setelah habis empat sachet kopi nescafe classic

Kami terkadang bersua pada suatu kesempatan. Dia gak ngomong saya harus ini harus itu. Namun dari eksistensi dan kalimat yang keluar dari mulutnya, saya tetiba belajar. Saya mendadak mengalami eureka. Suatu penyadaran atas Allah yang sebenarnya sudah lama meng-kode saya. Sering dalam doa, saya menyebut, “Ya Allah, paringono ridhaMu supaya aku bisa menggapai semua mauku. Dan jadi apapun yang aku mau.”

Yang luput, saya hanya berdoa namun tidak berusaha. Kan gokil.

Kurang dari 24 jam percakapan saya dengan temen saya. Saya sadar bahwa semua resources untuk menjadi pribadi yang lebih baik sebenarnya sudah cemepak. Adalah saya yang kurang sadar, ditambah saya yang berlebih mengonsumsi glokusa sehingga membentuk diri menjadi pemalas. Gila sahaja. Saya dikelilingi oleh begitu banyak O2 namun memilih terlena dalam pengapnya ke-goblok-an hidup.

Temen saya ini sombong. Yang lucu, dia hanya sombong saat dia tak mampu menenangkan murkanya. Tapi tak apa. Toh, walau dia sombong, sombongnya beralasan. Bagi saya lebih baik sombong asal punya bahan yang disombongin. Temen saya ini agak aneh. Sikapnya taksa. Namun saya tetap respect. Karena dia pantas di respect. Lalu saya merasa ada bara yang berkobar di dada saya. Ini metaphor yang lebay, sih. Namun cukup worthly untuk mengapresiasi hidayah yang datang se-random ini.

Semakin ke sini, saya semakin sadar kalau saya, initially, adalah manusia yang kurang bersyukur. Saya melulu bermunajat begini begitu namun gerak aja raga tak mau. Lantas di sini lah saya, sendiri sambil bersyukur sadar. Melihat genangan kopi hitam sambil berusaha tetep waras. Saya tidak bisa memastikan akan sampai kapan ini bara berkobar. Namun melihat kesombongan teman saya dan teman-teman lain yang ndelalah ada, saya merasa sedang dituntun oleh Sang-Empunya-Hidup untuk sadar diri.

Tuhan mungkin bosen ngasih kode lalu membuka telinga saya untuk mendengar aliran argumen sarat kesombongan ini.

Dan iya Gusti, sekarang saya paham. 

apa sih

Hari ini hari Jumat dan gue lagi di kantor. Gue lagi gak ngerasa apa-apa dan gue merasa tersiksa. Emosi adalah hal yang penting. Mending punya sedikit rasa daripada tidak sama sekali. Hati yang containing sejumput rasa, katakanlah, marah, sedih, seneng, terlalu seneng, motivated, atau apapun itu akan lebih baik daripada tidak sama sekali.

Hm.

Jam di komputer gue menampakkan waktu 11.59 dan gue enggak kerja. Sebelah gue ada Munthe yang lagi kerja. Gue harusnya juga kerja. Namun gue memilih enggak kerja. Santai, ini bukan karena Aya yang sedang lepas tanggung jawab. Gue akan tanggung jawab, tapi enggak sekarang. Gue bukan manusia tipe begitu. Emangnya mereka, para bajingan belum dewasa yang main ‘ahh-ahnnn-nggh’ lalu pergi meninggalkan?

G. Gue gak se-anjing itu.

Anyway. Gue kabur ke sini karena gue gak ngerasa ingin kerja. Jahad sih. Tapi ya gimana. Setulusnya, gue juga merasa berdosa. Secara gue nulis ini pake komputer kantor, LAN milik kantor, nyawa yang dititipin serta sehat yang digratisin Tuhan. Gue harusnya profesional kan ya. Gue harusnya sadar diri. Tapi gue engga. Kalau kata Kevin, “di kantor itu kerja, yang serius, jangan maen-maen gini. Punya otak gak, sih?”. Kalau kata Munthe, “elu itu kothor, ya”. Lantas sekilas mikir. Jangan-jangan gue emang kotor. Kotor hati. Kotor nalar. Kotor kesadaran.

Munthe ini, hahahaha. Maap gue ketawa dulu.

