goblokgasm

CINTA, KATANYA? Wkwk. 

Pernah sadar gak sih, saat kita sedang jatuh cinta, kita benar-benar jadi orang lain.

Suka sama orang, dan semua indra kita tetiba bisa bekerja dengan lebih baik. Saat lagi mendamba, maka semua kegiatan dan hal kecil yang dia lakukan berubah menjadi semacam candu. Rasanya seperti diperbudak perasaan. Pengen cuek tapi gak bisa. Pengen diperhatikan tapi takut ngeganggu.

Benar kata Raisa, serba salah. 

Ya mau gimana lagi, namanya juga urusan hati. Apalagi kalau sudah cinta hingga mulai lancang ingin tahu. Kita jadi manusia yang mengganggu. Serupa lalat madu yang nempel di es dawet. Semuanya jadi ruwet. Semuanya harus serba de e. Kita harus tahu apa yang dia makan, apa yang dia suka, kenapa dia sering berangkat pagi, kenapa dia hidup, kenapa dia suka menyendiri, kenapa dia suka pakai sepatu warna hitam, dia punya berapa saudara, umur berapa saudaranya, sebelum bobo’ dia ngapain ya. Dia meluk guling gak ya. Eh kok dia diem sih?  Dia kenapaaaa?

Repot, bosqu? 

Kita jadi repot, ngrepotin diri dengan kepo. Jadi hollow lalu bego. Begitu hebring hingga lupa sama kerja. Kabeh kegiatanmu isine gur halu. Kita jadi aneh. Suka senyum saat dia bercerita. Ketawa dengan guyonan recehnya. Mendadak sedih saat dia sakit.

Itu belum kalau dia digosipin deket sama cewek lain lalu kamunya baper. Baper meradang lalu sedih. Sedih berlarut namun confused harus gimana. Semakin remuq kalau manusia yang kamu suka ternyata gak peka. Entah gak peka atau pura-pura innocent. Entah innocent atau dianya pemalu. Entah pemalu atau dianya yang gak suka sama kamu. Wkwk

Yang lucu (dan kekanak-kanakan), saat suka sama orang, kita bertendensi untuk menampakkan sikap yang kontradiktif. Sok-sok an cuek padahal peduli. Bertingkah santai padahal tegang. Pura-pura gak tahu, pura-pura butuh bantuan, pura-pura nanya padahal modus! 

Hm. 

Katanya, cinta itu goblok. Yang goblok bukan cintanya. Yang goblok ya manusianya. Makanya banyak sesepuh bijak menyarankan, cinta itu pakai hati, jangan kepala. Sedianya jika patah, yang hancur biar hatinya saja, jangan pola pikirnya. Patah hati lalu ngegalau dengan lagu semacam Adele-Someone Like You nampaknya masih normal. Namanya juga sayang lantas gagal. Kalau hatinya hancur dan butuh waktu lama buat mengheningkan cipta, kan ya gak papa. Toh kita manusia. Yang punya rasa punya hati. Jangan samakan dengaaan pisau belati~ -_-

Di dunia ini, mungkin ada manusia yang belum pernah jatuh cinta secara romansa. Tapi gue hayaqqul yaqin, sedingin-dinginnya hati manusia, pasti ada masanya dia ketemu satu manusia, dan hatinya bergetar seketika. 

Mungkin menurut hemat mereka, jatuh cinta itu serupa mukjizat: gak semua orang dapet. Kayak Nabi Isa yang atas ijin Allah bisa menghidupkan orang mati, atau Nabi Musa yang bisa membelah lautan Teberau lantas nyebrang selaaw macam jalan tol. 

Semacam Momochi Zabuza yang katanya gak punya perasaan lalu membunuh seluruh rekan se-ujian ninja. Zabuza bilang, dia itu sosok makhluk yang gak punya hati. Walaupun begitu, ketika Haku mati, Zabuza yang katanya gak punya perasaan ini nangis. Zabuza bilang, Haku nanti bakal masuk surga. Karena Haku punya hati yang baik. Gak kayak dia yang terkutuk dan siap nyemplung ke neraka. Terlepas dari Zabuza yang sadar bakal pisah dunia sama Haku, toh dalam doa terakhirnya, dia masih berharap dia bisa pergi ke tempat Haku, hidup bareng di tempat yang sama dengan Haku.

