, gue butuh waktu laik beberapa hari gitu buat memahami namanya dia. Susah. Mungkin karena nama dia emang literally susah atau gue yang hanya punya simple-shaped-brain buat mengkomputasi nama dia.

Dari tiga kata yang membangun namanya, hanya kata ‘Apryanti’ yang enggak ngebuat gue terlampau bingung. Apryanti adalah nama yang njawani banget. Jadilah gue, kepada Munthe, hanya bertanya arti kata Madah dan Munthe yang ada pada namanya. Katanya Munthe, ‘Madah’ ini adalah nama yang disumbangkan oleh Mamanya. Katanya Munthe, Madah ini diambil dari Kidung Madah Bhakti. Dia bilang Kidung adalah sebutan lain dari buku nyanyian orang Katolik. Sedangkan Madah Bhakti adalah adalah nama dari kidung itu. Jadi kidung madah bhakti adalah buku nyanyian pujian orang Katolik untuk Tuhan. Gue lalu tanya alasan Mamanya ngasih doi nama itu. Sedetik kemudian Munthe ngeliat gue sambil bilang, “Kayaknya emak gue salah deh. (Mungkin) Doanya biar gue bisa nyanyi, tapi gue gak bisa nyanyi”. Lalu gue ketawa.

Selepasnya, gue nanya arti kata ‘Munthe’. Dia bilang nama ini adalah serupa nama keluarga. Gue agak bingung. Gue orang Jawa dan gue bukan bagian dari keluarga yang punya nama keluarga. To be honest, gue juga gak tau apa itu nama keluarga. Yang gue tahu, nama keluarga itu serupa dengan istilah Marga. Gue tau orang Sumatera sering memakai nama marga. Gue sering berkontak atau mengenal marga orang-orang Sumatera seperti Ginting, Harahab, Gersang, Simbolong atau Hutapea. Namun Munthe, gue belum pernah kenal. Gue juga belum pernah ngeliat ada orang Sumatera dipanggil dengan nama marga-nya. Kalau Munthe benar nama keluarga (atau marga) kenapa doi dipanggil dengan kata Munthe, ya? Mungkin karena dibanding dari dua kata sebelumnya, Apryanti dan Madah, adalah ‘Munthe’, kata yang paling mudah diucap pun diolah dilidah? Mungkin.

Bentar, mungkin pantas gue gak kenal kata ‘Munthe’. Munthe kan bukan dari Sumatera. Dia dari Kalimantan Timur. Mungkin ini hanya perkara gue yang masih fakir ilmu sehingga hanya mampu menganalisa berdasarkan praduga. Satu fakta yang gue tau, Munthe adalah nama keluarga. Udah. Gitu aja.

Dari seluruh penghuni kantor, adalah Munthe yang jadi temen deket gue.

Iya. Jarak kita gak ada satu meter. Dia duduk pas di sebelah gue. Deket banget, kan? -_-

Maksud gue, dari 9 jam kerja dikurangi 1 jam istirahat, Munthe adalah orang yang paling sering gue ajak komunikasi. Selain karena kita sharing the same job description, dia orangnya luchu uga. Dia terkadang melontarkan kata-kata anjay sumpah gak penting tapi tetap a6a6 buat ditanggepin. Mungkin karena gue juga receh kali ya. Jadi ya gitu, ideum aja gitu sama Munthe. Munthe adalah cewek kelahiran ’94 dan artinya dia lebih tuir daripada gue. Ngomong-ngomong tentang lebih tua, kadang gue jiji’ waktu dia menyebut senior dengan kata ‘kak’, kayak, ‘kak Brayn, kak Novan, kak Kevin, atau kak Elmo’. Yakin gue jiji‘. Bukan mengapa kenapa sih. Gue cuma ngerasa lagi bareng sama cewek alay, seorang anak pramuka minta ajar cara bikin simpul, atau mbak-mbak Matahariy yang lagi attracting customer. Yaaaa, gue gak apa sih. Kan terserah doi mau manggil orang kayak gimana. Gue kan bukan Mamanya, yang ngelahirin dia, bisa ngasih dia nama ‘Madah’ lantas menikah sama papa nya. Eh

Munthe ini definisi cewek yang keliatan femine banget. Baik terbias dari cara dia nyandang, caranya ngobrol, merajuknya, atau pola pikirnya. Seriously, gue udah 23 tahun hidup dan baru kala ini berteman dengan manusia yang sebegini ‘cewek’ nya. Dia konstan datang jam 9-an pagi buat kerja. Di awal hari, dia akan basa-basi dulu sama gue lalu nanya, “Lo gak ada rencana jajan gorengan, gitu?” dan biasanya gue tolak dengan bilang, “Engga.” lalu doi bete dan pergi ke pantry sendirian. Dia punya satu buah botol berbahan kaca dengan penutup warna putih. Tinggi botolnya mungkin sekitar 18 cm dengan sticker berbunyi ‘lifejuice, better life’. Gue tau tuh kenapa ada kata ‘better life’. Gue berasumsi produsennya memakai botol kaca untuk mendorong si pemilik enggak membeli botol plastik. Mungkin doi berharap pembelinya secara gak langsung bisa mendukung program semacam ‘Save your Earth’ atau simply mengurangi supply sampah plastik yang terkadang berkandang banjir hingga bikin orang emosi. Efek riak gitu.

Munthe ini, setiap sebelum memulai kerja, dia akan mengisi botol kaca nya dengan air panas di dispenser pantry lalu membuat kopi di mug putih yang memang disediakan kantor. Dia akan meletakkan dua wadah berisi liquid itu di sisi meja sebelah kiri lalu mulai bekerja. Namun sebelum kerja, dia akan tenang selama 1 menit-an gitu buat berdoa. Gue dulu mikirnya doi Katolik, karena dia pribadi yang tenang gitu (gue selalu menafsirkan orang Katolik sebagai pribadi yang tenang dan orang Kristen untuk mereka yang actively moving. Lol), namun ternyata aku salah. Doi nya Kristen. Yang Katolik ternyata Mama-nya. Mungkin Munthe ikut Papa-nya? Entah. Munthe ini golongan darahnya A. Gue udah nebak sih. Doi gak mungkin O yang heboh atau B yang tengil. Jadi gue guessingnya, dulu, antara A dan AB. A untuk Aneh dan AB untuk Aneh Banget. 🙂

Hm. Btw kenapa gue jadi nyeritaain Munthe ya.

Hari ini hari Jumat. Jam di komputer gue menunjukkan pukul 16.16 dan gue masih enggak kerja. Gue sedih sebenernya. Gue sedih karena gue ngerasa udah wasted my life gitu. Kayak hidup gue gak guna, gitu. Tapi apa hendak Tuan berkata kalau hati hamba tiada ber-asa? Eaaaaa.

Eaaaaaaaa.

Eaaaaaaaaaaaa.

Eaaaaaaaaaaaapasih!