Oke, Munthe ini. Dia sepertinya adalah orang yang pertama kali gue salamin hari pertama gue masuk ke kantor ini. Gue masih inget jika gue masuk tertanggal 1 Agustus 2018. Satu hari setelah mantan bos gue di lantai atas mengabulkan permohonan resign gue. Permohonan resign gegara gue mau kerja di tempat yang sehat, tempat yang baiq tanpa ada manusia bangsat kurang sentuhan yang satu itu. Hm. Maap, jadi ngomong kothor, kan. Bangsat emang!

Oke, balik ke Munthe lagi. Nama lengkap Munthe adalah Apryanti Madah Munthe. Jujur, gue butuh waktu laik beberapa hari gitu buat memahami namanya dia. Susah. Mungkin karena nama dia emang literally susah atau gue yang hanya punya simple-shaped-brain buat mengkomputasi nama dia.

Dari tiga kata yang membangun namanya, hanya kata ‘Apryanti’ yang enggak ngebuat gue terlampau bingung. Apryanti adalah nama yang njawani banget. Jadilah gue, kepada Munthe, hanya bertanya arti kata Madah dan Munthe yang ada pada namanya. Katanya Munthe, ‘Madah’ ini adalah nama yang disumbangkan oleh Mamanya. Katanya Munthe, Madah ini diambil dari Kidung Madah Bhakti. Dia bilang Kidung adalah sebutan lain dari buku nyanyian orang Katolik. Sedangkan Madah Bhakti adalah adalah nama dari kidung itu. Jadi kidung madah bhakti adalah buku nyanyian pujian orang Katolik untuk Tuhan. Gue lalu tanya alasan Mamanya ngasih doi nama itu. Sedetik kemudian Munthe ngeliat gue sambil bilang, “Kayaknya emak gue salah deh. (Mungkin) Doanya biar gue bisa nyanyi, tapi gue gak bisa nyanyi”. Lalu gue ketawa.

Selepasnya, gue nanya arti kata ‘Munthe’. Dia bilang nama ini adalah serupa nama keluarga. Gue agak bingung. Gue orang Jawa dan gue bukan bagian dari keluarga yang punya nama keluarga. To be honest, gue juga gak tau apa itu nama keluarga. Yang gue tahu, nama keluarga itu serupa dengan istilah Marga. Gue tau orang Sumatera sering memakai nama marga. Gue sering berkontak atau mengenal marga orang-orang Sumatera seperti Ginting, Harahab, Gersang, Simbolong atau Hutapea. Namun Munthe, gue belum pernah kenal. Gue juga belum pernah ngeliat ada orang Sumatera dipanggil dengan nama marga-nya. Kalau Munthe benar nama keluarga (atau marga) kenapa doi dipanggil dengan kata Munthe, ya? Mungkin karena dibanding dari dua kata sebelumnya, Apryanti dan Madah, adalah ‘Munthe’, kata yang paling mudah diucap pun diolah dilidah? Mungkin.

Bentar, mungkin pantas gue gak kenal kata ‘Munthe’. Munthe kan bukan dari Sumatera. Dia dari Kalimantan Timur. Mungkin ini hanya perkara gue yang masih fakir ilmu sehingga hanya mampu menganalisa berdasarkan praduga. Satu fakta yang gue tau, Munthe adalah nama keluarga. Udah. Gitu aja.

Dari seluruh penghuni kantor, adalah Munthe yang jadi temen deket gue.

Iya. Jarak kita gak ada satu meter. Dia duduk pas di sebelah gue. Deket banget, kan? -_-

Maksud gue, dari 9 jam kerja dikurangi 1 jam istirahat, Munthe adalah orang yang paling sering gue ajak komunikasi. Selain karena kita sharing the same job description, dia orangnya luchu uga. Dia terkadang melontarkan kata-kata anjay sumpah gak penting tapi tetap a6a6 buat ditanggepin. Mungkin karena gue juga receh kali ya. Jadi ya gitu, ideum aja gitu sama Munthe. Munthe adalah cewek kelahiran ’94 dan artinya dia lebih tuir daripada gue. Ngomong-ngomong tentang lebih tua, kadang gue jiji’ waktu dia menyebut senior dengan kata ‘kak’, kayak, ‘kak Brayn, kak Novan, kak Kevin, atau kak Elmo’. Yakin gue jiji‘. Bukan mengapa kenapa sih. Gue cuma ngerasa lagi bareng sama cewek alay, seorang anak pramuka minta ajar cara bikin simpul, atau mbak-mbak Matahariy yang lagi attracting customer. Yaaaa, gue gak apa sih. Kan terserah doi mau manggil orang kayak gimana. Gue kan bukan Mamanya, yang ngelahirin dia, bisa ngasih dia nama ‘Madah’ lantas menikah sama papa nya. Eh