Sedih gak sih? Kalau gue sih sedih.

Hm.

Namun kembali lagi, gue hanya bercerita sebatas ilmu rendah saja. Gue gak tau hakikat cinta itu seperti apa. Yang gue tahu, cinta itu seperti Bunda yang tetiba datang ke kamar lantas bilang “Tak gawekke wedang teh ya nduk? Panas lho teh e, kentel, teh jawa lho, senenganmu.” (Ibuk buatin teh ya? Mumpung teh-nya masih panas, kental, teh jawa (merek teh) lho, kesukaanmu, kan?) Respon gue? Gue hanya pura-pura ceria lantas bilang “Iya dong. Mauuu.” Gue bilang begitu sambil menahan air mata yang bergelut sewenang-wenang di ujung netra. Gue gak tau kenapa gue pengen nangis. Mungkin ini bentuk reaksi hati atas cintanya Bunda? Gue gak tau.

Mungkin cinta itu seperti bapak-bapak penjual tisu yang ada di JPO Transjakarta. Terlepas dari berjualan di JPO itu dilarang. Terlepas dari display yang dia gelar itu gak menarik dan mungkin jarang dilirik orang. Gue mencoba mengerti walau gue juga sebel karena okupasi pedagang di JPO ini a little bit ngeganggu pejalan dan penyebrang. Gue terus-terusan mencoba memahami bahwa hidup orang itu beda-beda. Mungkin dia ini kepala keluarga. Mungkin dia gak tahu atau gak ada cara lain untuk make a living selain berdagang di JPO atau trotoar. Mungkin itu bentuk usahanya untuk menghidupi keluarga dan menyekolahkan anaknya? Gue gak tau sih, kan gue gak kenal. Tapi kalau iya, semoga lebih baik hidupnya, dikuatkan perjuangannya.

Dahulu, waktu gue masih SMK. Temen gue punya pacar. Saat itu adalah masa-masa sebelum ujian nasional. Temen gue ini, gue liat-liat sering gelisah. Dia gak pinter-pinter amat. Tapi dia baik. Hingga, setelah lama menduga di ujung sangka, gue akhirnya tahu kalau temen gue ini lagi hamil.

Hamil, belum lulus, dan belum nikah.

Gue hanya menyimak sambil mencoba ber-open minded. Mungkin dia punya alasan mahabijak semacam “Kita sama-sama sadar kok ya, kita sama-sama cinta, dan kita akan nikah pasca lulusan.” Kalau alasannya semacam ini mungkin gue gak akan sebel-sebel banget. Yang ironi, waktu ditanya kenapa sedih dan kenapa mau berhubungan badan diluar nikah, dia cuma gelisah sambil berucap “Ya gimana lagi, pacar gue bakal mutusin gue kalau gue gak mau.”

Bangsat.

Rasanya pengen menghujat. Entah menghujat lelaki yang menginterpretasikan cinta serendah itu, atau menghujat temen gue yang gak bisa tegas jadi cewek. Gue sedih karena dia buta menilai dirinya. Gue sakit hati karena dia harus merelakan perawannya untuk lelaki rendahan yang taunya cuma konak lalu main ngangkangin anak orang. Gak ada kualitasnya, gak ada yang bisa disombongin selain ngebacotin cinta murahan sebagai passing ticket untuk memuaskan ereksi.

Namun terlepas dari dosa, hamil, nilai UN yang minim serta hal-hal domino yang lainnya. Gue teramat menyesali temen gue yang tidak mampu melihat betapa berharga dirinya.

Dia tidak mengingat bahwa dia adalah anak kedua orang tuanya. Kebanggaan mereka. Anak yang digadang-gadang sebagai penerus keluarga. Seorang wanita. Yang cantik, yang tak kekurangan, yang bisa merasakan pendidikan, yang dipenuhi kebutuhannya, yang bisa makan tiga kali sehari tanpa puasa yang tak semestinya, yang punya mimpi, yang jadi kesayangan.

