i give it to god, and go to sleep.

//Audio Blog//

 

Tertekan/

Kata orang, aku sedang jatuh cinta.

Kata bunda, aku harus hati-hati.

Kata koran, aku bisa diperkosa.

Entah karena asmara, lalu melecehkan norma,

Entah aku yang berbahaya, kurang tegas jadi wanita.

 

Aku merenung lantas berdoa.

Semoga aku dilindungi.

Dari bisikan setan yang mengatakan, “Sudah, kejar.”

Atau kebakaran hati yang meraung-raung ingin dipertemukan.

 

Kata orang, aku sedang tidak stabil.

Aku buta, katanya.

Entah karena tak mengenal tapi mengikat.

Entah karena dungu, memilih begitu.

Serupa khamr yang dosa, menumpulkan logika.

Bagai aku yang sepertinya mencintamu namun diminta waspada.

Entah, apa yang harus diresahkan dari hati yang merasa?

 

Hatiku kaku di persimpangan.

Membeku perih, diminta bertahan.

Ingin memeluk tapi dihalang-halang.

Pilu!

 

Katakan, aku bisa apa jadi pecinta?

 

 

Rokok/

Aku suka memandangmu saat kau melamun.

Kau seksi.

Entah, jarang sekali aku menyebut manusia seksi.

Benar kiranya Tuhan meminta, “Jaga itu pandangan.”

Adalah kadar mauku yang tidak sekadarnya.

Adalah musebab otakku penuh hal nakal.

 

Aku suka melihatmu terdiam.

Nampak kesepian namun bukan.

Kau hanya memuja ketenangan.

Dengan aku yang tak apa membunuh waktu.

Membunuh kewarasanku.

Asal bersamamu.

 

Aku suka mengamatimu saat kau berjalan.

Saat kau butuh waktu luang, dan keluar.

Saat kau melangkah lalu tetiba berhenti.

Yang kembali saat kau kelupaan.

Yang bingung saat ada yang hilang.

Yang kau canggung, lalu lucu.

Yang bagaikan paket komplit.

Ditolak gak mungkin.

Dikejar sulit.

Kau menyebalkan.

Begitu menggemaskan!

 

Aku suka menatapmu merokok.

Saat kau menyulutkan api kepada ujung yang penyakitan.

Yang menyala lalu kau hisap.

Yang kepalamu menengadah ke atas.

Lalu asap mengepul tinggi.

Lalu kau kelihatan ranum.

Dadaku sesak melihatmu begitu.

Aku jadi ingin mencium-mu.

 

 

Rencana/

Katamu kau suka sendiri.

Menonton film yang sudah kau kotak-kotakan.

Atau bermain dengan kucing liar yang kau selamatkan.

Aku sedih, aku kesepian.

 

Katamu kau mau menapak Roma bersamaku.

Kala itu aku memaksa, dengan senyum berlebihan.

Harapanku juga berlebih.

Kau mengiyakan walau aku melihat ragu.

 

Belum lepas sebulan, kembali ku konfirmasi.

“Masih niat main ke Roma?”

Kau bilang, “Maaf tidak, aku ada hajatan.”

Ku tempel tawa di bibir, getir di hati.

Matamu tak pernah berbohong.

Dan hatiku tak pernah berdusta.

Maaf, aku cuma cinta, harusnya tak memaksa.

 

 

 Loggia/

Tiap matahari datang dan embun wafat, menguap.

Aku tersenyum, beralasakan harap.

Aku bersyukur.

Hatiku selamat, bebas sekarat.

 

Tiap temanku sibuk, mengantri atensi.

Aku resah, apa kau sudah makan?

Kau terpaku pada pekerjaan.

Dengan sesekali bersosialisasi.

Waktu aku bilang, sesekali, itu adalah ungkapan denotasi.

Karna basa-basimu tak bertahan lama.

Kau memilih berpusar ke cangkangmu.

Dan sibuk mengurusi negara.

Dengan aku yang sibuk mengurusmu, dalam metafora dan sendu-sendu udara.

 

Tiap aku keluar dan menikmati panas yang suam-suam.

Aku lihat kau makan.

Hah. Betapa-ini-merepotkan-Tuhan? 

 

Lalu aku bermain peran. Drama.

Apapun asal tujuanku tercapai.

Jahat, kah? Aku sih bilang ini berjuang.

 

Kita berbincang hingga terang tak kelihatan.

Malam.

Dan kau pamit, pulang.

Katamu, “Badanku tak kuat.”

Kau tak mampu melawan alam.

Aku tak mampu memaksakan niatan.

Lalu aku sok mengusirmu.

Bilang, “Mamamu mencarimu, segera lah pulang.”

Kau lantas bilang.

Baik. “Kau juga, segera lah.”

Aku hanya bilang, tenang.

Lalu kau benar-benar berkemas, hilang.

 

Tentu saja aku jadi sendirian.

Duduk, memandang langit.

Angin di luar melewatiku sambil mencemooh.

“Kau, pecundang.”

 

Aku hanya tertawa.

 

 

Tuhan/

Lalu aku mulai berbincang tentang Tuhan.

Topik yang religius? Jelas.

Tentang kawanku yang terkadang nyeletuk, “Elu yakin?”

Yang aku hanya bilang, “Lihat nanti aja gimana.” 

Tak lupa dipungkasi dengan tawa.

Biar keliahatan tegar.

Bakoh.

Padahal njero ati koyo sapu jiting tanpo tali,

Ambyar!

Wkwk.

 

Bismillahirrahmanirrahim

Kalau di-Indonesia-kan, “Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang.”

Ini kalimat mahaelok.

Sering disebut setiap memulai suatu kebaikan.

Aku pun suka menyebut ini saat berdoa.

Karena mendoakanmu, untukku, adalah bagian dari kebaikan.

Terkadang, semesta seakan mengingatkan, “Mimpimu itu, gak mungkin kejadian.” 

Aku, sebagai manusia seperti kebanyakan, tentu aku baper.

Lalu aku mengadu pada Tuhanku.

Lalu aku berdoa.

Meminta pada Yang Punya.

Meminta pada Yang Kuasa.

Meminta pada Yang Memampukan.

Menulikan diri atas dunia dan semua asumsinya.

Menyerahkan harapku pada Tuhan.

Lalu tidur.

 

 

 

 

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ

“Dan Tuhanmu berfirman, “Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu..” (QS Al-Mu’min: 60).
(لاَ يَرُدُّ الْقَضَاءَ إِلاَّ الدُّعَاءُ، وَلاَ يُزِيْدُ فِى الْعُمْرِ إِلاَّ الْبِرُّ) -الترمذي-

“Tidak ada yang mampu menolak takdir Allah kecuali doa, dan tidaklah menambah usia kecuali kebaikan”. (HR. Tirmidzi)

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s