Munthe ini definisi cewek yang keliatan femine banget. Baik terbias dari cara dia nyandang, caranya ngobrol, merajuknya, atau pola pikirnya. Seriously, gue udah 23 tahun hidup dan baru kala ini berteman dengan manusia yang sebegini ‘cewek’ nya. Dia konstan datang jam 9-an pagi buat kerja. Di awal hari, dia akan basa-basi dulu sama gue lalu nanya, “Lo gak ada rencana jajan gorengan, gitu?” dan biasanya gue tolak dengan bilang, “Engga.” lalu doi bete dan pergi ke pantry sendirian. Dia punya satu buah botol berbahan kaca dengan penutup warna putih. Tinggi botolnya mungkin sekitar 18 cm dengan sticker berbunyi ‘lifejuice, better life’. Gue tau tuh kenapa ada kata ‘better life’. Gue berasumsi produsennya memakai botol kaca untuk mendorong si pemilik enggak membeli botol plastik. Mungkin doi berharap pembelinya secara gak langsung bisa mendukung program semacam ‘Save your Earth’ atau simply mengurangi supply sampah plastik yang terkadang berkandang banjir hingga bikin orang emosi. Efek riak gitu.

Munthe ini, setiap sebelum memulai kerja, dia akan mengisi botol kaca nya dengan air panas di dispenser pantry lalu membuat kopi di mug putih yang memang disediakan kantor. Dia akan meletakkan dua wadah berisi liquid itu di sisi meja sebelah kiri lalu mulai bekerja. Namun sebelum kerja, dia akan tenang selama 1 menit-an gitu buat berdoa. Gue dulu mikirnya doi Katolik, karena dia pribadi yang tenang gitu (gue selalu menafsirkan orang Katolik sebagai pribadi yang tenang dan orang Kristen untuk mereka yang actively moving. Lol), namun ternyata aku salah. Doi nya Kristen. Yang Katolik ternyata Mama-nya. Mungkin Munthe ikut Papa-nya? Entah. Munthe ini golongan darahnya A. Gue udah nebak sih. Doi gak mungkin O yang heboh atau B yang tengil. Jadi gue guessingnya, dulu, antara A dan AB. A untuk Aneh dan AB untuk Aneh Banget. 🙂

Hm. Btw kenapa gue jadi nyeritaain Munthe ya.

Hari ini hari Jumat. Jam di komputer gue menunjukkan pukul 16.16 dan gue masih enggak kerja. Gue sedih sebenernya. Gue sedih karena gue ngerasa udah wasted my life gitu. Kayak hidup gue gak guna, gitu. Tapi apa hendak Tuan berkata kalau hati hamba tiada ber-asa? Eaaaaa.

Eaaaaaaaa.

Eaaaaaaaaaaaa.

Eaaaaaaaaaaaapasih!

baper, lagi

Jangan sok jadi manusia.

Kamu gak akan pernah siap saat Dia mengucap kun.. dilanjut fayakun.. Dan apa yang kamu bangga-banggakan musnah hanya dalam satu tarikan nafas.

Dan jangan pula kamu terlampau meninggi hingga merasa punya hak untuk merendahkan orang lain.

Kamu gak akan pernah tau saat Dia mendengar doa setiap orang yang engkau hina, menjawabnya, lantas menghinakan hidupmu.

kalau bisa ngomong sayang, ngapain ngomong anjing, njing?

Kalo bisa ngomong baik, kenapa ananda harus nganjingin orang? Kalo bisa berbuat baik, ya baikin. Gak suka ama orangnya, yaudah, tinggal. Jangan dikasar, jangan dijahat, apalagi pura-pura baik terus nusuk dari belakang. Walau kata sebagian orang nikmat (fvck), tapi tetep gak baik. Bikin sakit.

 

Ngomong-ngomong, kenal gak sama Uzumaki Naruto? 

De e gak pernah tuh tahu kalo dia ternyata anak yondaime. Walau dihina dan dicerca akan kemampuan yang receh, mental Naruto tidak serta merta mengkerut dan meleleh. Dia adalah manusia diatas rerata dengan pasokan asa yang gak main-main. Dia tidak pernah bersentuhan dengan kata hina semacam ‘menyerah’ atau ‘pasrah’. Dia undoubtedly payah mengusahakan perubahan hingga hidupnya benar-benar berubah. Yang tak sering gue jumpa, Naruto adalah suri tauladan yang baik dan implikasi nyata untuk satu kata sederhana semacam ‘baik’.