Gue gak mau mengurusi dosa karena itu urusan dia dan Tuhan. Gue gak akan ngomongin masa depan, karena kita gak pernah tahu skenario apa yang bisa Tuhan catatkan untuk setiap manusia-Nya, yang gue sayangkan, adalah temen gue yang tidak bisa mempertimbangkan bahwa dia adalah pribadi yang ada harganya. Pribadi yang mahal, yang seharusnya kalau dia gak ikhlas, dia gak harus menukar bahagianya hanya dengan beberapa jam kesenangan di atas ranjang.

Cinta?

Gue insyaallah percaya kalau temen gue ini cinta mampus sama pacarnya.

Lantas apakah salah?

Enggak. 

Yang salah adalah dia yang keliru mengambil langkah, yang salah adalah dia yang goblok memilih pacar, yang salah adalah dia yang luput menyadari betapa berharga harga dirinya.

Jika cinta itu indah dan mengindahkan. Seharusnya temen gue ini gak harus nangis dan gelisah kalau dia hamil di luar nikah. Kalau cinta itu tenang dan menenangkan. Seharusnya temen gue ini tidak buta dan melakukan hal yang tidak ingin dilakukannya.

Katanya, cinta adalah pengorbanan. Maka seandainya pacarnya temen gue ini paham konsep cinta. Seharusnya dia bisa menerima kalau hubungan badan bukanlah satu-satunya hal yang dikejar saat pacaran. Lagipula hubungan sex yang dibenci Tuhan paling cuma bertahan beberapa kali orgasme dan sudah. Lebih banyak sedihnya daripada ena-nya. Kalau memang cinta ini pengorbanan, kenapa nggak sadar diri dulu sih. Sadar keadaan pribadi yang belum siap, lalu menyiapkan diri. Sadar kalau kegiatan itu akan dimarah Tuhan lalu bisa tegas menolak untuk tidak.

Takut melukai pacar? Walau kisah cinta gue dulu gak indah-indah amat (syit), namun gue yakin bahwa cinta itu adalah perkara memahami. Kalau pacarmu menolak memahami, mungkin kamu salah milih pacar. 

Cinta itu serupa kata Magnificent. Lebih indah dari kata amazing, beautiful, lebih kuat effectnya hingga penutur aslinya bahkan enggak mampu menjabarkan besarannya. Dalam hidup ini, terkadang ada beberapa hal yang emang dari sananya tidak bisa  dijelaskan dan hanya boleh dirasakan. Mungkin, memang baiknya seperti itu. Lebih privilege.

Gue yakin kalau cinta adalah perkara yang signifikan. Cinta itu gak akan merusak apalagi merendahkan. Dan jika memang cinta yang kita alami itu indah maka seharusnya kita akan bahagia bercerita tentang sumber keindahan itu. Kita harusnya bercerita dengan tone yang ceria, bukan malah gelisah atau merana.

Pernah sadar gak sih, saat kita lagi jatuh cinta, maka kita benar-benar jadi orang lain. Kita jadi manusia yang begitu mengagungkan orang yang kita sayang hingga tingkat penggunaan logika kita menurun, jatuhnya goblokgasm.

Setiap orang yang lagi jatuh cinta kayaknya akan menghadapi fase goblokgasm ini. Ada yang bisa bertahan lalu bersama, ada yang tenggelam lalu merana. Pilihan hidup sih. Itu juga alasan Tuhan meminta umatNya buat berdoa. Biar selamat dari kegoblokan hidup ini. Kita kan makluk lemah. Kesandung dikit aja, jatuh. Disindir dikit aja, baper. Ditabrak truk sekali aja, mati. —Maka alangkah bijak saat jatuh cinta, kita berdoa. Merayu Tuhan agar dilancarkan segala rencana, dan kalaupun lagi goblok dipecundangi perasaan, kita masih tetap waras lantas menang. Wkwkwk

“Katakanlah: Aku berlindung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia, Raja manusia, sembahan manusia, dari kejahatan (bisikan) setan yang biasa tersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dada manusia. Dari (golongan) jin dan manusia” —An Naas: 1-6.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s