Baik budi. Baik hati. Baik diri.

Baik adalah kata yang mewah. Banyak orang yang mengikat kasih hanya karena cemcemannya ini punya sifat ‘baik’. Yang perlu di notice, kata ‘baik’ tidak lah sama dengan main bekel yang bisa dilakukan hanya dengan membalikan telapak tangan. Seriously, ‘baik’ bukanlah Maybbeline yang bisa kamu dapatkan lalu dengan sombong berucap ‘I was born with it!’.

Kata ‘baik’ adalah pencapaian yang tidak minor. Gak semua orang bisa bersikap dan bertingkah ‘baik’. Kalau mau cari yang brengsek, banyak. Kalau yang baik?

Hm, sudahlah.

Susah ugha jadi manusia baik di dunia se-cruel ini. 

Pernah kebayang gak kalau seandainya dari permulaan, Naruto tahu kalau dia adalah anak seorang hokage? Gue yakin sih ceritanya gak akan seheboh ini. Gue masih inget kala SD dahulu,  gue setia mantengin Global TV cuma buat nonton Naruto. Gue rela perang sama adek gue hingga pindah ke rumah embah hanya untuk menyemangati Naruto yang kala itu sedang bertempur kontra Sasuke di lembah kematian. Gue pulang dengan bahagia sambil lari ala ninja! Gue sehebring itu! Seseneng itu cuma karna terbias anime.

Tau kenapa? Karena gue bahagia. Gue yakin sih kalau bahagia adalah aura yang bisa nular. Gue bahagia ngeliat Naruto. Gue suka sama sikapnya. Kagum sama semangatnya dan menghargai semua kegoblokan anti-mainstream yang sering dia tunjukkan. Naruto adalah sosok yang khatam memahami arti persahabatan. Saat gue ngeliat Naruto. Gue sadar kalau istilah hati yang baik adalah benar adanya.

Kita gak bisa request mau lahir dalam keluarga, keadaan, dan rupa seperti apa. Namun baiknya Tuhan, Dia mengijinkan kita lahir sambil membawa isi kepala yang bisa diajak mikir dan segumpal darah yang harusnya bisa diajak merendah dan memahami. 

Toh, kita hidup sayangnya cuma sekali, bernafas didetik ini cuma sekali, muda sekali, tua sekali dan sekalinya innaillahi wa innaillaihi diucap, pun tetap mati. Kalau bisa mati dengan baik, mbok ya yang baik. Jangan hidup melulu bikin sakit hati orang lantas matinya kena adzab kayak kisah sinetron yang sering dibroadcast Indoniar.

Sudahlah. Mari kita nikmati hidup bak Naruto yang bisa seneng hanya perkara di traktir ramen sama Hiruka. Nikmatin dengan keyakinan bahwa bahkan saat kita berada di level hidup paling kampret sekalipun, ada dzat Maha Elok yang melihat elu menye-menye galau sambil berbisik bijak, “Yang sabar, i know how you feel. Elo kuat, yang kuat ya?” 🙂

image credit: https://darrajunior.deviantart.com/art/Naruto-Ramen-76387061

apa yang diajarkan perjalanan

Wuuuup!

Feel so fresh having beached for 2 days with the crews of the place where I work. Feels so wise also to spend my last moments with ’em. Tbh, I planned not to join the event for I didn’t feel so want to. Tough well , I decided to be in, in the very last minutes, packing with no preparation, going to somewhere in Gunung Kidul Central Java, a land with uncountable beaches.

It was so different thinking that maybe this is my last –as the part of the radio time to go with ‘em. And that what makes it is worth to try.

I don’t think that I will write travel notes as before. I will say many things which makes me happy for the sad things that happened. I learned the situations. I learned the stories hide behind the smiles and laughs. Oh fuck yes, I do understand the things well.

Number one, I learned that in life, there certainly are people putting that fucking pride so high till he just can’t take the pride back even if he needs to. The result of the arrogance is that he needs to and must, do the things which support the highness of the pride or he will lick back his spit. I think, myself, it is disgusting tough I ever did the same. I think we will, sometimes, face a situation that we don’t even fancy of. We may be angry, shy and disapprove to the things that we must accept. The problem is: Do we need to express our rejection of the thing happened to us by not admitting the truth? Why do we need not to admit our real situation which may become our fate? It is tragic, isn’t it?

Number two. I believe that people will get back what he gives. It is similar to the word: Karma. I understand that karma is what get we get (bad or good) in return of our own deeds. I don’t, literally, believe karma for it is not taught in my faith, but I do understand similar interpretation for the people who do good, will get the good things from others. It comes from a magic power that no other creature can calculate but God, Allah SWT.

Okey, let’s say that I felt a heartbreak in my past as my efforts were not appreciated in a good way. It hurt me actually. I kept telling myself that he might do it for he didn’t understand the conditions. Months leaving that moment, God wiped my tears away by letting me see what happened to him. As God wants me to understand that he sees and he won’t let the bad people enjoy the result of the deed of hurting others. It satisfied me, actually.

Number three. I don’t know that being in friendship means being unfair. In friendship, we may have the ones we love better. I can’t give the same love to all of my friends. It’s a common thing, I guess. For we have different characters, we need to be understood by certain people who are able to stay beside. The people in that highlight, are the people who may understand us, that possibly to be our good friend. We can’t give help to ALL OF OUR friends, can we? We will freely help, share our problems, give our heart to a friend that we trust and I completely understand that this kind of tendency can’t be applied to all of our friends. We will unconsciously and automatically choose, feel, and decide who are close friends and Those-who-just-friends are, don’t we?

Here I do figure out –from the #picnicnotes– that: for the sake of friendship, people can indemnify the others who have the same rights to his lovely-amazingly-and-irreplaceable best friend, and THAT! What makes me feel something god lamned judgmental like, “Ok, I don’t think you are a type of friend I will fucking keep.”

I don’t understand why on earth he could not divide where he really needs to professionally stand? And to make it precisely clear, it hurts, eventually, for the people who actually have the SAME GODDAMNED RIGHTS!

Number four, do you ever find out the condition that you are being used by someone. I mean, you are dumped by someone, and on a certain occasion, she comes to your life like there is no fucking thing ever happened between you two? Did you, in your life, ever feel the things I am writing now? Okey, I need to admit that I will call my friend who are possible to help me and I will not call them if I don’t need them. I don’t communicate frequently but I keep holding our friendship to be that good. I think it is normal for the people that have the possibility of helping us may be our just friend and our relation is just that. But, calling the people only when you are in need and dumping ‘em when you just do not need them, isn’t it too cruel? I mean, you use them as they are a noun, as they are not ones of those people in our life. I learned it in my last picnic and I tell you about my writing, I feel sick hearing the story.

Boy, so poor that you are not as good as you good in your social media life!

Number five. I believe that there are 3 magic words that will make you important, making people feel so comfortable to be around. They are, Sorry, Thank You and, Please.

It is insane knowing that for a matter of your pride and your ages, you do not want, to say sorry for you make mistake, thank you for you are helped and please if you need others giving you some favors. I understand how hard it is knowing that someone who did you wrong do not try to realize the fault THAT HE MIGHT BE DONE.

Number six, I learned that we live in a world which is not that purely beautiful. We may have lied, may be hurt, and may be betrayed by the ones we truly dear. Even tough this kind of sides makes us hurt, we can still find the people who undoubtedly shares the hearts for the people around. It makes us realize that life is about making a decision. We can still decide for we want to be the people we dreamed of. We can hurt as we can love, we can hold on or just leave. I learned to be that strong, standing tall not leaving the problems I face. It make me stronger even knowing that there are other people who had the problems like mine and decide to be mature enough not going away and fix the fucking broken situation instead. We may be hurt as we are innocent and be blamed. We can just escape and let the broken be that broken. I think of escaping myself from the problem many times. It may be the way out but not making me feel better.

But i feel like it would be cool to Choose no to giving up. It is like I have the responsibility not to be childish as I have to be that patient enough, solving the broken relationships and making everything OK. I saw this kind of holding on decision in the term to maintain the relation. I ever saw the words who state something deep like:

“Being good to all of the people doesn’t mean that we are fake, we just know well, how to be tolerant.”

I saw how people tried hardly not to make a better condition of something which is getting worse. She can just leave, but chooses to stay. Can ignore but decides to care. That what I mean with being mature. Someone who is wise in thinking would not let the uncomfortable condition be still that uncomfortable. If you can make it better, is it a must to let it just that bad?

Being older is a must, but, being mature, growing up, is an option.

It was a shocking therapy, letting me know the colors of the world I’m living. But I do not ever regret living my life in this job environment. I do feel so thankful for all the pains, the things happened making me even stronger than before. It feels good knowing I have been faced the things, realizing that I am still alive lol. I love living in a different situations for it makes me more colorful and awesome 😀 😎

As long as I can take my breath, I will live and be alive. I may be fall but I will always tell to myself not to forget how to rise. I think it is good to feel the pain and beauties. Making us happy to be thankful, feeling hurt for making us realize and understand, how to learn from our or even other mistakes and doing. I think it is wise to live and learn, learning the things which are happening.

Dan dalam hidup ini kita akan selalu punya sisi pecundang. Kita memang gak selalu baik. Pengecut pun gak selalu buruk. Kita bisa kok, belajar bahkan dari seorang pengecut sekalipun. Belajar, belajar untuk tidak menjadi dia.

hutan pinus

Semuanya bermula dari sebuah kota yang bernama Klaten. Kalo berdasar jam tangan yang dipake sopir dan sesepuh saya, mas Johan Budiman -yang baik hatinya ga nguatinn- :3 :D, OTW kita saat itu menunjukkan pukul 10.30, agak melenceng dari rencana awal jam 09.30. Its okey wae sih ya, saat mblayang emang banyak kejadian yang gak bisa kita prediksiin sebelumnya.

Dolan ini adalah dolan ke suatu destinasi yang ada di Provinsi DIY. Januari ini diisi dengan mblayang ke Hutan Pinus Mangunan & Kebun Buahnya.. Yah walopun bukan kebun buah namanya kalo kita gak bisa metik!.

IDK somehow, akku suka mblayang ke tempat-tempat baru yang belum pernah akku mblayangin sebelumnya. Assik ajah, liburan, mumpung masih muda juga kan ya. 😀

Nah, ngomongin tentang mblayang ke tempat yang belum pernah dijamah dan sedang mencoba untuk bisa terjamah itu bisa nimbulin banyak banget ‘rasa’. Sebut saja keblasuk, gak bisa mbaca GPS, atau mungkin emosi yang terkadang tersulut. Sekarang rasanya malu inget betapa ngototnya akku, serasa malu deh sama Tuhan dan mas ndelul :3

Anjir saat nulis ini, niatnya sih pengen ngeshare rutenya, udah akku catet, eh la malah kehapus, tapi geh empun lah ya, i’ll try my best! :D, ;

Dari kota klaten ini kamu cukup pergi ke arah Jogja, kalo kamu udah nyampe di prambanan, kamu tinggal ambil kiri ajah di bangjo pertamanya. Seingetku kalo kamu jalan terus dan ketemu RSUD Prambanan dan SMP Muhammadiyah, kamu masih bisa dibilang aman. Dari sini lurus terus sampe ketemu bangjo, ketemu ambil kiri, ketemu bangjo lagi ambil lurus. Follow the road ajah deh ah, sampe sini kamu bakal ketemu sama polsek gaes, ada plang penyelamat yang warna ijo, kamu ambil kanan, arah ke Dlingo.

Kalo kamu udah masuk kamu tinggal lurus ngikutin jalannya ajah.. Agak jauh, jadi gak usah panik gegara gak nyampe nyampe atau takut nyasar. Ikutin jalan yang ngaspal sampe ketemu pohon beringin di tengah jalan. Agak lupa akku harus nyebut ringin itu sebagai proliman atau perenam, banyak cabangnya, yang jelas dari situ kamu ambil lurus ajah, ada juga yang bilang itu kanan, tapi kanannya itu masih ada kanan :D, amannya, kamu ambil kanan kedua dari kanan *…..

Dari situ gasss, kamu tinggal lurus terus deh yah, ketemu pertigaan, ambil kanan.. Lurussss ajah ngikutin jalan itu sampe nanti di ujung sebelah kanan kamu bakal nemuin “HUTAN PINUS CIBIBI”, kalo pinusmu mau disitu its okey, tapi kalo mau ditempat lain, kamu tinggal nglanjutin perjalananmu lagi.. Fakta yang akku tau, disini hutan pinusnya gak cuma satu spot sajah, ada 2 yang utama gaess, jadi gak usah buru-buru panik cuma gegara kamu ternyata misah sama temen dan punya anggepan masing masing 😀

kamu : “kamu dimana?”

temen : “akku udah nyampe di hutan pinusnya.”

kamu : “akku juga udah, di parkirannya nih”

temen : “loh ya, akku juga udah, kok kamu gak ada, kamu dimaanaa?”

kamu: “njir! akko di parkirannya! akko gak liat elu, nyasar kemana luh!”

temen : “gueee dah disini nyetttt!

*dan percakapan pun berlanjut sampai semua hewan di bonbin keluar atau sinyal yang tiba-tiba wafat———

Okeeh, lanjut ke pinus yang kedua, disini udah ada lahan parkirnya, Rp.3000 untuk sepeda motor, akku gak notice untuk mobil sih, tapi dikira-kira sendiri ajah bisa kali ya .. 😀

Hutan pinus ini lumayan enak, pinusnya bisa tinggi, kalo kamu liat keatas serasa langit bergorden dengan dedaun hutan pinus yang ngebuat suasana serasa rindum :3. Hutan pinus ini juga asiik, banyak orang kesini buat nyari spot buat foto prewed, kalo foto prewed mau yang gak gitu gitu aja, biasa dicoba deh ya ke sini.. Disini uddah ada tempat duduk buatan yang kayakknya dibuat dari batang pinusnya sendiri. So its cool gaes…

Saran ajah deh ya, kalo mau liburan itu, kalo mau hemat, usahakan bawa air atau makanan sendiri. Yahh, di tempat wisata harganya bisa jadi kontrofesi yang sayangnya ga bisa dikasusin kayak BBM. 😀 *kitaharusnerimaaja! :3

Lanjut lagi dari pohon pinus ini, kamu bisa mampir sekalian di kebon buah Mangunanya, kamu ga perlu pusing cari jalannya, banyak petunjuk yang udah terpasang kok yahh..  Disini kalo kamu kekiri kamu akan ketemu sama bapak-bapak unyu yang siap buat ngrampok uang ngelayanin kamuhh. Januari, tanggal dua puluh lima tahun 2015. Tiket masuknya sih Rp. 5000,- *PERORANG! loh ya, bukan permotor, PERORANG! * -_- . Kalo kekanan, kamu kayakknya bakal ketemu sama Kebon buah dalam arti yang sebenernya (Sayang waktu itu akses kesana terhalang cuma gegara sebentang tali rafiahh yang ngebuat semuanya mikir, lagi ditutup) *Entah buat itu.

Kita sebenernya bingung juga, apakah belok kiri dan dirampok tadi, adalah kebon buahnya?, kalo iya kenapa bisa akku liat buah dalam arti denotasi dijalan yang kanan yang ditutup tadi, *ahh, lupakan, mungkin akku yang alfa saja -_-

Setelah masuk, jalannya agak nanjak, gunakan perseneling ya gaess, , Maybe, skill balapan kamu, bisa kamu gunakan saat disinih.. Anyway, kalo kamu udah dipucuknya mblo, seems that you wont regret it! dipuncaknya serasa indah, pemandangannya lumayan great!. Kalo dari atas, kamu serasa bisa ngeliat terusan Suez ala Mangunan! :D. ITS HARD TO EXPLAIN BUT IM GONNA UPLOAD THE PHOTOS ! 😀

malaikat pun, tahu

Your weary mind becomes mine, too.

Even your blissfulness, I feel it too, for you

Sharing every fate, we just can’t miss it even for a moment.

But when you’re enamored

For this certain time, my strengths, they are just running empty.

Attesting to you, there is something real, love.

Invariably come

Can’t fight my feeling to let you alone.

Even tough, oftentimes, you are busy with your own world instead.

Because you just couldn’t see that sometimes, an angel.

Having no fucking wings, not glancing, not even have that beautiful face.

However baby, this love, You may compare or compete.

The angel, he even knows, who is gonna be the Champion..

Your emptiness wont evanish for just a night

Disappeared for your dreamed girlfriend

But by an opportunity, for me, that might be not perfect

But fuckin’ ready to be tested

Im totally confident that,

This is mine, which completely true.

 

But you are just not able to see, that sometimes an angel,

Having no fucking wings, not glancing, not even have that beautiful face.

However baby, this love, You may compare or compete.

The angel, he even knows, who is gonna be the champion

You want to be accompanied constantly

Wishing if it was possible to change my face. You teased me such a thing, all the times.

Letting me go

Cause you just can’t stay alone

But you are just not able to see, sometimes an angel,

Having no fucking wings, not glancing, not even have that beautiful face.

However baby, this love, You may compare or compete.

THE ANGEL, HE EVEN KNOWS, I’M GONNA BE THE CHAMPION.


Malaikat Juga Tahu – Dewi Lestari.

Yang entah kenapa akku membuat ini post buat manusia yang satu itu. Yang kekeh banget megang egonya, yang gak mau ngalah !. Yang dengan setiap lagu ini, akku yakin, akku yang bakal jadi juara atas keegoisannya! Haufffttt *ngelusdada

radio

Pernah tiba suatu ketika. Ada teman saya yang mengajukan tanya. Ucapnya, “Cowok yang romantis menurut kamu, yang gimana, nay?”

Ditemani deruan motor didepan alun-alun Klaten sore itu. Gue mencerna pertanyaan dia teramat keras. Lama nian. Hati mulai bosan.

Nah. Anggap saja gue gagal menjawab pertanyaan dia waktu itu.

Sehari setelahnya. Saya tetiba meletup dan tiada kuasa menguasai amarah. Iya, saya salah. Namun juga tak begitu parah. Saat itu juga, kalau tiba saya dihadapkan kepada question mark yang sama. Saya bisa akhirnya berkata,

Lelaki romantis, menurut saya. Adalah dia yang entah bagaimana caranya. Mampu dan memampukan diri mengukir pelangi terbalik diwajahku. Saat badai sekalipun.

My life is brilliant

My life is pure

I saw an angel

Oh. that I’m sure.

Kalau hanya membungkam mulut untuk diam kala saya sakit. Itu mudah. Mari berlomba sekalipun? Saya siapKalau hanya berkorban, berpeluh, berdarah sekalipun. Untuk sesuatu yang saya cinta. Yang gue eman-eman. Bisa kok, saya perjuangkan.

Tanya saja sana. Pada setiap wanita yang pernah engkau kenal. Yang kau tahu?

Sekuat-kuatnya mereka. Apa mereka tak membutuhkan beberapa centimeter bahumu saat mereka sedih? Sekeras apapun mereka berusaha untukmu. Saat kamu tak tau betapa lelahnya dia berpeluh. Dia akan selalu bilang “ga papa” dengan santainya.

Tapi. Pernah gak sih, sedetik saja dalam egomu untuk mengalah dan menyapa dia? Sekedar bertanya, “kenapa?” Sekedar basa-basi saja. Semudah kamu mengucapkan tiga suku kata itu ? Bisa, kah?

Sekecil apapun usaha kamu. Setiap wanita pasti akan mengapresiasi lebih dari apa yang sudah Anda korbankan. Untuk setiap luka, as the time goes, dia akan melupakannya, kok! Pasti. Walau kadang, apa yang kau lakukan sekedar semu, membuang nafas untuk bertanya “kenapa?“

Atau mungkin kau, saat membenci dia sekalipun. Pernahkah kau berfikir mau berteman dengannya untuk suatu sama yang ada pada dia. Apakah kamu berteman untuk dengan hebatnya memahami bahwa setiap insan itu berbeda. Seandainya saja Anda paham bahwa tidak ada satu wanitapun di dunia ini. Yang mampu dengan ikhlas tersenyum saat dibandingkan dengan orang lain. Dibandingkan untuk sekedar hal kecil yang Anda gak suka dari dia yang mungkin ada lebih baik di orang lain?

Ahhh! Apa harus ambil kursus belajar menghargai orang?

Kalo seperti ini kasusnya. Silakan ikuti arus yang tak nyata saat ini. Jaman dimana kesempurnaan hanya ada di majalah yang di photoscaped atau postingan diri yang sering Anda indah-indahkan. Muak!

Terlepas dari Anda dan setiap orang yang old thinking tentang yang namanya perbedaan. Apakah A harus selalu persis terbentuk A jika ditulis oleh dua orang yang berbeda? Apakah A harus selalu diukir dengan tegak lurus untuk dua orang yang salah satunya kidal? Apakah jika A yang paman saya tulis tidak serupa dengan A yang saya tulis menandakan A yang satu diantara dua itu adalah lebih benar daripada yang lainnya? Apakah ada aturan gamblang atas apa-apa yang menjadi pilihan hidup, sifat dan sikap yang harus semua orang tunjukkan di depan umum? Apakah harus selalu seperti itu?

Aduh. Sudahlah. Ego untukmu agaknya terlalu sulit untuk beberapa detik saja kau hilangkan.

Satu hal yang absolut. Saya tidak akan mengubah diri saya to fucking please you. 

Silakan benci, komentari perkara cara saya berbicara, menyandang, atau konyolnya saya bertingkah. Saya hanya manusia yang punya sisi beda. Saya bersikap begini karena ini yang saya nikmati. Saya bukan orang baik yang peduli apakah Anda akan menerima atau tidak. Tidak juga menjadi concern saya. Jadi tak apa.

 

Sudahlah. Bacot juga lama-lama.